Rumah kerbau tergusur dan dampak budaya orang Lombok yang akan terkubur

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kerbau (Perkumpulan telapak/Flickr)
Kerbau (Perkumpulan telapak/Flickr)

Sudah menjadi tradisi turun temurun bagi masyarakat Lombok terutama di bagian selatan untuk beternak kerbau. Pantai-pantai indah di bagian selatan dahulu merupakan rute kerbau mencari makan, tempat kerbau berendam dan tempat para pengembala membangun kandang darurat.

Berbeda dengan sapi, beternak kerbau bagi masyarakat Lombok adalah budaya. Kerbau memiliki hubungan kuat dengan berbagai ritual adat, termasuk juga beternak kerbau juga memiliki ritual tersendiri. Bagi petani dan peternak, kerbau adalah tabungan jangka panjang.

Lalu bagaimana budaya kerbau di daerah Lombok? Berikut uraiannya:

1. Kerbau di Lombok

Kerbau (rasha_ieda/Flickr)
Kerbau (rasha_ieda/Flickr)

Kerbau adalah lambang status sosial bagi masyarakat Lombok. Kekayaan bisa diukur dari berapa kerbau yang dimiliki. Untuk melamar anak gadis, masyarakat Lombok masih menjadikan kerbau sebagai mahar. Misalnya di Bayan, Lombok Utara, tradisi ini masih dipertahankan.

“Walau hari ini bisa dihitung dengan jari kepemilikan kerbau daerah kaki Gunung Rinjani ini,” tulis Fathul Rakhman yang dimuat di Mongabay Indonesia.

Di Sembalun, Lombok Timur, salah satu ritual adat ngayu ayu masih menjadi kerbau sebagai salah satu syarat. Penyembelihan kerbau dalam ritual syukuran atas berkah kesuburan hasil pertanian itu tak bisa lepas dari kerbau. Walau tak ada lagi pengembala dan peternak kerbau di Sembalun,

  Musamus, keunikan 'candi' alam yang jadi potensi wisata di Kampung Salor, Merauke

Akademisi Universitas Mataram juga budayawan Lombok, Nuriadi Sayip mengatakan tradisi yang hampir punah saat ini adalah nemoeq moto seong. Hal ini terjadi karena seiring mulai berkurangnya animo masyarakat memelihara kerbau.

Misalnya terlihat di pegunungan di sepanjang pantai selatan yang dahulu merupakan tempat penggembala hewan ternak secara bebas. Kini menurut Nuriadi, rata-rata telah berpindah pemilik ke investor, yang kemudian jadi sebagai tempat perhotelan dan obyek-obyek pariwisata.

2. Mulai kehilangan tempat

Kerbau (Mohammad Syahid Rosley/Flickr)
Kerbau (Mohammad Syahid Rosley/Flickr)

Kerbau mendadak menjadi perbincangan ketika ramai persiapan MotoGP di Sirkuit Mandalika, di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Ketika itu kerbau bersanding tenar dengan pawang hujan yang beraksi di MotoGP atau pembalap yang berulang kali jatuh.

Di Lombok Timur, kerbau memang sering membuat repot seluruh pejabat. Pada akhir Januari 2022, sampai ada rapat besar, penyebabnya kerbau-kerbau ini asyik merumput di kawasan hutan Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.

Kerbau ini tak pilih-pilih tempat, mereka makan rumput, makan semak belukar, tidur dan buang kotoran di kawasan hutan seluas 339 hektare yang jadi konsesi PT Eco Solution Lombok (ESL) ini. Perusahaan dari Swedia ini terganggu dengan sekitar 800 kerbau masuk konsesi.

  Inilah kuliner simbol harga diri masyarakat Bugis-Makassar

Sementara itu, sirkuit itu dahulunya merupakan kubangan kerbau. Di tempat itu juga para pengembala memanjakan kerbau, berendam hingga sore. Namun setelah adanya KEK Mandalika, kerbau-kerbau ini kehilangan rumah. Para pengembala kerbau makin kesulitan mencarikan jalan bagi kerbau mereka.

“Sekarang masyarakat yang dahulu bertani dan peternak mulai membuka usaha wisata,” kata Supriandi, tokoh adat Desa Kuta.

3. Mencoba melawan

Kerbau (Mohammad Syahid Rosley/Flickr)
Kerbau (Mohammad Syahid Rosley/Flickr)

Gunasih alias Amaq Sur menyebut di Tampah Boleq juga dikenal dengan Pantai Kaliantan, pengembala dari Lombok Timur dan Lombok Tengah sering menggembalakan kerbau. Mereka juga membangun kandang dan berbagi ruang dengan para petani rumput laut.

Para pengembala yang membangun kandang dan gubuk bersepakat, kawasan lebih dari 100 hektare itu tak bisa dimiliki. Semua pengembala dan nelayan berhak memanfaatkan. Setelah musim pengembalaan berakhir, lokasi ini akan ditinggalkan, dan kembali didatangi lagi pada musim pengembalaan.

“Kami taruh kerbau di kandang ketika musim tanam karena khawatir akan merusak tanamannya,” katanya.

Selain masalah yang dihadapi kerbau-kerbau ini justru dari investor pariwisata dan pemerintah. Tanah Tampah Boloeq yang berpuluh-puluh menjadi tanah ulayat tiba-tiba dikuasai pribadi. Masuknya investor dari Jakarta hingga luar negeri, padahal telah puluhan tahun telah dimanfaatkan masyarakat.

  Hama puthul, serangga yang jadi menu makanan di Gunungkidul

Telah bertahun-tahun AMAN Lombok Timur mengadvokasi lahan Tampah Boloeq. Sayadi termasuk yang paling sering bersuara, menggelar aksi di kantor bupati, DPRD, sampai aksi teatrikal di pinggir jalan, masuk pasar. Namun pemerintah bergeming.

Suyadi menegaskan bahwa Tanah Tampah Boloeq merupakan ruang hidup dan budaya masyarakat Sasak Lombok. Setiap tahun ada ritual Bau Nyale. Sama seperti di Lombok Tengah, Bau Nyale ini kemudian menjadi festival pariwisata. 

“Sejak ada embel-embel pariwisata itulah para petani dan peternak kehilangan hak mereka atas lahan Tampah Boloeq,” ucapnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya