Selama ini tanaman dikenal sebagai makhluk hidup yang mendapat nutrisi atau ‘makan’ dari proses fotosintesis. Namun di samping itu, sebenarnya ada sederet spesies tanaman yang bersifat karnivora, yakni kantong semar.
Secara harfiah kantong semar merupakan tanaman pemakan daging kecil seperti serangga. Indonesia sendiri nyatanya menjadi salah satu rumah bagi puluhan spesies kantong semar yang ada di dunia.
Baru-baru ini, hal tersebut bertambah karena dilaporkan adanya identifikasi atau penemuan spesies kantong semar baru, di kawasan hutan Kalimantan Utara. Seperti apa jenis dan karakteristik kantong semar yang dimaksud?
1. Bersembunyi di bawah tanah

Diberi nama Nephentes pudica, identifikasi dari spesies tanaman ini merupakan hasil penelitian sekelompok ilmuwan asal Palacký University, Ceko. Dijelaskan dalam sebuah terbitan jurnal PhytoKeys, kantong semar ini disebut memiliki karakter yang berbeda dari biasanya.
Menurut Martin Dančák selaku pimpinan kelompok, kantong semar biasanya tumbuh dan memerangkap serangga di atas tanah, atau hidup dengan menempel pada pohon. Namun berbeda dengan spesies satu ini yang justru seolah-olah tersembunyi dan menangkap mangsa dari bawah tanah.
“Spesies ini memiliki kantong sepanjang 11 sentimeter di bawah tanah. Kantong itu menjebak hewan (serangga) yang hidup di bawah tanah seperti semut, tungau, dan kumbang,” jelas Martin.
Membahas bentuknya, dari segi tampilan tanaman tersebut memiliki wujud layaknya tunas bawah tanah. Lain itu kantungnya sendiri cenderung berwarna cokelat kemerahan.
2. Dipastikan endemik Kalimantan

Lebih lanjut, diketahui jika spesies kantong semar yang dimaksud ditemukan di area hutan dengan ketinggian 1.100-1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Masih menurut Martin, lokasi tersebut juga yang membuat kantong semar itu berevolusi dengan memindahkan perangkapnya ke bawah tanah.
Anggota peneliti di tim yang sama berpendapat, bahwa rongga bawah tanah memiliki kondisi lingkungan yang lebih stabil. Di mana hal tersebut dianggap sebagai peluang dan sumber kehidupan bagi sejumlah serangga yang berpotensi menjadi mangsa kantong semar.
Yang menarik saat dibedah, terdapat ragam jenis serangga yang ada di dalam tubuh atau inti kantong tanaman ini. Serangga yang dimaksud terdiri dari larva nyamuk, nematoda, dan beberapa spesies cacing.
Tim yang sama juga memastikan jika Nephentes pudica merupakan spesies endemik Kalimantan. Mengenai penyebaran, keberadaannya hanya ditemukan di beberapa daerah yang berdekatan di bagian barat Kabupaten Mentarang Hulu, Provinsi Kalimantan Utara.
Karena penyebaran tersebut yang dibarengi dengan beberapa kondisi seperti terbatasnya distribusi, kecilnya populasi, hingga kemungkinan hilangnya habitat, spesies tanaman satu ini langsung ditetapkan berada di status sangat terancam punah berdasarkan kriteria IUCN.
3. Eksistensi kantong semar di Indonesia
Meski karnivora atau pemakan serangga, sejatinya kantong semar tetaplah tanaman yang melakukan proses fotosintesis. Spesies ini tetap memiliki zat hijau dan klorofil pada daun untuk melakukan fungsi memproduksi makanannya sendiri.
Karakter mereka yang menangkap atau memangsa serangga pada dasarnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan zat nitrogen dalam bertahan hidup. Bagian kantong tempat menangkap dan menampung serangga sendiri kerap disalah artikan sebagai bunga. Padahal, kantong tersebut adalah daun yang sudah termodifikasi dalam proses pertumbuhannya.
Mengutip penjelasan di laman KLHK, nyatanya di Indonesia terdapat sekitar 85 jenis kantong semar dari seluruh 130 spesies yang ada di dunia. Penyebarannya kebanyakan memang berada di wilayah Kalimantan dan Sumatra.
Sayang, kekayaan jenis tanaman satu ini disebut masih kurang mendapat perhatian. Dari 85 spesies yang ada, 27 di antaranya masuk dalam status terancam punah.
Wewin Tjiasmanto, salah satu peneliti Indonesia yang ikut terlibat dalam penemuan Nephentes pudica berharap, penemuan ini dapat melindungi konservasi alam di Indonesia khususnya Kalimantan.
“Kami berharap penemuan tanaman karnivora yang unik ini dapat membantu melindungi hutan hujan Kalimantan. Terutama mencegah atau setidaknya memperlambat konversi hutan asli menjadi perkebunan kelapa sawit.” ujarnya.