Mengenal 5 wilayah adat yang ada di Provinsi Papua

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kawasan Biak Numfor yang masuk wilayah adat Saereri (Ifnu Setyadi Gunawan/Flickr)

Pulau dan Provinsi Papua sedang jadi perbincangan hangat saat ini. Hal tersebut lantaran adanya rencana pemekaran sebanyak tiga provinsi dari yang sebelumnya sudah ada. Adapun tiga calon provinsi baru meliputi Provinsi Papua Selatan, Provinsi Papua Tengah, dan Provinsi Papua Pegunungan Tengah.

Yang menarik, pembagian Provinsi baru itu juga ditetapkan berdasarkan kawasan wilayah adat yang ada di Papua. Di mana sebenarnya ada sebanyak lima wilayah adat di sana. Awalnya pun, pemekaran yang diajukan terdiri dari lima provinsi baru, sesuai dengan masing-masing wilayah adat yang ada.

Tapi karena belum mencapai kesanggupan fiskal dari pemerintah, pemekaran tahap pertama baru mencakup tiga wilayah adat terlebih dulu.

Apa saja lima wilayah adat yang sebenarnya ada di Provinsi Papua? Berikut penjelasannya.

1. Wilayah adat Mamta

Ondoafi pemimpin wilayah adat Mamta (it’s smile/Flickr)

Wilayah adat pertama ini meliputi Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sarmi, dan Kabupaten Mamberamo Raya. Satu hal yang membedakan wilayah adat Mamta dengan wilayah adat lain, yakni sistem politik tradisional kepemimpinan dengan nama ondoafi.

Salah satu ciri utama dalam sistem ondoafi adalah adalah pewarisan kepemimpinan. Sebagai contoh, bila seorang ondoafi meninggal maka jabatan akan diwariskan kepada salah seorang dari anak-anaknya. Biasanya anak yang dimaksud merupakan anak laki-laki yang tertua.

Berada di daerah pusat pemerintahan Provinsi Papua, wilayah Mamta telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan sektor industri, perkebunan dan pariwisata. Di Kabupaten Keerom dikembangkan Perkebunan Sawit, Coklat, Peternakan Sapi, Perikanan Budidaya, dan Tanaman Pangan.

Sementara itu untuk Kota Jayapura dikembangkan Hortikultura dan Peternakan Ayam. Saat ini di Kabupaten Sarmi dikembangkan Perkebunan Kelapa seluas 361 hektare, cokelat, dan perikanan. Di Kabupaten Mambramo Raya dikembangkan perkebunan sagu seluar 60.000 hektare, pisang dan perikanan.

  Langkah bangun desa mandiri dan lestari, apa yang perlu dilakukan?

Sedangkan untuk Kabupaten Jayapura dikembangkan perkebunan cokelat seluas 13.342 hektare, hortikultura, dan peternakan ayam.

2. Wilayah adat Saereri

Distrik Numfor di wilayah adat Saereri (Michael Thirnbeck/Flickr)

Saereri adalah wilayah adat kedua yang dihuni oleh suku-suku yang hidup di wilayah utara Provinsi Papua, khususnya di daerah pesisir. Karena letaknya pula, kawasan satu ini menjadi pusat pengembangan industri kelautan seperti rumput laut dan perikanan tangkap.

Wilayah adat satu ini meliputi Kabupaten Biak Numfor, Supiori, Kepulaun Yapen dan Waropen.

Salah satu suku yang mendiami wilayah adat satu ini adalah Suku Biak Numfor. Orang Biak sejak dulu menyembah dewa persatuan dan pujaan mereka yaitu ’Manseren Koreri’, yang kemudian dikenal dengan nama ’Manarmakeri’.

Ada cerita menarik di balik kepercayaan tersebut, di mana Manarmakeri rupanya adalah nama panggilan berupa penghinaan. Sosok tersebut digambarkan sebagai orang tua yang berkudis, borok, dan kotor yang menyebabkan banyak orang jijik kepadanya. Nama asli dari Manamakeri sendiri diyakini adalah Yawi Nusyado.

Meski begitu, Manamakeri disebut selalu membuat tanda-tanda ajaib yaitu dapat menggantikan kulitnya yang berkudis, kadas, dan borok menjadi makanan dan harta kekayaan yang berlimpah ruah. Lain itu, ia juga kerap dipuja sebagai juru selamat.

