Gagah namun rentan, mengenal kucing merah endemik Kalimantan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
kucing merah
(Scott Robinson/flickr)

Selain harimau, ada satu macam satwa satu kerabat di habitat hutan Indonesia yang mengalami ancaman kepunahan sama, yakni kucing hutan. Namun, salah satu spesies yang kali ini menarik untuk dibahas adalah kucing merah endemik dari Kalimantan.

Seperti yang diketahui, hutan Kalimantan selama ini menjadi salah satu lokasi habitat yang menampung kehidupan kucing hutan terbanyak. Beberapa jenis kucing hutan yang kerap kali terekspos di antaranya kucing bakau, kucing blacan, kucing dahan Kalimantan, dan masih banyak lagi.

Tapi apa yang membuat kucing merah lebih menarik untuk dibahas kali ini? Mari mengenalnya lebih dalam.

1. Lebih dekat dengan kucing merah

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by PT Wim Tour & Travel (@wimtourtravel)

Sesuai dengan namanya, jenis kucing satu ini memang identik dengan warna bulunya yang berwarna kemerahan. Sebenarnya masih ada beberapa nama lain yang juga umum diberikan, misalnya kucing batu atau kucing Borneo. Namun secara ilmiah, mereka memiliki nama latin Pardofelis badia.

Terbilang unik, ciri fisik lain yang dimiliki oleh kucing merah adalah ukuran tubuh yang terbilang lebih lebih kecil ketimbang kucing hutan pada umumnya. Meski badannya kecil, namun bagian ekor mereka nyatanya lebih panjang.

  Unik! 3 spesies terumbu karang ini hanya ditemukan di Indonesia

Lebih detail, disebutkan jika ukuran total kepala hingga badan kucing ini berkisar antara 67 sentimeter ketika usia dewasa. Sementara itu bagian ekornya saja maksimal bisa mencapai 39 sentimeter. Soal bobot, kucing merah dewasa biasanya bisa memiliki berat sekitar 3-4 kg.

Kucing merah memiliki telingan dengan bentuk membulat, dan kepala dengan bentuk sama bahkan lebih pendek. Lebih detail soal bulu, warna sebenarnya jika dilihat dari dekat adalah cokelat kemerahan. Sementara itu pada bagian kepala mereka cenderung cokelat gelap keabu-abuan.

2. Satwa endemik nokturnal

(Johannes Pfleiderer/flickr)

Seperti yang disebutkan sebelumnya, bisa dipastikan jika hewan satu ini termasuk salah satu jenis satwa endemik Kalimantan. Namun penyebarannya juga dilaporkan sampai hingga ke daerah hutan perbatasan Malaysia.

Keberadaannya tercatat pernah terdeteksi di berbagai jenis habitat mulai dari hutan rawa sampai hutan bukit.

Meski begitu, di saat bersamaan disebutkan juga jika spesies satu ini termasuk salah satu jenis kucing hutan yang cukup jarang ditemui ketimbang kucing hutan lainnya. Bukan tanpa alasan, hal tersebut lantaran karakteristik mereka yang memang bersifat nokturnal, atau aktif di malam hari.

  Spesies baru kantong semar ditemukan di hutan Kalimantan Utara

Karena karakter itu pula, hingga saat ini catatan mengenai perilaku dan pola hidup dari kucing merah cukup terbatas. Termasuk di antaranya informasi mengenai ekologi dan cara mereka mencari makan, hingga siklus reproduksi yang dimiliki.

Padahal pada tahun 1990-an, kemunculan kucing merah kerap dilaporkan terlihat pada kawasan Sungai Kapuas Hulu di Kalimantan Barat. Kemudian ada juga yang melaporkan penemuannya di Taman Nasional Gunung Palung.

3. Eksistensi yang memprihatinkan

kucing merah
Kucing merah yang jarang terlihat (Sughi Wehea/flickr)

Jangankan untuk mengetahui karakter mulai dari ekologi hingga cara reproduksi, yang biasanya memerlukan upaya penangkaran. Mengonfirmasi jika ada satu individu yang hidup setidaknya di satu habitat saja sudah menjadi bentuk kemajuan sendiri.

Pasalnya, sampai saat ini tidak ada data pasti mengenai berapa banyak jumlah populasi kucing merah yang tersisa di alam.

Terakhir kali peneliti bisa memperoleh sampel dan jaringan darah dari kucing merah adalah pada tahun 1992. Sampel tersebut diperoleh dari individu betina yang kemudian diteliti di Museum Sarawak.

Pun terakhir kali pada tahun 2003-2005, hanya tercatat jika ada 15 individu yang berhasil didata. Itupun merupakan jumlah total dari kemunculan yang terdeteksi di Kalimantan, Sabah, dan Serawak.

  Anoa, spesies kunci endemik dari Sulawesi

Tak heran jika spesies kucing ini masuk sebagai salah satu dari enam jenis kucing yang dilindungi di Indonesia, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya