Sambal lingkung, kearifan lokal masyarakat Melayu simbol rasa syukur atas karunia alam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sambel Lingkung I Commons Wikimedia
Sambel Lingkung I Commons Wikimedia

Pulau Nangka, Kepulauan Bangka Belitung, menjadi sentral produksi sambal lingkung. Sambal lingkung merupakan abon ikan atau serundeng. Makanan ini menjadi wujud dari kearifan masyarakat Melayu dalam memanfaatkan hasil ikan yang melimpah agar tidak terbuang. 

Sambal lingkung dibuat menggunakan sejumlah rempah, antara lain bawang merah, bawang putih, kunyit, kemiri, serai, daun jeruk purut, laos, terasi, kelapa, gula, dan garam. Sementara itu untuk menambah cita rasa pedas akan ditambahkan cabai atau lada.

“Sambal diolah dari sisa ikan melaut yang tidak laku dijual atau tidak sanggup dimakan lagi. Umumnya, ikan-ikan karang atau tenggiri yang memang ada musim penangkapnya,” kata Marsidi (67) tokoh masyarakat Pulau Nangka yang dikutip dari Mongabay Indonesia.

Lalu bagaimana cita rasa dari sambal lingkung ini sehingga bisa digemari? Mengapa juga makanan ini menjadi sebuah kearifan lokal yang tetap dirawat hingga kini, berikut uraiannya:

1. Makanan khas masyarakat Melayu

Sambal Lingkung (Cookpad)

Masyarakat Melayu dikenal pintar mengolah makanan dari hasil alamnya yang begitu berlimpah. Salah satunya adalah sambal lingkung yang kini masih menjadi makanan favorit bagi warga Pulau Nangka, Kepulauan Bangka Belitung.

  Inikah potret desa tertua di Indonesia?

Sambal lingkung, kerap disebut dengan serundeng atau abon ikan. Makanan ini juga bisa dijumpai di Palembang, Bengkulu, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau. Hal yang membedakan dari tiap daerah adalah pada bahan, terutama ikan laut (tenggiri) dan ikan sungai (gabus).

Sisa ikan ini selain untuk sambal, juga bisa dijadikan pula sebagai ikan asin dan selai ikan. Hal ini sesuai dengan prinsip masyarakat setempat yang tidak memperbolehkan adanya sisa makanan. Semua makanan yang diberikan oleh Tuhan harus disyukuri dan dimanfaatkan.

Bisanya masyarakat juga menggunakan sambal ini untuk isian lemper, risol, dan roti. Pada momen besar seperti Hari Raya Idul Fitri, sambal lingkung merupakan menu wajib di setiap rumah. Karena bisa digunakan sebagai pendamping ketupat.

“Bila sakit flu atau badan tidak sehat, makan saja sambal ini, mudah-mudahan kembali bugar, ujar Zaineb, istri Marsidi.

2. Butuh bantuan investasi

Sambel lingkung (Mongabay Indonesia)

Wisatawan ketika berkunjung ke tempat ini selalu mencari sambal lingkung, selain keripik siput gonggong, otak-otak, serta kerupuk udang dan cumi. Biasanya para produsen menjual Rp110 ribu per kilogram ke pedagang, setelahnya pedagang menjual kisaran Rp125 ribu. Untuk modal sendiri menghabiskan sekitar Rp75 ribu – Rp80 ribu.

  Bubu, alat tangkap ikan tradisional yang ramah lingkungan

“Ini karena harga ikan yang naik turun. Setiap bulan, rata-rata diproduksi sekitar 100 kilogram,” ucap Maimunnah (70), seorang pemasok sambal lingkung di Dusun Pulau Nangka.

Sukardi, Kepala Dusun Pulau Nangka menjelaskan sambal lingkung dari Pulau Nangka ini selalu dicari oleh wisatawan. Banyak yang memesan. Namun masyarakat terkendala modal untuk mengembangkannya. Salah satu alasannya adalah menurunnya hasil tangkapan ikan.

Dirinya menyebut walau kondisi laut masih sama seperti dahulu, jumlah pencari ikan di sekitar Pulau Nangka bertambah. Saat ini, sejumlah warga mencoba mengembangkan samal lingkung menggunakan ikan seminyak dan jebung.

“Rasanya enak dan sudah ada pemesan,” ujarnya.

3. Sebagai kearifan lokal

Hasil laut Pulau Nangka (Explore Babel)

Masyarakat Melayu di Kepulauan Bangka Belitung dianugerahi hasil laut yang melimpah. Sebagai bentuk rasa syukur mereka tidak hanya mengkonsumsinya, tetapi menjadikannya produk olahan seperti sambal lingkung, rusip, terasi, dan ikan asin.

Masyarakat juga memiliki kebun campuran (kelekak), ditanami durian, cempedak, dan manggis, dipastikan memproduksi tempoyak, serta dodol durian dan cimpedak. Sumber hidup masyarakat sekitar memang tidak hanya dari lada dan buah, tetapi juga dari sungai dan laut.

  Desa wisata sebagai ladang konservasi alam dan budaya

Karena itulah leluhur mereka menolak menjadi penambang ketika zaman Kesultanan Palembang, sehingga sultan ketika itu mendatangkan pekerja tambang dari China. Kenyataan ini menjadi bantahan narasi sejarah yang menyebutkan leluhur masyarakat Bangka sebagai seorang pemalas.

“Menurut saya, mereka sudah hidup bahagia dengan hasil alam yang melimpah, saat itu, Indonesia sudah dikenal dengan hasil rempah,” ujar Agussari, warga Desa Puput, Kabupaten Bangka Tengah.

Karena terbiasa berdampingan dengan alam. leluhur mereka sangat menjaga hutan, sungai, dan laut. Karena bila rusak, mereka juga yang akan rugi karena akan kehilangan sumber pangan dan ekonomi.

“Dapat dikatakan, hampir semua masyarakat Melayu di Bangka maupun Belitung sekolah atau naik haji karena hasil alam,” katanya.

Foto:

  • Wikipedia
  • Cookpad
  • Mongabay Indonesia
  • Explore Babel

Artikel Terkait

Artikel Lainnya