Mengintip tradisi tanak nasi saban sewindu di Surakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tradisi menanak nasi (I Gede Lila Kantiana/Flickr)

Ada tradisi unik di Solo tepatnya di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berupa Adang Tahun Dal, yaitu tradisi menanak nasi yang dilakukan oleh Raja Keraton Kasunanan Surakarta sendiri lalu dibagikan pada abdi dalem keraton dan masyarakat desa sekitar.

Tradisi ini cukup langka karena hanya dilakukan setiap delapan tahun (sewindu) sekali ini, kali terakhir berlangsung pada 4 Desember 2017, atau lima tahun lalu. Sehingga tradisi ini baru akan kembali digelar pada 2025 mendatang.

Lalu bagaimana tradisi menanak nasi tersebut? Dan mengapa tradisi ini hanya berlangsung delapan tahun sekali? Berikut uraiannya:

1. Tradisi menanak nasi

Tempat nasi (Ydh/Flickr)

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memiliki tradisi unik berupa Adang Tahun Dal, yaitu tradisi menanak nasi yang dilakukan oleh Raja Keraton Kasunanan Surakarta sendiri lalu dibagikan pada abdi dalem keraton dan masyarakat.

Tradisi ini cukup langka karena hanya dilakukan setiap delapan tahun sekali ini, kali terakhir berlangsung pada 4 Desember 2017, atau lima tahun lalu. Sehingga tradisi ini baru akan kembali digelar pada 2025 mendatang.

Dimuat dari Antaranews, rangkaian upacara Adang Tahun Dal diawali dengan penjamasan dhandhang pusaka Kyai Duda. Selanjutnya, dilanjutkan dengan proses menanak nasi yang dilakukan sendiri oleh Sinuhun Paku Buwono XIII.

  Harga gandum mahal, ekspor singkong Indonesia justru melejit 3 kali lipat

Terkait prosesi acara tersebut, Pengageng Parentah Keraton GPH Dipokusumo mengatakan untuk perlengkapan menanak nasi menggunakan peralatan dari Delanggu dan Lumbung Selayur.

Sedangkan air yang digunakan untuk memasak berasal dari mata air Pengging, Mungup, Cokro Tulung, Bonowelang, dan Sumur Jolotundu. Sedangkan untuk penutup dhandhang atau kekeb terbuat dari gerabah yang tanahnya berasal dari Bayat, Kabupaten Klaten.

Sedangkan api yang api yang digunakan untuk memasak nasi di tungku berasal dari api abadi yang di Makam Kyai Ageng Selo di Grobogan. Selama upacara menanak nasi berlangsung abdi dalem tidak henti membaca dzikir dan shalawat selama satu malam.

Selanjutnya, ketika nasi sudah matang maka akan dilaksanakan “pisowanan” atau menghadap Raja di Kajogan Ndalem Ageng pada esok harinya pada pukul 10.00 yang dilakukan Sinuhun PB XIII.

“Dalam pisowanan ini Sinuhun XIII membagikan nasi yang telah dimasak kepada kerabat dan abdi dalem,” katanya.

2. Gambaran rasa kebersamaan

Menanak nasi (Assoka Dwi A/Flickr)

Tradisi ini tidak hanya formalitas belaka, tetapi dalam memasak nasi, Raja (Sinuhun) sendiri yang menanaknya dengan dibantu para kerabat istana, serta dalam jumlah cukup besar, mempergunakan dandang besar.

  Api Abadi Mrapen, keajaiban alam yang pernah padam kini menyala kembali

Dinukil dalam resmi Kemendikbud, beras yang dimasak dalam Adang Tahun Dal dipilih beras istimewa sebagai bahan utamanya yaitu beras wulu Rajalele. Dandang, periuk dan perlengkapan memasak lainnya adalah pusaka Keraton Surakarta.

Dandangnya bernama Kyai Duda, dan periuknya bernama Nyai Rejeki. Begitu pula perlengkapan yang lainnya, semua serba pilihan yakni Kyai Tambur, dan Kyai Mrico. Selain itu dalam upacara tersebut ada juga dandang-dandang peninggalan kerajaan masa lalu.

Setelah selesai memasak kemudian dilanjutkan dengan upacara selamatan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, baru selanjutnya dibagi-bagikan kepada para abdi dalem Keraton Surakarta Hadiningrat.

“Tradisi ini merupakan gambaran rasa kebersamaan antara Raja dan para abdi dalem, yang merupakan simbol manunggaling kawula gusti (bersatunya raja dengan rakyatnya),” tulis laman tersebut.

Hal ini tercermin dari tindakan Sinuhun memasak nasi kemudian membagi-bagikan serta makan bersama rakyatnya. Tindakan semacam ini sangat dihargai oleh rakyat karena merasa mendapat perhatian bahkan kehormatan karena mendapat nasi dari Sinuhun.

3. Legitimasi kekuasaan

Tradisi menanak nasi (I Gede Lila Kantiana/Flickr)

Upacara ritual Adang Tahun Dal konon berasal dari prosesi yang pernah dilakukan oleh Jaka Tarub. Melalui prosesi peninggalan Jaka Tarub ini menandakan bahwa terdapat konsep legitimasi kekuasaan spiritual.

  Festival Getek: cara masyarakat Bengawan Solo peduli konservasi sungai

Bagaimana hubungan antara legitimasi kekuasaan spiritual dengan mitos ini dapat dianut kembali dari terbentuknya Kerajaan Mataram Islam. Salah satunya adalah mitos bidadari Nawangwulan yakni istri Jaka Tarub juga dianggap sebagai nenek moyang mereka.

“Sehingga dari sinilah dianggap cikal bakal keturunan raja-raja Mataram hingga Keraton Kasunanan Surakarta,” tulis Mariyana Ricky P.D dalam Adang Sego Tahun Dal, Tradisi Menanak Nasi Delapan Tahun Sekali di Solo yang dimuat Solopos.

Tanah yang digunakan untuk pembuatan tungku juga tidak sembarangan, seperti tanah yang diambil dari makam Imogiri. Kayu bakar yang dipakai dalam upacara Adang Tahun Dal berasal dari Alas Donoloyo Wonogiri yang dikeramatkan.

Api yang digunakan diambil dari Gunung Merapi. Sementara itu air yang digunakan untuk mencuci beras dan menanak nasi juga diambil dari beberapa sumber air suci, salah satunya Dlepih Kahyangan yang dipercaya sebagai tempat bersemedi Panembahan Senopati.

Tetapi dalam upacara Adang Tahun Dal ini juga terdapat beberapa pantangan, di antaranya adalah pantangan bagi raja untuk tidak berbicara ketika upacara berlangsung. Misalnya ada juga pantangan adanya orang asing yang menyaksikan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya