Di balik keindahannya, burung endemik Papua Nugini ini ternyata beracun!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
burung endemik beracun
Hooded Pitohui (Markus Lilje/flickr)

Papua selama ini dikenal sebagai rumah bagi berbagai macam spesies burung yang ada di Indonesia. Baik endemik atau tidak, nyaris setengahnya yakni kisaran 600-an lebih spesies dari total 1.818 spesies burung Indonesia, ada di tanah Papua.

Bicara spesisik mengenai burung endemik, jenisnya juga ada banyak. Misal burung namdur, burung mambruk, hingga cenderawasih.

Di perbatasan wilayahnya yakni Papua Nugini, kehidupan ragam burung endemik yang ada juga memperkaya daftar burung unik yang ada. Ada salah satu jenis burung endemik nan unik yang berasal Papua Nugini dan layak dikenal, yakni burung pitohui.

Mengapa burung tersebut unik? Mari mengenal spesiesnya lebih jauh

1. Burung endemik beracun yang tak biasa

Burung pitohui dewasa. (Benjamin Freeman/Wikimedia Commons)

Bukan hanya reptil, serangga, atau makhluk laut, ternyata burung juga ada yang beracun. Mungkin terdengar tak biasa, tapi begitulah adanya.

Sebenarnya Pitohui merupakan keluarga burung endemik dari Papua Nugini. Mereka terdiri atas enam subspesies berbeda yang punya ciri khas sama, yaitu jadi satu-satunya keluarga burung yang memiliki racun di dunia.

  Tak pernah bosan mengamati tradisi tahunan sang penjelajah langit

Dari ke-enam subspesies tersebut, salah satu yang paling yang menarik adalah hooded pitohui yang memiliki nama latin Pitohui dichrous. Alasan dari menariknya burung satu ini adalah karena burung endemik hooded pitohui lah yang paling beracun.

Fakta burung beracun ini memang terbilang tak biasa, karena nyatanya hooded pitohui memiliki wujud tubuh yang indah. Secara sederhana jika dilihat sekilas, mereka memiliki perpaduan warna merah cerah di perut dan perutnya. Sedangkan untuk bagian kepala, sayap, dan ekor berwarna hitam.

2. Fakta racun burung hooded pitohui

(Sheau Torng Lim/flickr)

Mengutip penjelasan di laman Aquarium of Pasific, pengamatan yang dilakukan peneliti menyebut kalau racun hooded pitohui ternyata berasal dari kumbang kecil yang mereka makan. Dari kumbang tersebut, mereka memproduksi racun bernama neurotoxic alkaloid dari jenis batrachotoxin.

Zat racun tersebut yang kemudian diaplikasikan pada kulit dan bulu yang terkonsentrasi pada area perut, dada, dan kaki.

Di balik itu, mereka sebenarnya memiliki wujud tubuh yang kecil dan membuat mereka mudah dijadikan oleh hewan lain yang berukuran lebih besar, termasuk manusia. Karena itu, para ahli berpendapat jika fakta racun yang dimiliki burung pitohui sebenarnya lebih berfungsi sebagai kelebihan untuk melindungi diri.

  Kisah cenderawasih, burung bersejarah penghuni nirwana

Melansir Beauty of Birds, racun yang dimiliki burung pitohui membuat burung ini memiliki daging yang rasanya tak nikmat untuk dikonsumsi. Bukan tanpa alasan, hal tersebut lantaran dagingnya mengeluarkan bau yang menyengat.

Di lain sisi, dampak tertentu juga akan dirasakan jika racun pitohui terkena atau bersentuhan langsung dengan manusia. Dijelaskan bahwa jika kulit manusia bersentuhan langsung dengan bagian tubuh pitohui yang beracun akan menimbulkan sejumlah efek samping.

Adapun efek samping yang dimaksud di antaranya terdiri dari kesemutan, mati rasa, bersin-bersin, serta mata berair yang disertai sensasi terbakar.

3. Karakter hooded pitohui

Burung hooded pitohui disebutkan biasa hidup di hutan Papua Nugini yang berada di atas ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Yang menarik, mereka rupanya termasuk burung yang hidup dengan cara berkoloni. Burung pitohui hidup berkelompok dengan tujuan agar dapat saling melindungi satu sama lain. Bukan cuma itu mereka, ternyata juga termasuk hewan yang mudah ‘bersosialisasi’.

Maksudnya, burung pitohui ternyata biasa terbang bergerombol dengan jenis burung lain, salah satunya cenderawasih. Bukan tanpa alasan, rupanya kebiasan mereka berbaur dengan burung lain dilakukan sebagai upaya untuk melindungi diri.

  Cikalang, burung perompak yang bisa menujukkan indikator alam

Biasanya, terjalin juga simbiosis mutualisme di mana burung pitohui terbang bersama burung lain sebagai pelindung. Hal tersebut lantaran burung pitohui bisa melindungi kawanan lewat keberadaan racun pada tubuhnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya