Tradisi Sisingaan, simbol perlawanan masyarakat Subang terhadap penjajahan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tradisi Sisingaan (Noorhadi Saleh/Flickr)

Boneka berwujud singa itu dinaiki oleh seorang bocah yang terlihat lugu. Empat orang laki-laki menggotong boneka singa tersebut dengan palang bambu di punggung mereka. Irama kendang, kempul. gong, dan terompet bersahut-sahutan.

Seni Sisingaan ini merupakan simbol perlawanan rakyat Subang. Karya seni ini lahir pasca pemberlakuan UU Agraria tahun 1870, ketika pemerintah kolonial Belanda membuka lebar peluang ekspansi bisnis kaum pemodal dari Eropa.

Lalu bagaimana sejarah kesenian Sisingaan ini? Dan apa maknanya bagi masyarakat Subang? Berikut uraiannya:

1. Tradisi Sisingaan

Tradisi Sisingaan (Ikhlasul Amal/Flickr)

Boneka berwujud singa itu dinaiki oleh seorang bocah yang terlihat lugu. Empat orang laki-laki menggotong boneka singa tersebut dengan palang bambu di punggung mereka. Irama kendang, kempul. gong, dan terompet bersahut-sahutan.

Pengusung kerandang berbentuk singa atau Sisingaan itu biasanya lebih dari satu kelompok. Mereka menari dan beraksi mempertontonkan gerak-gerakan yang rampak bahkan kadang akrobatik.

Sisingaan atau Singa Depok menurut T Dibyo Hartono dalam buku Bunga Rampai Sejarah dan Kebudayaan (Jawa Barat) 2010 mengatakan kesenian khas Kabupaten Subang yang ditandai dengan adanya bentuk keranda atau boneka yang menyerupai singa.

  Ironi di tanah Priangan: nasib petani yang tak seharum aroma teh

Kesenian ini diperkirakan sudah muncul pada masa penjajahan Belanda/Inggris di Indonesia pada abad 19. Saat itu masyarakat Subang mendapat tekanan secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya dari pihak kolonial.

Ketika itu pasca diberlakukannya UU Agraria tahun 1870, pemerintah kolonial Belanda membuka lebar peluang ekspansi bisnis kaum pemodal dari Eropa untuk mencari sebanyak-banyaknya hasil bumi dari Nusantara.

“Kota Subang yang sebagian wilayahnya memiliki topografi dataran tinggi dan cocok untuk areal perkebunan menjadi incaran kalangan investor asing,” dimuat dalam laman Berdikarionline.

2. Simbol perlawanan

Tradisi Sisingaan (Tarjum Sahmad/Flickr)

Pada masa itu, masyarakat Subang dikenalkan dengan dua lambang penguasa. Pertama adalah mahkota yang menjadi lambang Belanda. Kedua adalah tiga singa yang merupakan lambang Inggris.

Ketika di bawah kekuasaan Inggris inilah, masyarakat Subang mendapat tekanan ekonomi yang kuat. Segala macam cara dikerahkan Inggris untuk mengerahkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan bagi pembukaan pabrik gula baru.

Pada titik inilah masyarakat Subang tidak bisa melawan secara fisik. Karena itulah mereka melawan melalui kebudayaan, wujudnya adalah kesenian Sisingaan. Bayangan kekuasaan industri kolonial Inggris dilambangkan dengan singa.

  Teh kejek: teh injak legendaris yang berasal dari Swiss van Java

“Dalam imajinasi orang Subang, Inggris bisa ditaklukkan oleh seorang bocah yang bisa menungganginya,” tulis dalam Sisingan, Sindiran Ala Orang Sunda.

Masyarakat Subang atau pelaku seni budaya di Subang mengekspresikan pandangan mereka melalui sindiran. Pemaksaan kolonialisme Inggris yang membuat mereka menderita mereka sindir dengan Sisingaan.

Kesenian ini adalah cara berontak orang Subang terhadap penjajah yang diwujudkan sebagai singa. Hewan ini menjajah karena dia menginjak, atau diusung di atas penderitaan orang Subang yang dianggap bodoh dan miskin.

“Orang Subang berharap suatu saat nanti generasi muda yang dilambangkan dengan anak kecil penunggang. Sisingan ini akan bisa bangkit mengusir penjajah,” paparnya.

3. Hiburan rakyat

Tradisi Sisingaan (Noorhadi Saleh/Flickr)

Pada masa kini, seni pertunjukan Sisingaan lebih diartikan sebagai bagian dari hiburan rakyat. Seni Sisingaan umumnya dipentaskan dengan berkeliling kampung pada acara seperti acara khitanan, pelantikan pejabat, desa, pernikahan dan lain sebagainya.

Pertunjukan diawali dengan pemberian kata sambutan oleh pimpinan kelompok Sisingaan. Setelah acara pemberian kata sambutan, barulah sang anak yang akan dikhitan, pengantin atau tokoh masyarakat yang akan diarak menaiki boneka singa.

  Kampung Banceuy yang sejahtera karena warisan berdamai dengan alam

Kemudian dengan diiringi oleh irama lagu-lagu dari kesenian Ketuk Tilu dan Doger, 8 orang pemain dari kelompok Sisingaan akan mulai menggotong dua buah boneka singa yang telah dinaiki manusia tersebut.

Kesenian Sisingaan pun dimulai dengan mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Pertunjukan berakhir dengan sampainya rombongan Sisingaan di tempat ketika awal pertunjukan dimulai.

Selain sebagai hiburan, kini Sisingaan juga telah telah menjadi kesenian khas Kabupaten Subang yang memiliki daya tarik wisata bagi turis domestik maupun mancanegara. Acara ini pun diadakan untuk memperingati hari jadi Kabupaten Subang.

“Kesenian tersebut juga telah menjadi simbol dari Kabupaten Subang itu sendiri,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya