3 fakta penemuan spesies pohon baru di habitat rawa gambut Sumatra

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Memiliki bentang alam berupa kawasan hutan yang luas membuat Indonesia memiliki sejumlah spesies flora dan fauna yang masih belum tereksplor secara menyeluruh. Terbukti, karena hampir dalam kurun waktu tertentu baik setiap minggu, bulan, atau tahun, selalu ada penemuan akan identifikasi jenis flora dan fauna baru yang diperoleh para peneliti.

Misalnya saja pada 2021 lalu, BRIN mencatatkan setidaknya ada sebanyak 88 penemuan jenis baru sepanjang tahun yang terdiri dari 75 spesies fauna dan 13 spesies flora. Masih berdasarkan pencatatan yang sama, diketahui bahwa 68 persen dari 75 spesies fauna yang ditemukan merupakan fauna endemik Sulawesi.

Penemuan terus berlanjut, terbaru di tahun 2022 ini ada laporan ditemukannya flora jenis baru yang masuk kategori sebagai pohon di habitat rawa gambut, pada kawasan sepanjang pantai timur Pulau Sumatra, pohon tersebut diberi nama ilmiah Disepalum rawagambut.

1. Pertama setelah 60 tahun

Ditemukan oleh dua ilmuwan asal Singapura bersama rekan ilmuwan yang juga berasal dari Indonesia, spesies flora ini adalah penemuan pertama kalinya dari jenis pohon habitat rawa gambut dalam kurun waktu 60 tahun terakhir. Diketahui bahwa pohon hutan rawa gambut yang terakhir kali ditemukan adalah Shorea retusa pada tahun 1963 yang juga berasal dari wilayah Indonesia.

  Yaki, monyet jambul hitam endemik Sulawesi

Penamaan Disepalum sendiri merujuk pada genus tanaman yang masuk dalam familia Annonaceae, dan diketahui telah lama tersebar di kawasan Tiongkok Selatan, Indo-Cina, dan Malesia.

Sementara itu merujuk jurnal penemuan yang dipublikasi melalui Biotaxa, disebutkan jika penamaan tambahan rawa gambut sendiri mengacu pada habitat spesifiknya, yakni hutan rawa gambut. Dijelaskan bahwa spesies pohon ini banyak tumbuh pada kawasan hutan di ketinggian 600-1.200 meter dari kawasan sepanjang pantai timur Pulau Sumatra.

2. Keunikan karakteristik

Masih menurut publikasi yang sama, dijelaskan bahwa pohon Disepalum rawagambut memiliki ukuran yang sedang lebih tepatnya dengan tinggi 25 meter dan diameter badan pohon dengan ukuran sekitar 28 sentimer.

Memiliki kulit batang berwarna abu-abu kusam dan terkadang mendekati warna coklat tua dengan bercak abu-abu-putih, permukaan batangnya kasar dengan tekstur retak tidak beraturan, bersisik, dan mengelupas pada beberapa bagian.

Bagian yang paling menarik dari pohon rawa gambut satu ini adalah bunganya yang memiliki wujud mencolok. Jika masih berada pada masa muda, bakal bunganya berwarna hijau dengan disertai daun hampir membulat di kedua sisi.

  Death Adder, ular berbisa dunia yang banyak dijumpai di Papua

Ketika tumbuh, bunganya akan memiliki wujud menyerupai kumpulan rambut tebal dengan warna merah yang pada beberapa bagiannya ditumbuhi biji berwarna merah kehitaman.

3. Peran dalam ekosistem

Bunga dari pohon ini diketahui akan mekar dan berbuah sebanyak dua kali dalam kurun waktu satu tahun, yakni di Bulan Maret–April dan Oktober–November. Bagian buah pada bunganya biasa dimakan oleh burung rangkong, sementara itu jika ada buah yang jatuh biasanya akan dimakan oleh mamalia darat seperti babi hutan dan kancil.

Selain dimanfaatkan oleh hewan di sekitar hutan, diketahui bahwa batang dari pohon Disepalum rawagambut ini sebelumnya kerap digunakan oleh masyarakat lokal sebagai kayu bakar.

Penemuan ini jelas menambah jajaran pohon hutan rawa gambut yang sudah ada di Indonesia, beberapa di antaranya adalah pohon Ramin (Gonystylus bancanus), Jelutung (Dyera costulata), Punak (Tetramerista glabra), dan Bintangur (Calophyllum sclerophyllum).

Foto:

  • biotaxa.org
  • Agusti Randi via The Straits Times

Artikel Terkait

Artikel Lainnya