3. Wilayah adat Anim Ha

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Merauke Heritage (@merauke_heritage)

Meliputi kawasan Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappi. Wilayah adat Anim Ha merupakan wilayah terluas sekaligus kawasan terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

  Buah merah, tanaman prasejarah yang penting bagi masyarakat Papua

Marind Anim, adalah nama suku yang menjadi tuan rumah di tanah datar ini. Suku tersebut terdiri dari tujuh marga besar yakni Gebze, Kaize, Samkakai, Ndiken, Mahuze, Balagaize, dan Basik-basik.

Menurut penjelasan J Van Baal dalam karyanya, ‘Dema’: Description and Analysis of Marind Anim Culture’, dahulu Suku Marind atau Malind punya kepercayaan terhadap dema. Dema sendiri adalah roh yang dipercaya bisa menjelma sebagai apa pun di alam, baik manusia, binatang, tumbuhan, atau batu.

Mereka percaya jika semua alam semesta berasal dari dema, yang muncul berupa kekuatan gaib dalam alam, atau berupa roh-roh orang mati. Semua itu juga terkait dengan konsep mereka tentang totemisme.

Totemisme sendiri adalah agama mempercayai adanya daya atau sifat ilahi yang dikandung sebuah benda atau makhluk hidup selain manusia. Karena itu biasanya terdapat sejumlah makhluk yang disakralkan seperti yorma (dema laut), wonatai (totem buaya), yawi (dema kelapa), dan lain-lain.

4. Wilayah adat La Pago

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by _WanimboMagey’∆NGGY_ (@akelombok_88)

La Pago terdiri dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah pegunungan tengah sisi timur. Kawasannya mencakup Kabupaten Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Lanny Jaya, Tolikara, Nduga, Puncak Jaya, Yalimo, Yahukimo, Membramo Tengah, dan Kabupaten Puncak.

Di daerah ini lah dijumpai masyarakat yang biasanya memiliki pakaian adat koteka (penutup penis) bagi kaum laki-laki. Koteka tersebut biasanya terbuat dari kunden kuning. Sementara masyarakat perempuannya menggunakan pakaian “wah” yang terbuat dari rumput atau serat.

  Ekowisata mangrove di Kepulauan Riau, cara jaga hutan agar bermanfaat bagi masyarakat

Contoh suku yang mendiami kawasan adat ini adalah Suku Dani, Suku Nayak, Suku Nduga, Suku Yali. Lebih detail membahas salah satunya yakni Suku Yali, mereka memiliki kepercayaan menyembah ular. Persembahannya dilakukan dengan memotong babi kemudian darahnya diletakkan di daun keladi. Sementara itu dagingnya dimasak lalu diberikan ke ular.

5. Wilayah adat Mee Pago

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Dgm Silla (@amadysil76)

Wilayah Mee Pago meliputi Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Nabire, Intan Jaya, Paniai dan Mimika. Hampir seluruhnya masyarakat yang hidup di kawasan ini berasal dari suku yang sama, yaitu Suku Mee.

Mee sendiri memiliki makna sebagai orang-orang yang telah dipenuhi dengan akal budi yang sehat. Mereka mentaati amanat-amanat yang diwariskan oleh leluhur, dan amanat paling utama yang dilarang adalah hal perzinahan.

Suku Mee mempercayai dunia mereka itu diciptakan oleh Ugatame. Dunia yang di ciptakan Ugatame ini terdiri dari lima unsur yakni roh, manusia, binatang, tumbuhan, dan benda benda tak berjiwa.

Pola perkampungan masyarakat Mee tinggal dalam desa yang membentuk suatu federasi desa sebagai kesatuan politik terbesar. Tiap federasi tersebut dipimpin oleh orang yang disebut Tonowi. Tonowi sendiri memperoleh kekuasaannya karena banyak memiliki orang yang tunduk dan setia kepadanya.

Namun yang menjadi catatan, para pengikut atau orang yang tunduk bukan dimiliki karena paksaan, melainkan kemauan. Mereka biasanya tertarik pada kedermawanan, kepandaian dalam berperang, serta fasihnya seorang Tonowi dalam berbicara.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya