Nelayan Natuna dan pengetahuan melihat petunjuk alam yang tinggal kenangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi nelayan (Leon Wee/Flickr)

Tradisi nelayan Natuna melihat petunjuk melaut dari tanda alam sudah mulai menghilang. Kini mereka lebih memilih menggunakan petunjuk digital mulai dari aplikasi smartphone hingga GPS. Padahal dahulu nelayan bisa memprediksi cuaca dengan melihat kondisi alam.

Fenomena ini berubah karena nelayan muda tidak mau lagi belajar melihat tanda alam. Mereka lebih memilih menggunakan aplikasi di smartphone yang praktis. Beberapa nelayan ada juga yang masih mempertahankan pengetahuan ini walau jumlahnya tidak lagi banyak.

Lalu bagaimana nelayan Natuna bisa melihat petunjuk melaut dari tanda alam? Dan mengapa kini pengetahuan itu sudah menghilang? Berikut uraiannya :

1. Nelayan dari Natuna

Nelayan (SuaraMerdeka Tegal/Flickr)
Nelayan (SuaraMerdeka Tegal/Flickr)

Rahmad Wijaya menatap lambaian tangan istrinya dan anaknya yang berada di ujung dermaga, perlahan lambaian itu mulai menghilang. Kapal kayu lima gross tonnage itu perlahan melaju menjauh meninggalkan Pelabuhan Pemping, Kabupaten Natuan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Kapal Rahmad terus melaju menyibakkan hutan mangrove yang rindang di sisi kanan dan kiri pesisir. Bersama dua anak buah kapalnya (ABK), dirinya siap melaut. Seperti melaut biasanya, persiapan rahmad telah matang, mulai dari makanan hingga umpan. Mereka akan melaut selama 10 hari kedepan.

  Daftar 16 desa wisata berbasis lingkungan yang dapat penghargaan Kemenparekraf

Pagi itu cuacanya cukup cerah, Rahmad tidak hanya menyaksikan pemandangan mangrove yang rindang. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan daratan, nelayan melihat keindahan Gunung Ranai yang menjulang ke langit. Apalagi saat itu puncaknya diselimuti awan berbentuk benang sutra.

Keindahan ini perlahan hilang berubah menjadi laut lepas yang mencekam. Gunung Ranai semakin mengecil. Rahmad mulai memantau beberapa titik koordinat lokasi menangkap ikan melalui radar yang ada di atas kapalnya. Begitu juga melalui aplikasi windy yang terdapat di smartphonenya.

“Aplikasi ini untuk melihat prediksi cuaca, angin, hujan beberapa hari kedepannya,” kata Rahmad yang dikutip dari Mongabay Indonesia.

2. Alam sebagai tanda melaut

Gunung Ranai (Ryan G/Flickr)
Gunung Ranai (Ryan G/Flickr)

Rahmad tiba-tiba memandang ke arah gunung dan mengenang bahwa dahulu nelayan Natuna tidak mengandalkan aplikasi untuk memprediksi cuaca melaut. Dia mengatakan, prediksi cuaca beberapa hari kedepan cukup melalui tanda alam.

“Salah satunya melihat gunung itu,” kata Rahmad menujuk Gunung Ranai yang semakin menjauh.

Rahmad menyebut gumpalan awan yang berada di Puncak Gunung Ranai menandakan cuaca cukup cerah. Tetapi, kalau awan membentuk sabit dan mengelilingi puncak Gunung Ranai berarti pertanda angin barat akan datang. Sedangkan ketika awan menutupi Gunung Ranai sepertiga, itu pertanda angin selatan akan terjadi.

  Situ Rawa Kalong, tempat yang dahulunya kumuh kini jadi wisata favorit warga

Sedangkan cuaca yang paling ditakuti nelayan adalah angin barat daya. Nelayan tidak sama sekali bisa bekerja mencari ikan di laut. Nelayan bisa melihat tandanya bila posisi awan menggumpal berada di belakang Gunung Ranai sebelah barat.

Prediksi cuaca alam secara alami oleh Nelayan Natuna tidak hanya melalui gunung.  Tetapi juga dilihat dari petir yang datang. Bila petir tiba-tiba datang sekitar sore hari itu pertanda angin barat daya akan terjadi. Tidak hanya tanda alam, kepercayaan nelayan Natuna melaut dianjurkan pada hari jumat.

“Selain itu hari Jumat juga hari baik,” kata Rahmad.

3. Meninggalkan tanda alam

Perahu nelayan (Yermia Riezky Santiago/Flickr)
Perahu nelayan (Yermia Riezky Santiago/Flickr)

Rahmad menyebut saat ini, rata-rata nelayan Natuna menggunakan aplikasi yang ada di smartphone untuk melihat cuaca, termasuk yang digunakannya saat melaut hari itu.  Dia menjelaskan bahwa selisihnya memang tidak beda jauh dengan tanda alam.

Sedangkan Ketua Aliansi Nelayan Natuna (ANN) Hendri tidak memungkiri nelayan Natuna lebih memilih menggunakan smartphone. Salah satunya kebiasaan tradisional ini ditinggalkan karena nelayan baru sekarang tidak mau belajar.

  Perubahan jumlah nelayan yang ada di Indonesia (2010-2020)

“Mereka lebih suka menggunakan aplikasi yang dinilai lebih praktis,” katanya.

Beberapa tanda alam untuk memprediksi cuaca, jelas Hendri, kini juga mulai hilang. Seperti tanda alam dilihat dari Gunung Ranai, jenis burung yang terbang di langit, melihat pergerakan rumput laut hanyut, melihat tanda di darat yaitu waktu cam go sebuah tradisi Tionghoa.

Walau menurut Hendri, masih ada beberapa nelayan yang menggunakan tanda alam tersebut tetapi memang tidak sebanyak dahulu. Kini hanya nelayan yang tidak memiliki smartphone, kemampuan membaca tanda alam sangat membantu ketika melaut.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya