Mereka yang berkuda dalam ironi kehilangan pendidikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Joki cilik (S Bahri/Flickr)

Sepanjang tahun masyarakat Sumbawa gemar berkunjung ke arena maen jaran alias pacuan kuda. Jokinya rata-rata bocah 5-12 tahun dan dikenalkan dengan kuda sejak berusia di bawah lima tahun. Kemenangan di arena pacuan adalah prestise dan uang, sekaligus ironi.

Sejumlah pengajar dari Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa menggelar homeschooling di lokasi pacuan kuda. Alternatif agar para joki tetap mendapat pendidikan. Selain para joki, saudara joki yang masih di bawah umur dan anak pemelihara kuda bisa menjadi murid.

Lalu bagaimana kisah tentang para joki cilik ini? Dan bagaimana juga upaya untuk memberikan pendidikan bagi mereka? Berikut uraiannya:

1. Anak Sumbawa di atas kuda

Joki cilik (S Bahri/Flickr)

Sepanjang tahun masyarakat Sumbawa gemar berkunjung ke arena maen jaran alias pacuan kuda. Jokinya rata-rata bocah 5-12 tahun dan dikenalkan dengan kuda sejak berusia di bawah 5 tahun. Sehingga menjadi tradisi sendiri.

Tak diketahui kapan tepatnya pacuan tradisional kuda mulai digelar di Sumbawa. Sejak masa Kesultanan Sumbawa, permainan ini telah digemari segala kalangan, termasuk para bangsawan. Misalnya Sultan Kaharuddin III (1931-1952) memiliki kuda pacu khusus.

Pada masa pendudukan Jepang, permainan ini sempat dilarang. Namun penduduk tetap menggelar lomba sembunyi-sembunyi selepas masa panen. Tradisi itu berlangsung sampai sekarang, menyebar ke seluruh pulau hingga ke pelosok-pelosok.

  5 jenis hama dan kerusakan yang jadi musuh utama petani padi

Satu tim pacuan kuda minimal terdiri atas pemilik kuda, pemelihara kuda, sanro, dan joki. Sebelum pertandingan, mereka membangun tenda di sekitar arena. Di sinilah tempat tinggal joki-joki kecil bersama orang tua dan pelatih mereka.

Joki kecil mudah dikenali dari atributnya: memakai baju dan celana panjang dari bahan kaus, dilengkapi penutup wajah dan helm plastik. Beberapa di antara mereka memegang pecut. Di balik baju seorang joki, terdapat kain hitam yang melingkari pinggangnya.

“Di dalamnya dijahit sabuk bertuliskan huruf Arab gundul. Itu adalah jimat,” papar Tempo dalam buku Meneropong Tradisi Pacuan Kuda Nusantara.

2. Prestise sebagai joki

Joki cilik (Tofi foto/Flickr)

Maen jaran sangat populer di seantero Sumbawa. Jokinya bocah usia 5-12, hal ini karena tubuh anak yang ringan sehingga kuda bisa berlari kencang. Kemenangan selalu menjadi kebanggan besar bagi seorang joki cilik.

“Apabila kuda saya menang, semua manusia di Tana Samawa (sebutan lokal untuk Sumbawa) akan membicarakannya,” ujar Masrawang (75), mantan joki cilik.

Kemenangan di arena pacu ditentukan dua hal: kuda terbaik dan joki terandal. Kuda pacu Sumbawa biasanya dipilih sejak masih kecil. Pemilihan joki lazimnya merujuk pada ketangguhan, ketangkasan, dan kemampuan mengendalikan kuda pacu.

  Desa Aeng Tong-Tong dan potensi industri keris kebanggaan Indonesia

Biasanya para pencari bakat mencari calon joki dengan cara unik. Misalnya Syaiful (8) yang terpilih karena adanya dua pusaran di rambut. Anak kecil yang memiliki pusaran rambut dianggap pemberani, kuat, tahan banting, tidak cengeng, dan mampu mengendalikan kuda pacu.

Mereka lalu berlatih menunggang kuda selama berbulan-bulan. Lokasinya di pinggir pantai atau arena pacuan. Tak ada honor tetap bagi mereka. Meski tak ada bayaran pasti, anak-anak menyatakan tetap menikmati kegiatan sebagai joki.

“Saya senang naik kuda. Rasanya seperti terbang. Orang tua juga menjadi bangga kepada saya,” kata Syaifudin.

3. Berada dalam ironi

Joki cilik (Tofi Foto/Flickr)

Syaifuddin sempat menjadi rebutan para pemilik kuda karena tubuhnya yang kecil dan ringan. Bahkan dirinya menjadi joki favorit dan mendapatkan banyak hadiah barang dan uang. Tetapi efek buruknya sudah menanti.

Anak-anak ini rata-rata putus sekolah demi bertanding, hal yang bahkan disokong penuh oleh orang tua mereka. Mereka berharap anak-anaknya yang bisa memenangi pacuan dapat memperbaiki ekonomi keluarganya.

Masalahnya lokasi pacuan yang berpindah-pindah dan waktu pacuan yang panjang membuat mereka sering membolos. Dalam setahun setidaknya ada empat pacuan kuda, masing-masing makan waktu minimal tujuh hari sehingga banyak yang tak naik kelas, bahkan putus sekolah.

  Inovasi petani Blitar agar hasil panen tinggi tanpa bahan kimia

Akhirnya dari Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) menggelar program homeschooling di lokasi pacuan kuda. Alternatif agar para joki tetap mendapat pendidikan. Selain para joki, saudara joki yang masih di bawah umur dan anak pemelihara kuda bisa menjadi murid.

“Kami belajar selama dua jam, sejak pukul 18.30 hingga 20.30,” kata Syafruddin.

Ada 25 pengajar yang terbagi dalam beberapa kelompok. Sebelum kelas dimulai, setiap guru menanyakan si anak duduk di kelas beberapa dan apa pelajaran terakhirnya. Dari jawaban sang murid guru akan menentukan materi kelas.

Dosen Fakultas Psikologi UTS, Yossy Dwi Eliana mengatakan, setiap joki adalah anak yang diberkahi keterampilan dan bakat. Katanya alangkah baiknya jika bakat ini dikembangkan dengan pembinaan yang benar sehingga mereka punya bekal ilmu ketika dewasa.

“Menjadi joki hanya bersifat sementara,” tegas Yossi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya