Peran desa penyangga TNBSS sebagai benteng penyelamatan badak sumatra

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Badak Sumatra (Paula Longshore/Flickr)

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBSS) menjadi wilayah yang memiliki populasi badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis). Ancaman kehidupan badak sumatra di TNBSS masih ada, seperti perburuan, menyempitnya habitat hingga alih fungsi lahan yang perlu diwaspadai.

Peran puluhan desa yang berbatasan langsung dengan TNBSS sangat berperan penting bagi kelestarian badak sumatra. Peran ini meliputi secara fisik, biologi, ekologi atau sosial. Badak sumatra kini statusnya berada dalam posisi Kritis (Critically Endangered).

Lalu bagaimana peran TNBSS bagi perlindungan badak sumatra? Berikut uraianya:

1. Peran TNBSS

Kawasan TNBSS (Ecosystems & Biodiversity UNDP/Flickr)

Letak TNBSS dari sisi topografi memang tidak solid. Ada puluhan desa yang berbatasan langsung dengan kawasan ini yang bisa menjadi peluang pelestarian atau justru sebagai ancaman. Hal ini disampaikan Suyono dan Suwolo yang merupakan anggota satgas Desa Margomulyo, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Desa ini berbatasan langsung dengan TNBBS, karena itu sebagai desa penyangga, tentu saja wilayah ini sangat penting sebagai benteng kelestarian satwa liar di TNBSS, seperti harimau, gajah, dan badak sumatra. Karena itulah desa penyangga di sekeliling kawasan TNBSS begitu penting.

  Refleksi Hari Masyarakat Adat Sedunia: Ketika pemerintah terlihat masih abai

Dosen Konservasi Jurusan Kehutanan, Universitas Lampung, Agus Setiawan menerangkan fungsi pertama berupa penyangga fisik, menyebabkan satwa tidak bisa lewat. Hal ekstrim misalnya pagar, atau bisa juga hutan lindung yang luas.

Sementara yang kedua adalah penyangga biologi atau ekologi. Kemudian yang ketiga adalah penyangga sosial, dijelaskan Agus, masyarakat berperan untuk mengendalikan baik di luar dan di dalam kawasan. Mereka berperan sebagai buffer zone yakni masyarakat adalah penjaga, namun tidak masuk ke kawasan.

“Biasanya warga di sana kenal satu sama lain. Jadi, kalau ada orang asing masuk dapat di amankan. Mereka juga bisa mengusir gajah atau harimau agar tidak keluar kawasan,” ucapnya yang dimuat Mongabay Indonesia.

2. Penangkaran badak

Badak sumatra Andatu di tahun 2012 (Dok. Yayasan Badak Indonesia)

Diperkirakan oleh Agus, saat ini jumlah badak sumatra tidak lebih dari 80 induvidu. Dirinya juga mengungkapkan bahwa populasi badak di TNBSS menghadapi ancaman. Perburuan masih terjadi, seperti untuk diambil culanya, karena dipercaya memiliki khasiat yang sebenarnya tidak terbukti.

Sementara itu jelas Ismanto, sulitnya ditemukan badak di kawasan ini bisa jadi karena adanya konservasi lahan menjadi perkebunan kopi. Kemudian adanya pengaruh 3 ruas jalan nasional yang melewati kawasan TNBSS yaitu Krui – Liwa sepanjang 15 km, Pugung Tampak – Menula 14 km, dan Sanggi – Bengkunat 11,5 km.

  Desa Sungai Sekonyer dan kesadaran warga akan kelestarian lingkungan

Karena itu pihak TNBSS disebut olehnya berencana membuat penangkaran badak sumatra. Dalam penangkaran ini, ucapnya, badak akan dibuat nyaman, sehingga bisa memperbanyak keturunan. Namun rencana ini masih dalam pembahasan dan tertuang di rencana aksi darurat.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI), Widodo S Ramono menuturkan pihaknya akan membantu TNBSS dalam upaya pelestarian badak sumatra. Salah satunya adalah perlindungan badak dan habitatnya di kawasan taman nasional dengan mengoperasikan Rhino Protection Unit (RPU).

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan penangkaran badak, jelasnya, yakni sarana penangkaran konservasi, kesesuaian habitat (air, tanah, lindungan), dan ketersediaan pakan alami. Sementara untuk badak yang ditangkarkan, sangat diperlukan individu dengan keanekaragaman genetik tinggi.

“Perlu diketahui, perilaku kawin badak sumatra sangat unik. Siklus berahi betina yang lama tidak kawin akan mengalami masalah reproduksi,” tambahnya.

3. TNBSS hadapi ancaman

Kawasan TBSS (Ecosystems & Biodiversity UNDP/Flickr)

Memiliki luas sekitar 355.511 hektare, TNBSS bersama Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) adalah tiga taman nasional yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh Komite Warisan Dunia pada 2014 karena potensi hayatinya yang luar biasa.

  Wilayah adat di Indonesia akan terhubung dengan sebuah sistem informasi

Namun, karena adanya perburuan satwa, perambahan, pembalakan liar, ekspansi perkebunan monokultur dan pembangunan jalan, membuat kawasan ini mendapat perhatian dunia. UNESCO misalnya pada 22 Juni 2011 memasukan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra sebagai Situs Warisan Dunia dalam Bahaya.

Ismanto menyebut, tren perubahan tutupan hutan sebagai ancaman utama dari pengelolaan TNBSS, terjadi di berbagai ketinggian sepanjang 17 tahun (2000-2017). Diperkirakan, terjadi deforestasi seluas 42.251 hektare, dengan rata-rata sebesar 0,47 persen periode 2011-2015 dan 2015-2017.

Baginya, pengelolaan TNBSS perlu dilakukan dengan prinsip 3p yakni Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan Secara Lestari. Upaya yang telah dilakukan oleh pihak balai, seperti memperbaiki tutupan hutan dengan merehabilitasi dan memulihkan ekosistem.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya