Tujuan spiritual para pemetik teh berdandan demi pemberi kehidupan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Teh (Farid Ruliawan/Flickr)
Teh (Farid Ruliawan/Flickr)

Siapapun yang memperlakukan sesuatu hal dengan berbalik, dipercaya akan berbalik memberi hal baik. Sikap ini dipelihara sungguh-sungguh oleh para pemetik teh dengan berdandan maksimal, gincu dan bedak.

Bagi para pemetik teh, tampil cantik di tengah kebun bukan perwujudan dorongan hormonal atau libidis yang sangat material. Tetapi mereka memandang daun-daun teh sebagai teman hidup, ciptaan Tuhan yang jadi sumber kehidupan.

Lalu apa alasan dari pemetik teh selalu berdandan? Dan mengapa tradisi tersebut masih terus dipertahankan? Berikut uraiannya:

1. Berdandan demi teh

Teh (Aryani Leksonowati/Flickr)
Teh (Aryani Leksonowati/Flickr)

Para pemetik teh di Gunung Mas, Cisarua, Jawa Barat mulai berangkat kerja pada pukul 06.00 pagi. Pemetik teh umumnya berangkat bersama, sehingga mereka akan berkumpul, lalu sarapan sebelum bekerja.

Pemetik teh ini biasanya memakai rok, celana training, kaos panjang, dan kemeja pemberian dari PTPN VIII. Pakaian itu dikenakan secara berlapis-lapis untuk menjaga diri dari angin dingin serta sinar matahari.

Hal yang menarik para pemetik teh umumnya selalu dalam keadaan berdandan (dibedaki dan menggunakan lipstik). Lipstik dan bedak selalu dibawa pemetik saat bekerja sebab mereka diharuskan selalu tampil cantik dan rapi.

Menurut pemetik kondisi tersebut bukanlah keharusan, namun sudah menjadi kebiasaan bagi pemetik juga agar mereka tidak terlihat miskin. Namun menurut agrowisata hal tersebut merupakan kewajiban dari perusahaan, karena pemetik biasanya jadi objek foto.

  Inilah kuliner simbol harga diri masyarakat Bugis-Makassar

Ros (45) menjadi salah satu pemetik teh yang selalu menjaga penampilannya. Dirinya menyimpan gincu di saku celana, sebelum bekerja dirinya memoles bibirnya hingga kembali menyala seperti tadi pagi.

“Penampilan harus selalu terjaga. Kami selalu harus tampil cantik di tengah kebun,” kata Lilis (54), mandor yang mengawasi 16 anak buahnya dalam tulisan Mohammad Hilmi Faiq dalam Bedak, Gincu, dan Pucuk-pucuk Daun Teh terbitan Litbang Kompas.

Bagi anak buah Lilis, bedak, gincu, dan pensil alis tak kalah penting dengan gunting dan mesin pemotong pucuk daun teh. Dengan kata lain, mereka rela telat kerja demi dandan. Bahkan disebut Faiq, mereka berani bekerja jika dilarang dandan.

“Syukurnya, para atasan termasuk mandor mempersilahkan mereka dandan. Ya, jelas saja, wong mandornya juga rajin dandan,” kelakarnya.

2. Spiritualisme dandan

Teh (Erwin Mulyadi/Flickr)
Teh (Erwin Mulyadi/Flickr)

Faiq menyatakan para pemetik teh tampil cantik bukan hanya demi dorongan hormonal yang sangat material. Berdandan jauh melintasi hal tersebut karena mereka memandang daun-daun teh sebagai teman hidup, ciptaan Tuhan yang jadi sumber kehidupan,

  Napak tilas perkebunan teh Malabar, warisan Bosscha yang mendunia

Lilis misalnya sejak sekolah dasar pada usia delapan tahun telah menyaksikan ibunya menggantungkan hidup pada teh. Ketika harga teh sedang bagus, tentunya berdampak pada kesejahteraan keluarganya, begitupun sebaliknya.

Dirinya mengenang pernah merasakan saat harga teh tinggi pada tahun 1997-1998. Saat itu 1 kilogram teh hitam setara dengan 5-6 kilogram beras. Kini dia juga merasakan pahitnya harga teh saat 1 kg teh hanya setara dengan satu setengah kg beras.

Lilis menganggap teh sebagai pusaran hidup karena ikut dalam pasang surut. Dirinya tumbuh dan kini membangun keluarga hingga sekarang, tak lain karena berkah dari teh, karena itulah dirinya selalu memuliakan teh.

“Lilis selalu menyebut teh dalam doa-doanya setiap akhir shalat agar Tuhan selalu menjaga kesuburan dan kesegarannya,”Ya Allah, hejo limukeun teh abdi sadayana,” begitu kutipan doa Lilis.

Hal yang berbeda dipercaya oleh Iyos (63), pensiunan pemetik teh yang kini menjadi pekerja harian lepas PTPN VIII. Dirinya sebisa mungkin tampil maksimal karena kurang percaya diri jika terlihat pucat atau kusam.

Wanita yang tinggal di Emplasmen V Cipuspa, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung juga meyakini, seperti Lilis, bahwa perlu tampil cantik ketika bercengkrama dengan daun teh.

  Gagal panen di Lanny Jaya Papua, masyarakat kelaparan

“Itu sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan. Baginya, berada di kebun teh seperti bertamu ke rumah sahabat karib,” tegas Faiq.

3. Tradisi yang menyebar

Perkebunan teh malabar (iq ronaldo/Flickr)

Kebiasaan dandan saat ke kebun teh ternyata tidak hanya dimonopoli oleh pemetik teh di Jawa barat. Beberapa pemetik teh di Sumatra Utara, Solok, hingga Bengkulu juga melakukan hal serupa.

Meskipun tidak melulu bermotif tunggal, dijelaskan oleh Faiq, salah satu yang mendorong mereka untuk berdandan saat di kebun teh adalah kepercayaan bahwa tampil cantik di kebun teh akan membawa berkah.

Ben ora pucet (agar tidak pucat). Kalau tidak pakai gincu dan bedak, dikira sakit,” kata Sukini (43).

Dirinya juga menjelaskan bahwa bedak dan gincu memiliki fungsi tambahan selain estetika. Keduanya dapat mengurangi dampak buruk cahaya matahari dan udara dingin. Dengan bedak, wajah akan terlindungi dari sinar ultraviolet, dan gincu buat bibir tidak lembab.

Peneliti kebudayaan teh, Kuswandi mengungkapkan kebiasaan berdandan ini sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Disebutnya motifnya sangat beragam, salah satunya menarik lawan jenis, termasuk para mandor.

“Dia tidak memungkiri ada semangat lain seperti diungkapkan Lilis, Sukini, dan rekan-rekannya,” pungkas Faiq.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya