Orang Tobaru yang menjaga tradisi menanam padi jenis lokal

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Karakter gabah padi Rojolele Delanggu (Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS)

Orang Tobaru di Halmahera Barat, Maluku Utara memiliki tradisi menanam padi dengan beragam jenis lokal. Benih padi warga Tobaru ini dikembangkan turun temurun. Ada beberapa jenis padi lokal yang sudah jarang ditemukan karena memang jarang ditanam.

Kehidupan orang Tobaru memang tak bisa lepas dari hutan dan berkebun. Begitu penting kebun dan hutan bagi orang Tobaru, bisa terlihat dari pegangan hidup mereka yakni hutan itu sumber hidup kami dari dulu, sekarang hingga anak cucu.

Lalu bagaimana tradisi Orang Tobaru dalam menanam padi lokal? Berikut uraiannya:

1. Orang Tobaru

Budidaya padi Rojolele Delanggu (Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS)

Komunitas Adat Tobaru merupakan suku asli Halmahera yang mendiami sebagian besar Halmahera Barat, beberapa desa di Halmahera Utara dan Halmahera Selatan. Kehidupan mereka tergantung pada hutan dalam berkebun tanaman pangan dan perkebunan.

Rian Bodi dan suaminya, Lius Popo sudah berangkat sejak pagi hari untuk mengumpulkan buah pala matang yang jatuh. Kebun mereka juga tak jauh dari dusun kelapa. Dia menanam padi benih lokal yang ditanam turun temurun masyarakat Tobaru. Di kebun itu selain padi juga ada pisang dan jahe.

  Manfaat daun gatal, mutiara terpendam dari Papua untuk penghilang lelah

“Padi ini ada nama lokal tapi orang di sini biasa sebut padi alus,” katanya yang dimuat Mongabay Indonesia.

Disebelah lahan padi, masih ada kawasan berhutan yang belum jadi kebun. Nanti lahan yang ditanami padi itu akan berganti pisang, serta tanaman seperti pala maupun kelapa. Setelah itu kebun ini akan dibiarkan kembali jadi hutan sekunder.

Praktik ini juga dilakukan sebagian besar suku asli di Halmahera dan Maluku Utara. Mereka menyebutnya Jorame. Jorame ini akan dibuka lagi 10-15 tahun berikutnya untuk jadi kebun dan ditanami padi atau tanaman pangan lainnya, mereka percaya praktik ini untuk mengembalikan kesuburan tanah. 

2. Tradisi turun temurun

Menanam padi (moonstar simanjuntak/Flickr)
Menanam padi (moonstar simanjuntak/Flickr)

Rin mengatakan kehidupan mereka tak bisa terlepaskan dari hutan dan berkebun. Begitu penting kebun dan hutan bagi orang Tobaru bisa terlihat dari pegangan hidup mereka yaitu hutan itu sumber hidup kami dari dulu, sekarang hingga anak cucu.

Salah satu warga Tobaru bernama Yosep masih tetap mempertahankan tradisi menanam padi dan mengkonsumsi beras dari lokal. Beras dari padi lokal warga Tobaru dan masyarakat Maluku Utara dikenal dengan istilah bira sung atau beras baru.

  Hanjeli, tananan alternatif pengganti beras yang dorong ketahanan pangan

Bagi orang Tobaru, padi sesungguhnya adalah tanaman pembuka ketika seseorang membuka lahan hutan atau kebun baru. Sebagaimana tradisi warga Halmahera, kalau ada kebun dibuka dari hutan primer atau hutan sekunder, padi jadi tanaman pertama sebelum tanaman pangan lain.

“Dalam tradisi menanam padi juga sudah diatur waktunya. Oktober November Desember. Saat menanam, benih diisi dalam satu ruas bambu. Tempat itu oleh orang Tobaru dikenal dengan nama otiba. Otiba ini biasanya dipegang perempuan,” kata Yosias Palangi tokoh adat Tobaru.

Para perempuan punya peran penting untuk menaruh atau menghambur bibit ke dalam lubang, yang disebut dengan yonoa. Setelah proses yonoa selesai, tahapan terakhir yodidumu atau menutupi lubang dengan alat disebut o-didimu yang satu hektare perlu empat orang untuk bekerja menutupnya.

3. Jenis-jenis padi

Ilustrasi padi (sue emran/Flickr)

Kepala adat Tobaru dari Desa Togoreba Tua, Tawas Tuluino menyebutkan tradisi tanam padi berlangsung setiap tahun. Tidak terkecuali dalam kondisi apapun petani Tobaru tetap menanam. Musababnya, tradisi menanam bibit asli ini sudah turun-temurun.

  Madu Sula, komoditas unggulan masyarakat desa di Maluku Utara

Dia menyebut banyak jenis padi lokal masyarakat Tobaru. Saat ini yang banyak ditanam ada jenis pulo lenso, gamtala, pangalo, bidoi, padi aluss, bugis atau kayeli. Mereka menanam padi tidak di lahan yang luas, paling banyak adalah satu hektare.

Luasan itu, jelas Tawas, sudah cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal yang terpenting adalah setiap tahun menanam secara berkelanjutan. Meski hanya sekali, hasil tanam ini bisa memenuhi hidup sampai tahun berikutnya. Selanjutnya benih padi warga Tobaru akan dikembangkan turun temurun.

“Ada beberapa jenis padi lokal warga Tobaru sudah jarang ditemukan karena jarang ditanam.” 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya