Orangutan Tapanuli, keresahan warga, dan ancaman habitat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Orangutan Tapanuli (TEIA/Flickr)

Kemunculan satwa endemik Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) di kebun durian milik warga di Tapanuli Selatan nyatanya semakin sering. Sekitar sebulan lalu (22/11/2022), kawanan Orangutan Tapanuli menyambangi kebun durian milik warga di Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Selang beberapa hari kemudian kawanan orangutan kembali menyambangi kebun warga di Desa Pagaran Pisang, Kecamatan Arse Nauli, Kabupaten Tapanuli Selatan. Demikian tulis laman resmi KSDAE.

Ketagihan, Orangutan Tapanuli–untuk yang kesekian kalinya–kembali terlihat pada 17 Desember saat sedang menikmati durian tapanuli yang tengah panen di kebun milik warga. 

Warga pun resah dan melaporkan aktivitas satwa dilindungi tersebut pada petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok soal adanya orangutan yang memasuki kebun warga dan memakan buah durian serta buah cempedak yang ada di kebun.

Tim gabungan dari Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok bersama dengan lembaga mitra kerjasama Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Center (YOSL-OIC)–lantas sigap meninjau lokasi.

Upaya mitigasi

Orangutan Tapanuli (Andayani Ginting/YEL-SOCP)

Upaya mitigasi yang dilakukan oleh tim gabungan adalah dengan menghalau dan mengusir satwa primata tersebut. Satu individu orangutan berkelamin jantan, berhasil diusir/dihalau dengan menggunakan mercon, yang kemudian digiring ke arah  kawasan Cagar Alam Dolok Sipirok.

  Unik! 3 spesies terumbu karang ini hanya ditemukan di Indonesia

Namun dua individu lainnya–yang diperkirakan betina (induk dan anaknya)–nyatanya masih bertahan di sekitar jurang arah Sungai Aek Siguti di Dolok Sipirok.

Akibat kejadian tersebut, kemunculan satwa liar yang dilindungi undang-undang itu menjadi perhatian khusus dari berbagai pihak, tujuannya agar jangan menimbulkan masalah konflik yang berlarut-larut dikemudian hari.

Pendek kata, perlu diambil langkah-langkah konkret agar pelestarian Orangutan Tapanuli dapat terjaga dan aktivitas kebun warga pun dapat berjalan dengan semestinya.

Apakah karena habitat menyempit?

PLTA Batang Toru (iconomics)

Dalam setahun ini, Orangutan Tapanuli makin sering datang ke areal perladangan warga. Tak hanya mampir, bahkan mereka sudah berani membuat sarang di sana.

Kesaksian tersebut diceritakan Bullah Hutasuhut, warga Dusun Sitandiang, kepada Mongabay Indonesia, yang menyebut bahwa kemunculan orangutan di dusun belakangan semakin sering dan tak bisa dikendalikan.

“Dulu,  kadang orangutan mau datang (ke area perladangan), tapi tidak sesering sekarang,” kata pria usi 66 itu.

Selama setahun ini, katanya, hampir setiap minggu orangutan menyambangi ladang warga. Warga pun dilema, di satu sisi orangutan perlu makan namun di sisi lain kebun durian adalah mata pencarian warga. Meski dilema, warga tak lantas membunuh orangutan, tapi diusir dengan trik membakar api unggun.

  Mengenal kayu hitam sulawesi, pohon endemik bernilai tinggi

Cerita masuknya Orangutan Tapanuli ke kebun milik warga bukan tanpa sebab. Salah satu yang menjadi biang kerok mamalia endemik Sumatra ini menyambangi kebun milik warga lantaran pembukaan hutan atas proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru dan insfrastrktur pendukungnya.

PLTA Batang Toru saat ini memang tengah dibangun di hutan Batang Toru dengan rencana kapasitas 510 MW yang terkoneksi ke Sungai Batang Toru di tiga kecamatan di Tapanuli Selatan, yakni, Sipirok, Marancar, dan Batang Toru, yang meliputi 17 desa.

Proyek dengan pelaksana PT North Sumatra Hydro Enegry (NSHE) sudah mulai tahap prakonstruksi sejak 21 Desember 2015,  setelah penandatanganan perjanjian jual beli listrik antara PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) dengan PT PLN.

Dari dokumen analisis dampak lingkungan (Andal), NSHE memperoleh izin operasi seluas 6,5 juta hektare, yang 447 hektare digunakan untuk pembangunan bendungan, areal quarry, spoil bank, powerhouse, dan fasilitas pendukung lainnya.

Populasi Orangutan Tapanuli

Aliran Sungai Batang Toru (Junaidi Hanafiah/ Mongabay Indonesia)

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bergengsi Plos One, Orangutan Tapanuli merupakan primata paling baru dan sekaligus tercatat sebagai kera besar yang paling terancam punah di dunia.

  Tusam Sumatra, pinus endemik Tapanuli Selatan dengan segudang manfaat

Disebutkan pula bahwa Orangutan Tapanuli menghadapi risiko kepunahan jauh lebih besar ketimbang yang diperkirakan sebelumnya.

Saat ini, Orangutan Tapanuli diperkirakan hanya menempati hanya 2,5 persen dari habitat historis mereka yang diperparah dengan rundungan dan ancaman kepunahan akibat kehilangan habitat dan perburuan.

Ancaman itu bertahan hingga kini dan semakin memprihatinkan dengan aktivitas pengembangan infrastruktur dan konversi hutan di dalam habitat terakhir Orangutan Tapanuli di Sumatra Utara.

Catatan itu juga menyebut bahwa kurang dari 800 individu Orangutan Tapanuli yang hidup di hutan Batang Toru. Habitat yang masih tersisa diperkirakan hanya mencakup 2,5 persen dari data 130 tahun lalu ketika ditemukan para peneliti. Jumlah tersebut menyusut dari hampir 41.000 km persegi pada 1890-an menjadi hanya 1.000 km persegi pada 2016.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya