Dianggap punah 140 tahun lalu, burung Auwo menampakkan diri di Papua Nugini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Merpati kepala hitam (Doka Nason/American Bird Conservancy)

Belakangan, sebuah tim ilmuwan dan konservasi telah menemukan kembali Burung Merpati Kepala Hitam yang diyakini cukup langka dan dianggap punah 140 tahun lalu.

Spesies bernama latin Black-naped Pheasant-Pigeon ditemukan kembali di habitat aslinya yakni Pulau Fergusson. Sebuah pulau terjal di Kepulauan D’Entrecasteaux di lepas pantai timur Papua Nugini. Demikian tulis American Bird Conservacy (ABC), Kamis (17/11/2022).

Seperti spesies merpati lainnya, burung yang memiliki nama lokal Auwo ini memiliki ekor yang lebar dan terkompresi secara lateral, yang secara fisik sangat mirip dengan burung merpati pada umumnya, namun yang ini secara ukuran lebih besar.

Penemuan yang mencengangkan

Sejatinya, pengamatan burung ini telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir oleh pemburu lokal. Foto terakhir yang terdokumentasikan terkait spesies ini adalah pada 1882 (140 tahun lalu), dan semenjak itu tak ada lagi dokumentasi tentang Auwo. Karenanya para ahli burung menganggap bahwa spesies ini sudah punah.

Namun, pada November 2022, melalui kamera jebak yang dipasang di Pulau Ferguson, para peneliti terperanjat dengan kemunculan kembali Auwo.

“Ketika kami mengumpulkan jebakan kamera, saya memperkirakan ada kurang dari satu persen peluang untuk mendapatkan foto Pheasant-Pigeon Black-naped,” kata Jordan Boersma, peneliti postdoctora Cornell University yang menjadi salah satu pemimpin tim ekspedisi. 

“Kemudian saat saya melihat-lihat foto, saya terpana dengan foto burung ini yang berjalan melewati kamera kami,” tandasnya.

“Setelah sebulan mencari, melihat foto-foto pertama burung merpati terasa seperti menemukan unicorn,” tambah John C. Mittermeier, Direktur program ABC yang juga bagian tim ekspedisi. 

  Kado lebaran untuk Sang Guru SD di lereng Gunung Semeru

“Ini adalah momen yang Anda impikan sepanjang hidup Anda sebagai seorang konservasionis dan pengamat burung.”

Merpati kepala hitam (Doka Nason/American Bird Conservancy)

Kesaksian warga lokal

Tim ekspedisi melibatkan warga lokal Papua Nugini yang bekerja dengan Museum Nasional Papua Nugini, Laboratorium Ornitologi Cornell, dan Konservasi Burung Amerika (ABC). Rombongan tim telah tiba di Pulau Fergusson sejak awal September 2022. 

Mereka menghabiskan waktu sebulan guna berkeliling pulau, mewawancarai masyarakat setempat untuk mengidentifikasi lokasi untuk memasang kamera jebak, dengan harapan menemukan burung langka tersebut. Medan pegunungan yang curam di Pulau Fergusson membuat pencarian burung itu menjadi sangat menantang.

“Baru setelah kami mencapai desa-desa di lereng barat Gunung Kilkerran, kami mulai bertemu dengan para pemburu yang telah melihat dan mendengar burung-burung merpati,” kata Jason Gregg, ahli biologi konservasi tim ekspedisi. 

“Kami semakin percaya diri dengan nama lokal burung tersebut, yaitu ‘Auwo’, dan merasa semakin dekat dengan habitat inti tempat tinggalnya.

Ekspedisi tersebut merupakan studi kamera jebak pertama yang dilakukan di Pulau Fergusson. Tim menempatkan 12 kamera jebak di lereng Gunung Kilkerran, gunung tertinggi di Pulau Fergusson, dan memasang 8 kamera tambahan pada lokasi di mana pemburu lokal telah melaporkan melihat burung Auwo beberapa waktu lalu.

“Akhirnya kami menemukan Pheasant-Pigeon Black-naped, itu terjadi pada jam-jam terakhir ekspedisi,” kata Doka Nason, anggota tim pemasang kamera jebakan yang akhirnya memotret burung langka tersebut. 

