Axolotl, ‘naga’ mini asal Meksiko yang populer di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Axolotl (Harrison Walter/Flickr)

Pernah menonton film animasi ‘How to Train Your Dragon’? Kalau iya, pasti tidak asing dengan gambaran karakter utama berupa naga hitam yang bersahabat dengan manusia dari kalangan viking, yakni toothlees.

Karakter naga itu begitu menyita perhatian. Karena tidak seperti gambaran di film sejenis lainnya, pada film tersebut makhluk satu ini digambarkan menggembaskan dengan wajah yang lebih bersahabat.

Rupanya tidak hanya bersifat fiksi, wujud naga di film tersebut terinspirasi dari hewan yang memang ada di dunia nyata. Bukan naga sungguhan, melainkan sejenis salamander yang berasal dari Meksiko dan sudah cukup populer di Indonesia.

1. Axolotl si amfibi salamander

Salamander air (Wikipedia)
Axolotl (Wikimedia Commons)

Hewan yang memiliki nama latin Abystoma Mexicanicum ini sering disalahartikan sebagai ikan. Padahal, mereka masuk dalam kategori amfibi berjenis salamander yang berkerabat dekat dengan salamander harimau.

Dikenal dengan berbagai julukan, selain salamander Meksiko dan monster air dari Meksiko, Axolotl juga biasa disebut smiling salamander. Bukan tanpa alasan, julukan tersebut didapat karena Axolotl memang nampak seperti memperlihatkan wajah yang selalu tersenyum.

  Udang mantis, hewan pemilik tinju tangguh sejak usianya sembilan hari

Melansir Greeners, Axolotl disebut mampu tumbuh dengan ukuran tubuh mencapai 20-30 sentimeter. Sementara itu bobotnya ada di kisaran 60-110 gram dengan ciri betina yang memiliki bentuk tubuh lebih berisi dibandingkan pejantan.

Habitat asli hewan satu ini berada di sejumlah sungai di negara bagian Amerika Utara (Meksiko), tepatnya di Danau Chalco dan Danau Xochimilco. Disebutkan jika warna asli dari axolotl sebenarnya adalah hitam kecoklatan. Namun mutasi genetik kerap terjadi secara alami sehingga melahirkan individu dengan kondisi albino.

Setelahnya regenerasi yang terus terjadi juga menghadirkan individu dengan warna beragam mulai dari merah muda hingga kuning.

2. Keunikan axolotl

Axolotl hewan endemik Meksiko (charlie.syme/Flickr)

Salah satu alasan hewan ini kerap disebut sebagai ‘naga mini’ adalah sisi unik dari rangkaian insang yang dimiliki. Berbeda dengan ikan, mereka memiliki insang dengan bentuk menonjol dan berbulu di bagian samping kepala.

Karena wujud tersebut, insang yang dimaksud kerap kali terlihat seperti tiga buah tanduk di masing-masing sisi kepala.

Masuk dalam kategori hewan jinak. Axolotl diketagorikan sebagai karnivora dan biasa memakan cacing, siput, atau ikan dan amfibi yang berukuran lebih kecil. Fakta unik lainnya, salamander satu ini juga memiliki kemampuan regenerasi yang sangat luar biasa.

  Heboh macan kumbang di Kabupaten Bandung yang sudah memangsa 22 ayam

Mereka mampu menumbuhkan kembali anggota tubuh atau alat vital lain yang mengalami kerusakan. Beberapa kerusakan alat vital seperti bagian jantung, otak, paru-paru, dan lain sebagainya dapat ditumbuhkan oleh mereka dengan cepat. Karena hal tersebut pula, Axolotl hingga saat ini masih sering dijadikan sebagai objek penelitian oleh para ilmuwan.

3. Antara kepunahan dan budidaya

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Front Street Axolotls (@frontstreetaxolotls)

Fakta tak terduga lainnya, habitat hewan satu ini ternyata sedang mengalami ancaman kepunahan serius di habitat aslinya. Pada habitat dua sungai yang disebutkan sebelumnya, dilaporkan bahwa kepunahan terjadi urbanisasi atau invasi makhluk air spesies lain ke tempat tersebut.

Pada tahun 1998, disebutkan jika ada sebanyak 6 ribu Axolotl  per kilometer persegi di habitat aslinya. Tapi angka itu terus menurun drastis dalam kurun waktu kurang dari 15 tahun. Terakhir di tahun 2014, dilaporkan hanya ditemukan sekitar 35 individu Axolotl per kilometer persegi pada area habitat yang sama.

  Jejak Singkil (Bagian 3): Kisah ikatan manusia dan buaya yang terputus

Selain invasi ikan lain, pencemaran bahan kimia yang berasal dari limbah pabrik yang dibangun pada kawasan habitatnya juga jadi faktor penyebab kepunahan lainnya. Sebagai salah satu upaya mempertahankan spesiesnya, di Meksiko budidaya axolotl dilakukan dalam sebuah proyek shelter atau penampungan bernama Chinampa Shelter.

Sementara itu di sisi lain, keberadaan Axolotl sendiri justru banyak berkembang dan dibudidayakan di sejumlah negara lain. Mulai dari Jepang hingga Indonesia. Di tanah air, salah satu kelompok yang berhasil membudidayakan hewan satu ini adalah kelompok mahasiswa asal Universitas Brawijaya, yaitu Aquaxo.

Aquaxo merupakan platform budidaya Axolotl yang menggunakan metode khusus berupa water close-loop chiller system. Berkat metode tersebut hewan yang dimaksud dapat beradaptasi secara baik dengan iklim di Indonesia.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya