Cantik tapi liar, inilah Cucak Ijo sang ayam hutan endemik Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Cucak Ijo (PietervH/Flickr)

Tak banyak yang tahu bahwa Cucak Ijo atau Green Junglefowl adalah ayam hutan yang hanya ditemukan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa dan Bali.

Ayam hutan ini memiliki keunikan dan keindahan yang membuatnya populer di kalangan penghobi burung, juga di kalangan masyarakat umum karena ayam hutan ini kerap dijadikan hewan peliharaan atau digunakan dalam upacara adat. Berikut ini adalah penjelasan lebih detail tentang Cucak Ijo.

Secara morfologi, cucak ijo memiliki tubuh yang kecil dan ramping ketimbang ayam lazimnya, dengan panjang sekitar 60 cm. Biasanya, pejantan memiliki warna bulu yang lebih cerah daripada betina.

Bulu jantan berwarna hijau zaitun terang dengan sayap dan ekor berwarna kebiruan, sedangkan bulu betina lebih gelap dan lebih banyak warna coklat. Jantan memiliki jumbai merah di kepala, dan betina memiliki jumbai hitam. Cucak Ijo juga memiliki paruh dan kaki yang kuat, cocok untuk hidup di hutan.

Habitat asli ayam hutan ini lebih banyak ditemukan di daerah pegunungan, meskipun kadang-kadang juga terlihat di dataran rendah. Cucak ijo menyukai daerah yang lembap dan lebat dengan banyak tumbuhan, terutama tumbuhan semak dan pepohonan yang tinggi.

  Bagaimana status populasi harimau Malaya?

Sama seperti ayam kebanyakan, cucak ijo adalah hewan omnivora, yang berarti mereka memakan berbagai jenis makanan. Mereka makan buah-buahan, biji-bijian, serangga, dan bahkan kecil-kecil seperti tikus dan ular. Mereka biasanya mencari makan di tanah atau di bawah tumbuhan semak.

Umumnya, cucak ijo hidup dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh seekor pejantan yang akan mengeluarkan suara keras untuk menandai wilayah kekuasaannya dan mengumandangkan suara indah saat berusaha menarik perhatian betina.

Saat musim kawin tiba, jantan akan mengejar betina dengan suara keras dan menunjukkan keindahan bulunya yang cerah. Cucak Ijo juga sering dijadikan sebagai hewan peliharaan karena suaranya yang merdu dan keindahan bulunya.

Ancaman populasi

Populasi cucak ijo yang menurun (Johnson/Flickr)

Saat ini, cucak Ijo terancam keberadaannya karena habitatnya semakin terganggu dan kerap diburu untuk dijadikan hewan peliharaan.

Populasi cucak ijo di alam liar semakin menurun, dan saat ini termasuk dalam kategori rentan (Vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk melindungi ayam hutan ini dan mempertahankan keberadaannya di alam liar.

  Mengenal Kedih, monyet bermuka sedih endemik Sumatra

Sejatinya cucak ijo memiliki arti penting dalam budaya dan adat masyarakat Indonesia. Ayam hutan ini sering digunakan dalam upacara adat seperti pernikahan, dan menjadi simbol kekuatan dan keindahan dalam budaya tradisional Indonesia.

Selain itu, cucak ijo juga sering dijadikan hewan peliharaan atau diikutkan dalam kontes burung. Suaranya yang merdu dan keindahan bulunya membuat ayam hutan ini menjadi burung yang populer di kalangan penghobi burung.

Cucak ijo juga memiliki nilai ekologi yang penting sebagai hewan pengendali hama. Sebagai hewan omnivora, ayam hutan ini memakan serangga, tikus, dan ular, yang merupakan hama di kebun atau pertanian. Kehadiran cucak ijo di alam liar dapat membantu mengendalikan populasi hama dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Oleh karena itu, perlindungan dan konservasi ayam hutan endemik ini penting dilakukan untuk menjaga keberlangsungan hidup spesies ini. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi populasi cucak ijo antara lain:

1. Melestarikan habitat alaminya

Cucak ijo hidup di hutan, sehingga perlu menjaga kelestarian hutan sebagai habitat alaminya. Pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian atau perumahan perlu dikurangi agar populasi cucak ijo tetap stabil.

  Death Adder, ular berbisa dunia yang banyak dijumpai di Papua

2. Mengurangi perburuan

Cucak ijo sering diburu untuk dijadikan hewan peliharaan atau diikutkan dalam kontes burung. Oleh karena itu, perlu diadakan kampanye untuk mengurangi perburuan dan mendorong masyarakat untuk tidak lagi memburu ayam hutan ini.

3. Peningkatan kesadaran masyarakat

Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keberadaan cucak ijo perlu dilakukan. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, diharapkan akan tercipta kesadaran kolektif untuk melindungi ayam hutan ini.

4. Peningkatan penegakan hukum

Peningkatan penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan cucak ijo perlu dilakukan agar pelaku yang melakukan tindakan tersebut bisa dijerat hukum dan tercipta efek jera bagi pelaku lain.

Dengan adanya upaya-upaya yang dilakukan untuk melindungi cucak ijo, diharapkan keberadaan ayam hutan ini tetap terjaga di alam liar dan dapat diteruskan hingga generasi mendatang. Cucak Ijo bukan hanya memiliki keindahan dan keunikan, tetapi juga memiliki nilai ekologis dan budaya yang penting bagi masyarakat Indonesia.

Artikel Terkait

Terbaru

Humanis

Lingkungan

Berdaya

Jelajah

Naradata