Semua dimulai ketika seorang pemburu lokal bernama Augustin Gregory dari Desa Duda Ununa di sebelah barat Gunung Kilkerran, memberikan petunjuk untuk bisa menemukan burung itu. Gregory menyebut pernah melihat burung Auwo beberapa kali di daerah pegunungan dan lembah yang curam, serta menjelaskan sering mendengar suara khas burung tersebut.

  Dua spesies baru, burung sikatan dan kacamata laut ditemukan di Pegunungan Meratus, Kalimantan

Mengikuti saran Gregory, kemudian tim memasang kamera jebak di area hutan lebat. Sebuah kamera ditempatkan di punggung bukit pada ketinggian 3.200 kaki (1.000 meter) dekat Sungai Kwama, Desa Duda Ununa. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil dan mendapatkan gambar Auwo di tanah hutan, tepat dua hari sebelum tim dijadwalkan meninggalkan pulau.

Sebelumnya, beberapa anggota tim memang telah berusaha untuk menemukan Auwo. Seperti pada sebuah survei selama dua pekan di 2019 yang dilakukan oleh Boermsa, Gregg, dan Nason. Namun kegiatan tersebut berakhir nihil dan tak menemukan jejak burung tersebut. Padahal, mereka telah mengumpulkan laporan dari pemburu lokal tentang burung yang kemungkinan besar adalah burung Auwo.

Namun begitu, catatan-catatan terkait survei dan lokasi penelitian pada 2019 itu yang kemudian dijadikan acuan pada pencarian dan penelitian lanjutan di 2022.

Benteng terakhir sang burung

Atas temuan ini, tim ekspedisi mengambil kesimpulan bahwa burung Auwo akan tetap ada, meski kemungkinannya sangat langka. Hutan dan bukit terjal yang susah diakses, diyakini sebagai benteng terakhir ekosistem burung Auwo di pulau itu.

“Fakta bahwa banyak orang yang kami wawancarai belum pernah melihat atau mendengar tentang burung pheasant-pigeon benar-benar menyoroti betapa sulit ditangkapnya burung ini dan menunjukkan bahwa ia bisa sangat sensitif terhadap gangguan manusia,” tandas Cosmo Le Breton, asisten peneliti dari Universitas Oxford.

  Pilu, masyarakat adat terakhir Suku Amazon yang hidup sendiri ditemukan meninggal

“Penemuan kembali ini adalah mercusuar dan harapan yang luar biasa bagi burung lain yang telah hilang selama setengah abad atau lebih,” sambung Christina Biggs, Manajer Re:wild.

“Medan yang dicari tim sangat sulit, tetapi tekad mereka tidak pernah goyah, meskipun begitu sedikit orang yang ingat pernah melihat burung merpati dalam beberapa dekade terakhir.”

Sementara Roger Safford, Manajer Program Senior dari BirdLife International, mengatakan bahwa informasi dasar terkait spesies dan penemuan ini menjadi sangat penting, terutama untuk populasi Auwo dan hewan endemik lainnya di Pulau Ferguson.

“Selain memberikan harapan untuk pencarian spesies lain yang hilang, informasi terperinci yang dikumpulkan oleh tim telah memberikan dasar untuk konservasi burung yang sangat langka ini, yang tentunya sangat terancam, bersama dengan spesies unik lainnya di Pulau Fergusson,” pungkasnya.

Potensi punahnya populasi

Pulau Ferguson di Papua Nugini (Tim Scott/Flickr)

Mengutip Hedtopics.com, burung Auwo adalah merpati darat besar yang memakan biji dan buah yang jatuh. Spesies ini diduga akan menurun populasinya seiring hilangnya habitat hutan yang banyak dilakukan penebangan dan konversi untuk kebun pertanian subsisten.

Analisis terakhir dari data tutupan hutan satelit menunjukkan, bahwa hutan hilang dalam kisaran spesies sebesar 3,1 persen selama tiga generasi.

Mirisnya, pada 2012 terjadi kembali dilakukan penebangan di area timur Pulau Ferguson yang rencananya akan dilanjutkan selama lima tahun ke depan. Dan, nyatanya tidak ada tindakan konservasi yang dilakukan terhadap habitat satwa endemik di sana.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya