Hari Binatang Sedunia, mengenal 3 jenis hewan paling langka saat ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Macan tutul Amur, salah satu hewan paling langka (Helene Hoffman/Flickr)

Pada tanggal 4 Oktober kemarin, ada satu peringatan penting yang baru saja dirayakan oleh masyarakat khususnya konservasionis dunia, yakni Hari Binatang Sedunia.

Menilik riwayatnya, peringatan ini pertama kali muncul pada tahun 1925 dan diinisiasi oleh seorang penulis sekaligus penerbit majalah pencinta hewan Heinrich Zimmermann. Zimmermann  menyelenggarakan perayaan pertama di Berlin denagn tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan meningkatkan kesejahteraan bagi hewan.

Di sisi lain, setelahnya tanggal 4 Oktober dipilih sebagai Hari Binatang Sedunia karena bertepatan dengan wafatnya tokoh Santo Fransiskus. Untuk diketahui, Santo Fransiskus merupakan tokoh katolik yang dikenal akan kecintaannya terhadap binatang.

Hari Hewan Sedunia kekinian menjadi ajang bagi para ahli ekologi untuk membahas berbagai masalah terkait spesies terancam punah. Peringatan ini menaruh perhatian pada kehidupan hewan liar, spesies yang terancam punah, dan hewan yang terancam oleh kerusakan lingkungan atau kurangnya perlindungan.

Bicara mengenai hewan terancam punah, menurut catatan IUCN disebutkan bahwa saat ini setidaknya ada sekitar 40 ribu spesies hewan yang berada di bawah ancaman kepunahan. Dari puluhan ribu spesies tersebut, berikut lima jenis hewan dengan ancaman kepunahan tertinggi, dikutip dari WWF:

  Kisah mengenaskan Tikiri, gajah kurus yang dipaksa bekerja hingga mati

1. Badak Jawa

Badak jawa
Badak jawa (mark fryer/flickr)

Sudah umum diketahui jika badak Jawa awalnya ditemukan di seluruh Asia Tenggara. Namun seiring berjalannya waktu populasi hewan satu ini mengalami penurunan jumlah yang drastis akibat perburuan dan hilangnya habitat.

Populasi liar badak Jawa yang masih bertahan saat ini diketahui terkonsentrasi di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, sebagai tempat perlindungan terakhir badak Jawa yang tersisa.

Berada di bawah angka 100 individu, diperkirakan jika setidaknya kini populasi badak Jawa di TNUK ada di angka 75 individu.

Di saat bersamaan, daerah TNUK juga menderita karena serangan invasif palem Arenga, yang membuat badak tidak memiliki makanan alami layak. Selain itu, populasi badak Jawa juga sangat rentan terhadap kepunahan akibat bencana alam, penyakit, perburuan dan potensi perkawinan sedarah.

2. Macan tutul amur

Macan tutul Amur (Jens Hauser/flickr)

Amur leopard, atau macan tutul salju jadi jenis hewan selanjutnya yang paling terancam punah. Mereka dikenal sebagai salah satu spesies kucing besar paling langka di dunia, dengan hanya sekitar kurang dari 100 individu yang tersisa di alam liar.

  Demi bertemu pasangan, paus bungkuk mampu berkelana sejauh 6.000 kilometer

Itu pun merupakan hasil dari pertambahan populasi dari yang tadinya hanya sekitar 14 individu di tahun 2005, menjadi sekitar 84 individu saat ini.

Hewan dengan nama ilmiah Panthera pardus orientalis ini secara alami tersebar di wilayah Amur di Rusia dan China. Pembentukan cagar alam di wilayah Timur Jauh Rusia jadi salah satu alasan keberhasil meningkatnya populasi mereka.

Meski populasi liar mereka tampak stabil dan meningkat, subspesies macan tutul ini masih terancam punah sejak tahun 1996. Berbagai hal yang menjadi alasan kelangkaan macan tutul amur salah satunya karena hilangnya habitat dan fragmentasi.

Lain itu kelangkaan mangsa dan pembangunan infrastruktur transportasi seperti jalan juga jadi penyebab besar kepunahan mereka.

3. Vaquita

Vaquita yang terjerat jaring nelayan (TEIA/Flickr)

Hewan lain yang berada di ambang kepunahan dan diprediksi akan benar terjadi dalam satu dekade ke depan adalah Vaquita. Vaquita adalah salah satu spesies lumba-lumba yang secara alami berada di Teluk Meksiko, California.

Bukti nyata dari kepunahan yang mengancam mereka adalah catatan yang melaporkan jika populasi Vaquita saat ini hanya tersisa 10 individu di dunia.

  Mengenal jenis sapi kurban yang ada di Indonesia

Penelitian pertama yang memastikan jumlah populasi pasti dari Vaquita pertama kali dilakukan pada tahun 1997. Saat itu, tercatat jika populasi di habitatnya ada sebanyak 567 individu. Penurunan drastis mulai terjadi tahun 2007, saat keberadaannya menurun menjadi hanya sekitar 150 individu.

Disebutkan bahwa penyebab terbesar yang membuat populasi mamalia laut ini berkurang adalah aktivitas tangkapan sampingan yang dilakukan oleh nelayan setempat.

Terus berkurang dari tahun ke tahun, pada tahun 2017 disebutkan bahwa populasi Vaquita kembali menurun drastis dengan hanya tersisa kurang dari 30 individu. Di tahun 2019, kemudian dilaporkan jika jumlahnya menurun lagi menjadi 22 individu. Dan terakhir saat ini menjadi 10 individu.

Selain deretan hewan di atas sebenarnya masih banyak spesies hewan lain yang teranam punah. Sebagian besar bahkan memiliki populasi bertahan hidup terkahir di Indonesia, beberapa di antaranya badak Sumatra, orangutan, harimau Jawa yang keberadaannya masih menjadi misteri, dan masih banyak lagi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya