Ragam daya tarik Desa Carangsari, tempat kelahiran I Gusti Ngurah Rai

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Ketika berkunjung ke Bali, kita akan merasa rugi bila tidak berkunjung ke Desa Wisata Carangsari di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Jaraknya sekitar 22 kilometer atau 36 kilometer dari Kota Denpasar.

Ketika mengunjungi tempat ini, wisatawan akan disambut dengan ramah oleh masyarakatnya. Anda juga bisa menikmati pesona wisatanya yang luar biasa. Ditambah dengan lingkungannya yang bersih dan nyaman.

Pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, desa yang dihuni oleh 4.655 jiwa ini menyabet juara pertama untuk kategori konten kreatif. ADWI 2021 adalah lomba yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaraf).

Sudah diakui sebagai salah satu desa wisata terbaik, Carangsari pun memiliki beragam sejarah yang menarik untuk dipelajari, selain itu ada beragam tempat wisata yang dapat wisatawan kunjungi, berikut urainnya:

1. Sejarah Desa Carangsari

Puri Agung Carangsari (desacarangsari.com)

Dikutip dari beberapa sumber sejarah yang terdapat di dalam lontar-lontar yang ada di Puri Carangsari, disebutkan desa ini bermula dari penaklukan Bali oleh Kerajaan Majapahit yang mengutus Arya Sentong pada tahun saka 1265. Pertempuran dilakukan di Padang Jerat Pusering Jagat yang merupakan salah satu Pura yang ada di Bali. Kemudian hancur akibat pertempuran ini.

  Namanya jeruk bali, tapi bukan berasal dari Bali

Setelah mendapat kemenangan atas penakulan di Bali, Arya Sentong membangun peristirahatan di Perean Tabanan. Tempat ini kemudian menjadi pusat pemerintahannya di Bali. Arya Sentong kemudian digantikan oleh keturunannya yang bernama I Gusti Ngurah Pacung Sakti.

Pusat pemerintahannya terus berpindah hingga, akhirnya bertempat bernama Alas Padang Jerat. Dirinya kemudian mendirikan kerajaan di sebuah desa yang disebut Desa Punging Puspa. Lama kelamaan, setelah desa menjadi makmur, tertata rapi, Punging Puspa diganti menjadi Desa Carangsari dan lebih gampang penyebutannya.

2. Tempat kelahiran I Gusti Ngurah Rai

Patung I Gusti Ngurah Rai (Wikipedia)

I Gusti Ngurah Rai merupakan salah satu pahlawan Indonesia yang berasal dari Bali. Dalam sejarahnya, dirinya diketahui terlibat dalam peristiwa Perang Puputan Margana. Sementara itu Desa Carangsari merupakan tempat kelahiran pahlawan masyarakat Bali ini, di desa ini terdapat patung dari I Gusti Ngurah Rai.

Sebagai tempat kelahiran dari salah satu pahlawan nasional. Tokoh setempat berharap spiritnya tetap diwarisi oleh masyarakat setempat, salah satunya dalam pembangunan desa wisata. Memiliki luas 885 hektare, potensi wisata desa memang sangat banyak, selain sejarah, pengurus desa juga menjadikan tempat ini sebagai desa wisata berbasis konservasi berkelanjutan.

  Cara unik Desa Detusoko menghadapi hama tanaman padi

“Yang membedakan Desa Carangsari jelas, kami punya I Gusti Ngurah Rai. Jadi di desa lain tidak ada I Gusti Ngurah Rai. Jadi di sini ada I Gusti Ngurah Rai, pahlawan nasional kami sehingga spirit beliaulah yang kami ambil bersama-sama,” kata Ketua Pengeloala Desa Wisata, Ida Bagus Nama Rupa yang dinukil dari Detik.

Kini Caringsari sudah ditetapkan sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Badung sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Badung Nomor 47 tahun 2010. Meski demikian, kedatangan para turis asing ke Desa Carangsari telah dibicarakan sejak tahun 1996 saat dibahas oleh True Bali Experience.

3. Potensi Desa Carangsari

Wisata Desa Carangsari (Jadesta)

Sebuah kawasan bisa menjadi desa wisata bila memiliki daya tarik, entah itu alam, budaya atau sumber daya manusia lokal yang terlibat dalam pengembangan desa wisata. Kriteria ini bisa Anda lihat di Desa Carangsari. Singah di desa ini Anda bisa menikmati beragam tempat wisata yang sangat mengagumkan.

Desa Wisata Carangsari memiliki 14 daya tarik untuk wisatawan, khususnya kalangan milenial pecinta alam. 14 daya tarik tersebut antara lain Sungai Ayung, Yeh Penet, kebun kopi. arung jeram, flying fox, cycling dan glamping (glamour camping). Tidak hanya itu, ditempat ini juga terdapat akulturasi budaya Bali dan Tionghoa.

  Melihat ayam yang lebih dari sekadar hewan ternak di Bali

Seni budaya juga tidak boleh dilewatkan, wisata bisa melihat beragam kesenian antara lain, wayang kulit paruwe, wayang ramoyane, barongsai, tarian hanoman, barangket, gamelan khas Bali, barong landung, dan tari topeng Tugek Carangsari. Tari ini diciptakan dan dipopulerkan oleh maestro I Gusti Ngurah Widya yang kini berusia 75 tahun.

Selepas berwisata, tidak akan lengkap rasanya bila tidak membawa pulang oleh-oleh khas desa wisata ini. Wisatawan dapat membeli produk ekonomi kreatif warga setempat, antara lain virgin coconut oil (minyak kelapa murni), madu, dan kriya bokor dari kertas karya Ketut Tirtayasa.

Foto:

  • desacarangsari.com
  • Wikipedia
  • Jadesta

Artikel Terkait

Artikel Lainnya