5 hewan hasil kloningan, dari domba dan kuda yang bisa jadi juara dunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Aradea, domba garut termahal (Ahmad Andhika/JagadTani)

Kini setidaknya ada lima hewan hasil kloningan yang bisa diketahui. Munculnya hewan hasil kloning ini disebabkan oleh teknik yang bisa menghasilkan salinan spesies yang tidak dapat dibedakan secara genetik. Artinya hewan kloning merupakan duplikat sama persisinya dari induknya atau memiliki DNA yang sama.

Mengutip dari Sciencedirect.com yang dimuat Sindonews, Sabtu (25/6/2022), sejauh ini sudah ada beberapa hewan seperti sapi, babi, kelinci, domba, dan kambing yang telah dikloning dengan menggunakan transfer sel. Upaya melakukan kloning ini merupakan hal sulit.

Lalu apa saja hewan hasil kloningan? Berikut uraiannya:

1. Domba

Adu domba garut (Bebed Gräfe/Flickr)

Semua orang sudah banyak mengenal hasil kloningan hewan ini. Domba yang berhasil di kloning ini diberi nama Dolly. Dia merupakan mamalia pertama hasil kloning sel dewasa. Para ilmuwan Roslin Institute telah mengembangkan cara duplikasi sel domba dewasa yang berusia enam tahun.

Ilmuwan genetika ini telah berhasil mengkloning seekor domba, dan hasilnya sangat mirip dengan anatomi maupun genetika dengan domba lain. Dolly lahir pada 1996 dan memiliki keturunan secara normal. Ini membuktikan bahwa hewan kloning juga bisa berproduksi dengan normal.

  Terkenal mager, ini 3 hewan termalas di dunia yang hobinya suka tidur

Pada 2003, Dolly mati karena penyakit tumor paru-paru. Penyakit ini umum diderita domba dewasa yang dibesarkan di dalam ruangan. Namun keberhasilan kloning dolly ini terus memunculkan riset terhadap hewan-hewan lainnya.

2. Babi

Babi (Bonobo Photo Co./Flickr)
Babi (Bonobo Photo Co./Flickr)

Setelah munculnya Dolly, dunia penelitian kembali disibukkan dengan para ilmuwan yang menciptakan hewan kloning lainnya. Misalnya pada tahun 2000, PPL Therapeutics, perusahaan yang bekerjasama dengan The Roslin Institute yang mengkloning Dolly mengumumkan akan kembali melakukan hal serupa.

Kali ini mereka akan mengkloning lima anak babi betina dari sel babi dewasa. Anak babi tersebut diberi nama Mille, Christa, Carrel, Dotcom dan Alexis. Sedangkan para peneliti China mengumumkan kemajuan proses untuk mengkloning babi.

Kemajuan ini dipercaya dapat membantu negara dengan konsumen daging babi terbesar di dunia itu mengurangi ketergantungan pada babi hasil pembiakan impor. Pada Maret lalu, seekor induk pengganti melahirkan tujuh anak babi hasil kloningan.

3. Anjing

Anjing (Jesus GAG/Flickr)
Anjing (Jesus GAG/Flickr)

Snuppy merupakan anjing kloning pertama. Kloning anjing ini dilakukan oleh para peneliti di Korea Selatan. Anak anjing itu lahir pada 24 April 2005. Dia dikloning dari sel kulit dewasa yang diambil dari anjing Afghan, menurut penelitian tersebut.

  7 hewan dengan kemampuan berpuasa, bahkan bisa sampai 10 tahun

Snuppy adalah satu-satunya yang selamat setelah 1.0950 embrio anjing ditanamkan ke dalam 123 anjing induk pengganti yang menyebabkan hanya dua kelahiran (anak anjing lainnya mati beberapa minggu kemudian). Pada tahun 2008, Snuppy menjadi ayah dari anak-anaknya sendiri.

4. Rusa

Rusa (Subky Latef/Flickr)
Rusa (Subky Latef/Flickr)

Para peneliti dari Texas A&M juga berhasil mengkloning hewan yakni berupa rusa berekor putih, yang dijuluki Dewey. Pada 2003, Dewey lahir dari ibu pengganti bernama Sweet Pea pada 23 Mei 2003, dan di kloning dari sel kulit yang diambil dari rusa berekor putih yang sudah mati.

5. Kuda

Kuda (rahaimie/Flickr)

Para peneliti dari Italia, pada tahun 2003 berhasil mengkloning seekor kuda betina yang mereka beri nama Prometea. Menariknya, kuda betina yang melahirkan Prometea juga merupakan donor materi genetik. Menurut peneliti, kloning kuda ini bisa membawa hasil positif.

Salah satunya adalah bisa menghasilkan keturunan yang lebih baik dan tahan dari penyakit. Bahkan diharapkan kedepannya bisa menghasilkan kuda pacuan yang bisa menjadi juara. Tentu bila ini berhasil, banyak tempat akan memilki kuda impiannya.

  Banyak ditemukan di permukiman, benarkah ular pucuk tidak berbahaya?

Artikel Terkait

Artikel Lainnya