Mengenal padi Rojolele Delanggu dan upaya memulihkan eksistensinya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Budidaya padi Rojolele Delanggu (Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS)

Sebagai negara yang menjadikan beras sebagai makanan utama, tak heran jika tanaman padi berperan penting bagi masyarakat Indonesia. Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian dunia (FAO), Indonesia berada di peringkat ke-3 sebagai negara penghasil beras terbanyak di dunia.

Secara garis besar ada tiga jenis tanaman padi penghasil beras yang dibedakan berdasarkan varietas. Ketiga jenis padi yang dimaksud terdiri dari varietas padi hibrida, varietas padi unggul, dan varietas padi lokal.

Sayangnya, jenis terakhir yakni padi lokal banyak yang ditinggalkan karena hanya tumbuh dan berada di daerah tertentu. Lain itu, jenis yang dimaksud biasanya juga membutuhkan spesifikasi khusus untuk tumbuh dengan baik.

Adapun salah satu jenis padi lokal yang dimaksud adalah Rojolele Delanggu. Kini, ada pihak yang bekerja sama untuk membudidayakan kembali keberadaan padi tersebut. Seperti apa upaya yang dilakukan?

1. Mengenal padi Rojolele Delanggu

Karakter gabah padi Rojolele Delanggu (Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS)

Rojolele Delanggu adalah jenis padi lokal yang tumbuh di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Rojolele sesuai dengan namanya dianggap sebagai ‘Raja’ dibandingkan jenis padi lain, karena dianggap memiliki kualitas rasa terbaik.

  Peran desa penyangga TNBSS sebagai benteng penyelamatan badak sumatra

Dari segi budaya, masyarakat lokal memanfaatkan padi tersebut sebagai syarat wajib baik untuk ritual yang sifatnya kegiatan pertanian ataupun lingkup keluarga. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa hormat masyarakat Delanggu terhadap Tuhan.

Namun sayangnya padi yang penuh akan nilai tersebut mulai ditinggalkan sejak digalakannya Revolusi Hijau pada tahun 1968. Revolusi hijau adalah program pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dengan menekan efektifitas dan efisiensi.

Akhirnya metode pertanian tradisional dianggap kurang produktif. Apalagi Rojolele Delanggu asli membutuhkan waktu tanam hingga panen kurang lebih 6 bulan. Saat ini Rojolele Delanggu ironisnya hanya menjadi nama dalam sak plastik beras. Tujuannya semata-mata untuk meningkatkan nilai jual beras, walaupun isinya bukan beras Rojolele Delanggu asli.

2. Budidayakan yang asli

Kegiatan preservasi budaya pertanian tradisional Rojolele Delanggu (Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS)

Kini upaya untuk mengembalikan kembali eksistensi padi/beras Rojolele Delanggu yang sesungguhnya dilakukan oleh pihak gabungan. Terdiri dari Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Sedyo Makmur Desa Sabrang, dengan tim Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS).

Melalui pendekatan desain partisipatif, kegiatan tersebut bertujuan untuk membangkitkan kembali potensi pertanian padi yang merupakan ciri khas dari area Kecamatan Delanggu. Awalnya diketahui sudah tidak ditemukan benih padi Rojolele Delanggu asli, karena padi tersebut terakhir ditanam sekitar 30 tahun lalu.

  Kirab Budaya Puji Jagat, cara petani lereng Gunung Sumbing ucapkan rasa syukur

Namun melalui dukungan dari Balai Besar Penelitian Padi Subang (BB Padi Subang), benih padi tersebut dapat diperoleh untuk dibudidayakan. Di tahun 2020, kuantitas benih yang diterima dari BB Padi sebanyak segenggam, dan ditanam di luas area 4 meter persegi.

Saat ini (2022), padi tersebut berhasil diperbanyak hingga luas area tanam 4.000 meter persegi. Dan berlokasi di Dusun Karangmojo, Desa Sabrang, Kecamatan Delanggu.

3. Proyek ekowisata dan pemberdayaan

Kegiatan preservasi budaya pertanian tradisional Rojolele Delanggu (Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS)

Tidak hanya melakukan program pembudidayaan yang melibatkan petani, namun upaya untuk mengembalikan eksistensi padi Rojolele Delanggu juga dilakukan melalui pendekatan ekowisata.

Beberapa kegiatan yang bersifat budaya pertanian dan dijadikan ‘menu’ ekowisata antara lain pembenihan, ritual tanam, penanaman, pelaksanaan ritual wiwitan. Selain itu ada juga panen bersama dengan menggunakan alat tradisional ani-ani atau pisau kecil dengan pegangan dari bambu.

Di mana faktanya, kegiatan tradisional tersebut rata-rata sudah tidak dipraktekkan oleh petani lokal. Seperti contohnya ritual Wiwitan yang merupakan festival menjelang panen, dan sudah tidak dilakukan sejak 25 tahun lalu.

  Tura jaji, ikatan persahabatan abadi masyarakat Flores saat hadapi bencana alam

Program ekowisata ini disambut antusias oleh para petani mengingat interaksi sosial yang terbangun di masa lalu hadir kembali di masa kini. Lain itu, dilangsungkan juga acara rutin berupa selebrasi masa panen bernama ‘Dahar Sareng’ atau makan bersama, sebagai pelestarian budaya kuliner berbasis Rojolele Delanggu.

Berbagai makanan tradisional yang biasa menggunakan bahan beras tersebut di masa lalu juga dibuat kembali lewat kesempatan tersebut, seperti sego trancam, lintingan, dan bubur katul.

Terakhir sebagai upaya untuk pemberdayaan, selain dikonsumsi masyarakat lokal beras Rojolele Delanggu asli juga dijual umum dengan target pasar masyarakat yang ingin bernostalgia dengan rasanya yang khas, ataupun pasar baru yang ingin mengonsumsi beras lokal berkualitas.

Beras ini diperjualbelikan secara langsung di GAPOKTAN maupun online. Dalam proses pengemasannya, Kelompok Wanita Tani (KWT) Sedyo Mulyo dilibatkan sebagai upaya pemberdayaan keluarga petani Desa Sabrang.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya