Mimpi desa dengan energi bersih dan terbarukan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi desa yang memanfaatkan energi terbarukan | @thelamephotographer (shutterstock)

Selama satu dasawarsa terakhir, produksi minyak di Indonesia mengalami tren penurunan, dari 346 juta barel (949 ribu bph) pada tahun 2009 menjadi sekitar 283 juta barel (778 ribu bph) di tahun 2018 (DEN, 2019). Pasalnya, kondisi sumur di Indonesia sudah menua.

Di sisi lain, kebutuhan energi semakin meningkat, salah satunya disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tentunya berdampak pada peningkatan kebutuhan energi.

Selain itu, peningkatan infrastruktur dan teknologi pendukung untuk menghasilkan energi yang lebih bersih dan efisien di semua negara dapat memicu pertumbuhan positif dan membantu mengurangi dampak lingkungan, demikian  tulis Institute of Reform of Essential Services pada 2019. 

Energi sebagai kebutuhan dasar

Energi adalah mesin ekonomi dan prasyarat untuk pembangunan. Pasokan energi yang cukup dan terjangkau dapat mendukung pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pangan, pelayanan kesehatan, pendidikan yang berkualitas, serta dukungan pembangunan manusia yang berkualitas.

Penyediaan akses energi yang lebih luas di pelosok dan desa yang akses energinya sangat terbatas, tentu bakal memberikan kontribusi peningkatan pendapatan masyarakat yang signifikan.

  Upaya dorong generasi muda paham teknologi EBT di Indonesia

Tingkat elektrifikasi merupakan indikator yang digunakan oleh pemerintah untuk mengukur cakupan pasokan energi di Indonesia, yang didefinisikan sebagai jumlah rumah yang tersambung ke listrik, terlepas dari kualitas sumber pasokan listrik yang diterima.

Per 2019, belum semua desa di Indonesia teraliri listrik, demikian data dari Kementerian Desa (Kemendes). PDT dan Migrasi menunjukkan, pada periode 2019 ada sekira 1.667 desa di Indonesia yang terdiri dari 258.252 KK benar-benar hidup tanpa listrik.

Potensi energi terbarukan untuk desa

Dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik, PLN berencana untuk tetap memasok listrik ke desa sesuai Roadmap Penyediaan Tenaga Listrik Desa untuk periode 2017-2021 sebagai bagian dari upaya untuk mencapai target elektrifikasi 99,7 persen pada tahun 2025.

Strategi kelistrikan desa yang ditempuh adalah memperluas jaringan distribusi yang ada dan membangun pembangkit energi terbarukan dan hibrida untuk desa-desa yang sangat terpencil dan menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar minyak/BBM. Program listrik desa pada tahun 2019 menargetkan 1.746 desa, seperti dijelaskan pada tabel di bawah ini.

  Biodiesel dari buah bintaro, energi alternatif yang terus diteliti

Program listrik desa 2017-2019 | PLN

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat, serta mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), seperti halnya tuntutan komitmen global, pemerintah mendorong peningkatan peran energi baru dan terbarukan secara global yang dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan dan kemandirian energi.

Hal itu sesuai dengan PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, target bauran energi baru dan terbarukan pada tahun 2025 paling sedikit 23 persen dan 31 persen pada tahun 2050. 

Potensi energi terbarukan | DEN 2019

Indonesia tentu memiliki potensi energi baru terbarukan yang cukup besar untuk mencapai target bauran energi primer seperti yang ditulis dalam tabel di atas.

Pencapaian target tersebut pada tahun 2030 dapat diukur dengan beberapa indikator, antara lain konsumsi listrik rumah tangga di Desa minimal mencapai 1.200 KwH, rumah tangga di desa menggunakan gas atau limbah kayu untuk memasak, dan yang terakhir penggunaan campuran energi terbarukan di desa.

  Madu Sula, komoditas unggulan masyarakat desa di Maluku Utara

Jika ini bisa dicapai sesuai rencana dan tegat waktu, maka pemerataan energi bukan lagi kendala, terlebih untuk desa-desa yang berada di wilayah pelosok atau pedalaman.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya