Mengenal kayu hitam sulawesi, pohon endemik bernilai tinggi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kayu hitam sulawesi (adhy ws/Flickr)

Tak dimungkiri jika Indonesia cukup kaya dengan pohon-pohon endemik bernilai ekonomis tinggi. Selain terbatas wilayah sebarannya, populasi pohon-pohon endemik nyatanya semakin menyusut. Salah satunya adalah kayu hitam sulawesi yang merupakan tanaman asli Provinsi Sulawesi Tengah.

Kayu hitam sulawesi adalah sejenis pohon penghasil kayu mahal dari suku eboni-ebonian (Ebenaceae). Nama ilmiah Diospyros celebica, yakni diturunkan dari kata “celebes” (Sulawesi).

Di wilayah lain nama pohon ini cukup beragam, yakni kayu itam, toetandu, sora, kayu lotong, dan kayu maitong. Kayu hitam berat dengan berat jenis melebihi air, sehingga tidak dapat mengapung.

Ciri khusus

Kayu hitam sulawesi (Nelindah/Flickr)

Kayu hitam sulawesi memiliki batang lurus dan tegak dengan tinggi sampai dengan 40 meter dengan diameter batang bagian bawah yang dapat mencapai 1 meter. Sementara kulit batangnya beralur, mengelupas kecil-kecil dan berwarna cokelat hitam. Pepagannya berwarna cokelat muda dan di bagian dalamnya berwarna putih kekuning-kuningan.

Daun pohon ini berjenis tunggal dengan susunan berseling, berbentuk jorong memanjang, dengan ujung meruncing, serta permukaan atasnya mengkilap, seperti kulit dan berwarna hijau tua, permukaan bawahnya berbulu dan berwarna hijau abu-abu.

  Dikenal pemalas, ini 3 spesies kuskus endemik Sulawesi

Bunganya yang berwarna putih terlihat mengelompok pada ketiak daun. Bentuk buahnya bulat telur, berbulu, dan berwarna merah kuning hingga cokelat tua.

Daging buahnya yang berwarna keputihan acapkali menjadi santapan monyet, bajing atau kelelawar, yang secara tak langsung menjadi agen pemencar biji yang berwarna cokelat kehitaman.

Daya guna dan nilai ekonomis

Furnitur kayu hitam (Ian Burt/Flickr)

Kayu hitam sulawesi diperkirakan telah diperdagangkan mulai abad ke-18, dan dikenal sebagai kayu mewah di Indonesia serta telah diekspor ke luar negeri dengan pasar utama Jepang. Pasar sekunder lainnya adalah Eropa dan Amerika Serikat.

Tak heran menjadi salah satu daya tarik, karena kayu dengan corak garis kemerahan ini ketika dijadikan aset furnitur, maka warna kayu cenderung cokelat gelap, kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan.

Dalam perdagangan internasional, kayu hitam sulawesi dikenal dengan sebutan Macassar ebony, Coromandel ebony, streaked ebony, atau populer juga dengan sebutan black ebony, yang digunakan untuk mebel mahal, ukir-ukiran, patung, alat musik, tongkat, dan kotak perhiasan.

Sebaran dan konservasi

Sebaran kayu hitam sulawesi (MDPI.com)

Kayu hitam sulawesi tumbuh di hutan primer pada tanah liat, tanah berpasir, atau tanah berbatu-batu, yang mempunyai drainase baik, dengan ketinggian mencapai 600 mdpl. Secara alami, kayu hitam sulawesi ditemukan baik di hutan hujan tropika maupun di hutan peluruh.

  Cerita pohon nyatoh, tanaman identitas Bangka Belitung yang kini terlupakan

Saat ini, karena perkembangan populasi yang lambat dan tingginya tingkat eksploitasi di alam, kayu hitam sulawesi telah masuk dalam ancaman kepunahan populasi. Ekspor kayu ini sempat memuncak pada tahun 1973 dengan jumlah sekitar 26.000 meter kubik, namun pada tahun-tahun berikutnya angkanya terus menurun karena kekurangan stok di alam.

Keberadaan kayu hitam sulawesi di alam liar masuk dalam daftar risiko kepunahan menurut data IUCN RedList (2020). Bahkan statusnya sudah masuk kategori vulnerable (VU) atau rentan akibat dari eksploitasi liar. 

Untuk melindunginya, kini IUCN dan CITES memasukkannya ke dalam Apendiks 2 (daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan).

Artikel Terkait

Artikel Lainnya