Mengungkap misteri kematian mendadak belasan ikan dewa di Cibulan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ikan dewa (Facebook)

Video viral yang memperlihatkan belasan ekor ikan dewa di objek wisata Cibulan, Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, mati mendadak dan membuat heboh masyarakat. Pada video itu terlihat belasan ekor ikan dewa dengan ukuran cukup besar mati pada, Selasa (30/8/2022).

Pihak pengelola mengaku heran dengan kejadian ini karena belum terjadi pada tahun-tahun sebelumnnya. Namun pihak pemerintah daerah meminta segala pihak tidak saling menyalahkan. Karena semua kesimpulan mengenai penyebab kematian ikan ‘keramat’ ini akan ditentukan dari hasil lab.

Lalu bagaimana cerita mengenai kematian ikan-ikan keramat ini? Dan apa sebenarnya penyebabnya? Berikut uraiannya:

1. Ikan Dewa mati

Ikan dewa (Facebook)

Belasan ekor ikan dewa di objek wisata Cibulan, Desa Manis Kidul, Kecamtan Jalaksana, Kabupaten Kuningan mati mendadak yang membuat heboh masyarakat. Postingan ini kemudian diunggah di laman Facebook dengan nama akun Om Beben yang langsung direspon oleh 1.466 warganet.

Para warganet yang terkejut dengan fenomena ini lantas membagikan video tersebut. Tampak sejumlah warga tengah mengubur ikan dewa dengan latar belakang kebun. Sementara akun Om Beben menulis keterangan di bawah video yang diunggah.

“Pertanda apakah ini, ikan dewa di Cibulan mati,” kata Om Beben dengan emoticon menangis yang dikutip dari Inews.

Ikan dewa cibulan memang bukan sekadar hewan bagi masyarakat sekitar objek wisata ini. Mereka percaya bahwa ikan tersebut merupakan perwujudan dari para prajurit Siliwangi yang dikutuk karena tidak mau patuh kepada Prabu Siliwangi.

  Yaki, monyet jambul hitam endemik Sulawesi

Karena keramatnya hewan ini membuat masyarakat sekitar menguburkan ikan ini seperti layaknya manusia. Pada video tersebut terlihat para warga mengkafani dan diadzani seperti halnya manusia ketika meninggal.

Pengelola objek wisata Cibulan, Maman Suherman menyebut proses penguburan layaknya manusia, yakni dibungkus dengan kain kafan karena kepercayaan masyarakat. Namun, ikan dewa itu tidak disholatkan ataupun diberi doa.

“Udah tradisi dari dulu itu, diangkat dan dikubur lalu dikafani. Nggak ada kalau ritual khusus mah, hanya itu saja, “ ujarnya yang dimuat Detikcom.

2. Kronologi kejadian

Ikan dewa (detik.com)

Pengelola obyek wisata Pemandian Cibulan, H Didi Sutardi menyebutkan dua hari yang lalu, seorang karyawan yakni Maman mendapatkan laporan dari sekuriti, Emo Tarma, yang melihat banyak ikan terlihat dalam kondisi limbung.

Hal ini membuat Maman langsung mengecek kebenaran tersebut. Kemudian pada malam kedua, dengan membawa senter, dirinya juga langsung mengecek lagi ke lokasi, namun terlihat ikannya agresif.

Sehingga untuk antisipasi, dilakukan pemindahan sejumlah ikan dewa ke kolam lain yang masih di sekitar objek wisata Pemandian Cibulan. Walaupun upaya itu tak membuahkan hasil, karena tetap saja banyak ikan dewa yang mati.

  Ketika ikan raksasa asal Amazon berkeliaran di sungai-sungai Indonesia

“20 ekor (yang mati) nanti ketemu lagi setelah hasil lab turun. Dari dinas menyampaikan antara 3-4 hari (hasilnya),” ujar Didi.

Sementara itu Kepala Desa Manis Kidul, M Sadiman juga mendatangi objek wisata yang terkenal di daerah Kuningan ini. Dirinya mengaku hanya ingin mengetahui kronologi mengapa ikan yang dikeramatkan ini bisa banyak yang mati.

Karena menurutnya apabila dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya, kejadian tahun 2022 ini, kematian ikan dewa dalam sehari jumlahnya lebih banyak dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Saya tidak mau berprasangka ini atau itu atas banyak kematian ikan dewa sehingga butuh adanya keterangan kronologinya,” paparnya yang dinukil dari Cirebon Raya.

Dirinya pun meminta kepada semua pihak agar tidak saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Tetapi perlu dicari solusi terbaik atas permasalahan yang membuat masyarakat di sekitar Kuningan menjadi heboh.

Hasil dari lab?

Ikan dewa cibulan (Shutterstock/Ficri Pebriyana)

Tak hanya pengelola, kematian massal ikan dewa ini juga ditindak serius oleh pihak-pihak terkait. Kabid Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, Denny Rianto menyebut masih mencari tahu penyebab matinya ikan-ikan tersebut.

Sementara ini, mereka hanya menduga penyebab kematian massal ikan ini adalah akibat perubahan suhu dan cuaca ekstrem. Selain itu, kemungkinan juga adanya pengaruh dari pemberian makanan dari pengunjung yang datang.

  Celepuk rinjani, satu-satunya burung endemik Pulau Lombok

Tetapi untuk mengetahui penyebab pastinya, Denny meminta seluruh pihak menunggu hasil uji lab dari sampel ikan yang telah dikirim. Sampel ikan dewa yang mati ini telah dikirim ke Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Ikan (BKIPM) Cirebon.

“Saat ini sudah dikirimkan sampel ikan yang mati ke BKIPM Cirebon untuk diuji lebih lanjut dan belum ada informasi hasil pengujiannya,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat, Hermansyah.

Sementara itu dari sisi kualitas air, Hermansyah menjelaskan bahwa tidak ditemukan masalah. Kualitas air di Cibulan memenuhi syarat untuk membudidayakan ikan dewa, sehingga pihaknya belum berani mengungkapkan alasan kematian ini.

Ikan dewa selain dianggap keramat, juga merupakan salah satu jenis ikan yang langka dan terancam punah. Status tersebut telah ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) and Natural Resources.

Menanggapi statusnya yang langka, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan membuat Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Pelestarian Satwa Burung dan Ikan. Ikan dewa masih menjadi salah satu hewan yang dilindungi.

Tidak hanya Pemkab Kuningan, balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) juga ikut berupaya melestarikan ikan keramat ini dengan menggandeng Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP).

Artikel Terkait

Artikel Lainnya