Musamus, keunikan ‘candi’ alam yang jadi potensi wisata di Kampung Salor, Merauke

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Musamus | Tulus Muliawan (Flickr)

Kampung Salor Indah, Merauke, Papua memiliki keunikan tersendiri. Di kampung ini ada begitu banyak ‘rumah’ alam koloni sejenis rayap (Macrotermes sp) yang menyerupai candi dengan sebutan musamus atau bomi. Koloni sejenis yang menyerupai candi ini terbangun secara alami dan kini menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Penduduk Salor Indah yang berjumlah sekitar 362 keluarga memiliki pendapatan tak menentu, mayoritas dari mereka adalah petani dengan lahan perkarangan luas dengan beragam tanaman, seperti padi, sayuran, terong, ketela pohon, jagung, mangga, jeruk, keladi, dan lain-lain. Keberadaan musamus ini menjadi sumber rezeki lain bagi penduduk sekitar.

Lalu bagaimana musamus bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat? Juga upaya dari penduduk sekitar menjaga hingga memanfaatkan potensi alam ini sebagai daya tarik wisata? Berikut uraiannya:

1. Musamus sebagai potensi desa

Musamus (Commons Wikimedia)

Kepala Kampung Salor Indah, Merauke, Tohaman bersama-sama warga membangun wisata alam 1.000 musamus. Dirinya cukup bangga karena usaha mereka mulai berhasil. Sedikit demi sedikit makin banyak orang tertarik untuk menjadikan musamus sebagai tujuan wisata. Seribuan musamus ini berada di dataran tinggi dan secara alami terpisah dengan perumahan warga.

Tohaman menyebut agar menjaga kelestarian musamus, warga tidak boleh mengembalakan ternak di sekitar tempat tersebut kecuali kuda. Karena itulah musamus terpelihara, tetap tegak berdiri kokoh karena tidak ada orang yang berani merusak rumah rayap tersebut dan sangat terpelihara secara adat.

  Kirab Budaya Puji Jagat, cara petani lereng Gunung Sumbing ucapkan rasa syukur

Dalam bahasa asli Marind rumah rayap ini disebut bomi. Jumlah bomi atau musamus di Salor begitu banyak hingga tercetuslah ide menjadikannya tempat wisata dengan nama 1.000 musamus. Di dataran Marind, musamus paling banyak ditemui di Kampung Salor Indah. Tohaman mengatakan, tempat ini tambah menarik karena alamnya yang masih asri.

Kini tempat wisata alam ini telah mereka tata sedemikian rupa agar menarik. Ada tempat kuliner, lahan parkir dekat dengan ribuan musamus. Ada juga berbagai kuliner seperti bakso, jagung rebus, ubi rebus, singkong, petetas, keladi sampai tomat. Hasil kebun dan tani itu, katanya semua dari perkarangan warga sekitar.

“Pokoknya tidak percuma datang ke tempat itu,” ucapnya yang dikutip dari Mongabay Indonesia.

2. Kontribusi masyarakat desa

Taman musamus (backpacker Jakarta)

Tohaman menyebut masyarakat desa sengaja membuat bangunan mirip pondokan di setiap sudut taman yang terbuat dari alang-alang. Hal ini dilakukan untuk menjaga rayap itu tak terjamah pengunjung. Pengunjung boleh mengendarai kuda milik warga, tetapi tak boleh terlalu dekat agar menghindari kotoran binatang.

  Desa Aeng Tong-Tong dan potensi industri keris kebanggaan Indonesia

Ada juga keputusan kampung untuk mendirikan sebuah menara pengawasan yang tinggi di tengah tempat itu. Di sekitar menara akan terbangun pagar untuk menjaga para pengunjung melihat pemandangan hijau di sekitar sawah. Menara itu katanya sekaligus menjadi sarana pemantau dan jadi lokasi berswafoto.

Nantinya akan dipasang pagar pembatas di sekitar menara dan alat pengaman, seperti sabuk dan lain-lain.  Dirinya juga sedang membangun kolam bermain bagi anak-anak. Di sampingnya. aparat pengaman juga sudah membangun rumah untuk penjaga. Kampung ini juga mengundang seorang praktisi hukum asal Merauke yang biasa mendampingi kampung soal penggunaan dana.

“Uang awal Rp20 juta untuk membangun kolam renang dan menara pengawas. Diambil dari dana kampung atau dana Desa Salor Indah,” paparnya.

Tohaman juga menyebut, ada kesepakatan warga Salor Indah untuk menambah uang kas kampung area itu sehingga kini terdapat kuda putih. Selain itu segala fasilitas telah dikelola Badan Usaha Kampung (BUMK) mulai dari karcis masuk, kendaraan masuk, tenda, sampai tukang parkir. Dia pun mempersilahkan pemerintah maupun organisasi lain untuk membantu menata lokasi.

  Rumah kerbau tergusur dan dampak budaya orang Lombok yang akan terkubur

“Supaya kampung terlihat asri dan indah. Cepat maju,” jelas Tohaman.

3. Menjadi potensi wisata provinsi

Taman musamus (Backpaker Jakarta)

Kepala Dinas Pariwisata Merauke, Marselus Macau mengatakan pihaknya sudah membahas perencanaan taman wisata 1.000 musamus, Salor Indah dengan Bapedda Merauke. Dia bilang, daratan Merauke banyak tumbuh alami musamus. Marselus pun mengapresiasi inisiatif Tohaman mengembangkan obyek wisata kampung.

Terkait fasilitas seperti jalan, Dinas Pariwisata Merauke akan meminta bantuan Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Dinas Pariwisata, sebutnya, hanya bisa membangun jalan setapak, selebihnya tugas DPU. Selain itu Dinas Tanaman Pangan dan Koperasi bisa melihat potensi produk di tempat tersebut.

Tempat wisata ini pun dianggap cocok sebagai tempat rekreasi atau perkemahan sambil menikmati buah naga, padi, jagung, sayuran, buah-buahan, seperti rambutan, durian, dan hasil tani lain.

Di Salor Indah, wisatawan juga bisa mendapatkan banyak oleh-oleh. Masyarakat juga sedang menyusun program menata tempat wisata alam ini agar bersahabat dengan alam.

“Wisata alam 1,000 musamus untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat, maka perlu dibantu dengan penguatan peraturan kampung ditambah dengan BUMK untuk mereka jalankan,” ujar Guntur Ohowitiun, penggagas wisata alam ini.

Foto:

  • Indonesia Kaya
  • Wikipedia
  • Backpacker Jakarta

Artikel Terkait

Artikel Lainnya