Sirop Bogem, minuman berkhasiat dari wilayah pesisir berbahan dasar mangrove

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
sirop bogem
Sirop bogem (via omiyago.com)

Tanaman mangrove selama ini memang dikenal punya peran besar bagi lingkungan. Mulai dari menjaga keseimbangan alam, mencegah abrasi, melindungi pesisir dari gelombang ombak bahkan tsunami, dan lain-lain. Tapi di samping itu, ternyata belum banyak yang tahu kalau mangrove juga punya potensi besar dari segi nilai ekonomi.

Dari sekian banyak jenis mangrove yang ada di Indonesia, ada satu spesies mangrove yang keberadaanya disertai buah. Buah itu lah yang kemudian bisa diolah menjadi bahan minuman sirop, untuk selanjutnya dijual sebagai produk yang punya nilai ekonomi. Adapun buah mangrove yang dimaksud adalah Sonneratia caseolaris, yang memiliki banyak nama lain seperti pidada merah, bogem, dll.

Bagaimana proses pengolahan buah mangrove hingga menjadi minuman, dan seberapa besar potensinya?

1. Sirop bogem yang kaya manfaat

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by sirup mangrove bogem (@bogemsirup)

Tanaman dari mangrove bogem banyak ditemui di daerah perairan payau. Buah dari tanaman ini pada bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga, berbentuk bola, dan memiliki ujung buah bertangkai. Tidak beracun, tanpa diolah menjadi sirop sebenarnya buah bogem bisa langsung dimakan. Buah ini memiliki cita rasa asam dan aroma yang khas.

  Sekolah Mangrove dan upaya pelestarian lingkungan pesisir Pantai Tawabi

Karena penyebarannya yang merata di berbagai wilayah Indonesia, sebenarnya usaha membuat sirop bogem bisa ditemui di sejumlah wilayah tersebut. Beberapa di antaranya adalah wilayah Lampung hingga kawasan pesisir Jawa Timur.

Di Surabaya misalnya, pembuat sirop bogem dapat dijumpai di Kelurahan Wonorejo. Sementara itu di Gresik, pembuat dan bentuk usahanya dapat dijumpai di Desa Wisata Banyuurip. Sedangkan di Lampung, masyarakat yang berjualan sirop mangrove bogem berada di Desa Margasari, Lampung Timur.

Selain sebagai minuman penyegar, salah satu hal yang membuat minuman ini banyak diproduksi adalah karena khasiatnya. Sirop ini diyakini dapat mengobati panas dalam, sariawan, batuk, dan flu. Minuman ini disebut memiliki kandungan vitamin C yang tinggi dan berfungsi sebagai antioksidan.

2. Proses pembuatan

Buah mangrove bogem (Hai Le/Flickr)

Meski dapat dijumpai di berbagai wilayah, masing-masing lokasi biasanya memiliki cara sendiri dalam mengolah buah bogem menjadi sirop. Namun secara garis besar, pengolahan tersebut hampir sama.

Misalnya pada proses pembuatan yang dilakukan di Desa Margasari, Lampung, produk sirop ini dibuat oleh kelompok wanita tani desa setempat. Awalnya bogem yang sudah matang diambil dagingnya, lalu diremas-remas dengan tangan untuk mendapatkan sari buahnya.

  Daftar 16 desa wisata berbasis lingkungan yang dapat penghargaan Kemenparekraf

Setelah itu, sari buah tersebut disaring dan direbus sampai mendidih dengan menambahkan air, gula, secang, rosela, dan kayu manis. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan cita rasa yang segar dengan warna yang menarik. Selanjutnya, sirop bogem sudah jadi dan siap dikemas dalam botol kemasan 250 mililiter yang sudah terlebih dulu disterilkan.

Disebutkan bahwa di desa tersebut, sirop mangrove bogem dengan kemasan 250 mililiter biasa dijual dengan harga Rp8.000 per botol. Penjualannya pun dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung ke pembeli yang ditemui atau melalui pengecer.

3. Pemberdayaan dan oleh-oleh khas Wonorejo

Pembuat sirop mangrove di Wonorejo (Fena Olyvira/SuperRadio.id)

Bergeser dari Lampung, hal berbeda dapat ditemui dengen usaha pengolahan sirop bogem yang ada di Wonorejo. Rupanya di kelurahan ini, ada yang sudah membuat usaha minuman tersebut sejak tahun 2004. Bahkan produknya sudah terdaftar dan memiliki hak paten merek, serta mendapat sertifikasi halal dari MUI.

Adapun pelaku usaha sirop bogem di wilayah tersebut adalah seorang pria bernama Soni Mohson. Lebih detail, dengan bahan berupa 1 kilogram buah bogem, ia bisa menghasilkan sekira 2,6 liter atau tujuh botol kaca sirop berukuran 360 mililiter.

  Mengenal 5 wilayah adat yang ada di Provinsi Papua

Meski begitu, ia menjelaskan bahwa jumlah produksi sirop yang dilakukan tidak menentu, karena bergantung pada panen bogem yang ada. Soni menjelaskan jika ia biasa mengandalkan buah hasil panen pengepul di wilayah hutan mangrove.

“Jadi ada warga sekitar yang setor buah bogem ke saya, Lalu nanti di bantu ibu-ibu untuk pengupasan buahnya sebelum kemudian saya olah menjadi sirop.” ujarnya.

Dibanderol dengan harga Rp25 ribu per botol, sirup mangrove bogem ini banyak dipesan pelanggan dari berbagai daerah. Bukan hanya dari kawasan Surabaya atau Jawa Timur, melainkan juga dari Jakarta, Bengkulu, Maluku, Semarang, dan Lampung. Sirop ini kerap dijadikan sebagai oleh-oleh khas Wonorejo.

Satu hal yang menarik, 2,5 persen dari hasil penjualan sirop bogem rupanya digunakan untuk rehabilitasi mangrove di kawasan tersebut.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya