Kisah mengenaskan Tikiri, gajah kurus yang dipaksa bekerja hingga mati

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tikiri (Polimernews)

Seekor gajah bernama Tikiri, terlihat kurus kering. Ketika itu usianya sudah mencapai 70 tahun, tetapi dia harus bekerja setiap malam dalam festival dan berjalan jauh dengan kaki di rantai. Ketika foto Tikiri dengan badan kurus kering itu tersebar di internet pada 2019 silam, banyak orang meluapkan kemarahannya.

Tikiri merupakan satu di antara 60 gajah yang dipaksa berpawai pada Festival Perahera di Kandy setiap tahun. Setelah foto-fotonya viral, Menteri Pariwisata Sri Lanka mengatakan bahwa Tikiri akan tidak diikutkan dalam pawai. Namun beberapa lama setelah foto tersebut tersebar Tikiri dikabarkan mati.

Lalu bagaimana kisah Tikiri hingga kurus kering tersebut? Dan bagaimana pejabat setempat menjelaskan kondisi satwa di sana? Berikut uraiannya:

1. Gajah Tikiri

Tikiri (keeping_up_with_shane/Flickr)

Gajah Tikiri yang terlihat kurus kering tersebar fotonya di internet pada 2019 silam. Diketahui gajah ini harus bekerja setiap malam dalam festival dan berjalan jauh dengan kaki di rantai. Karena foto ini banyak gelombang kemarahan yang disampaikan warganet.

Puluhan ribu tanggapan melalui akun Facebook yang memposting kejadian itu, banyak juga yang mengungkapkan kemarahan dan kesedihan luar biasa melihat nasib Tikiri. Para pengguna media sosial bahkan menulis surat kepada pemerintah Sri Lanka agar menghentikan festival tersebut.

  Capung, serangga purba andal pengendali hama dan pemangsa nyamuk malaria

“Saya sedih melihat apa yang dilakukan manusia terhadap mahkluk besar yang cantik ini,” kata salah seorang pengguna media sosial.

Hidup Tikiri memang berjalan dengan sangat menyedihkan ketika dia dipaksa bersama gajah lainnya untuk mengikuti Festival Perahera meskipun tubuhnya lemah. Festival Budha ini berlangsung selama sepuluh hari dan menampilkan binatang-binatang yang diberi kostum serta tampil bersama bintang tamu.

World Animal Protection memperkirakan 3.000 gajah digunakan untuk hiburan di seluruh Asia, dengan 77 persen diperlakukan secara tidak manusiawi. Kini Tikiri telah tenang, dia menjadi simbol perlawanan terhadap gajah yang menderita akibat perlakukan manusia.

2. Akhirnya dilarang

Festival Perahera (Denish C/Flickr)

Save Elephan Foundation (SEF) menyoroti nasib Tikiri dengan menampilkan foto-fotonya ke publik, hal yang langsung memicu kemarahan publik. Tikiri merupakan satu di antara 60 gajah yang dipaksa berpawai pada Festival Parahera di Kandy setiap tahunnya. 

Setelah foto ini viral, Menteri Pariwisata Sri Langka mengatakan bahwa Tikiri akan tidak diikutkan dalam pawai. Gajah tersebut belakang dikembalikan ke pawangnya, namun pendiri SEF, Lek Chailert mengabarkan bahwa Tikiri telah mati. 

  Budidaya madu kelulut yang bantu kelestarian hutan Leuser

“Penderitaan Tikiri telah berakhir, jiwanya sekarang bebas. Tidak ada lagi perbuatan buruk yang menimpanya,” sebut Chailert dalam unggahannya di Instagram.

Juru bicara Sacred Toot Relic, kuil Budha yang menyelenggarakan festival itu mengatakan bahwa Tikiri menderita penyakit pencernaan, sehingga bobot tubuhnya tidak bisa bertambah. Akan tetapi juru bicara itu menambahkan, penyakit itu tidak berpengaruh pada tenaga dan kemampuan dari Tikiri.

Kelompok pembela hak-hak hewan, PETA mengatakan banyak gajah di Sri Lanka menderita perlakuan serupa dan bahkan lebih buruk guna melayani industri pariwisata yang eksploitatif dan menyiksa. Kelompok ini menyerukan penerapan undang-undang perlindungan hewan yang lebih ketat.

3. Alami hal serupa

Singa (Mohd Fazlin Mohd Effendy Ooi/Flickr)
Singa (Mohd Fazlin Mohd Effendy Ooi/Flickr)

Selain Tikiri, ternyata sejumlah hewan dalam kondisi mengenaskan, juga mencuri perhatian publik dari berbagai negara. Misalnya seekor singa di sebuah kebun binatang di China yang terlihat mengenaskan, dengan tubuh kurus, hanya tulang berbalut kulit. bahkan buntutnya pun putus.

Si raja hutan itu konon mengalami malnutrisi dan mengigit ekornya sendiri yang beku di lubang air. Kondisi singa kurus itu diketahui dari para wisatawan yang mengunjungi Kebun Binatang Taiyun di Provinsi Shanxi selama liburan Tahun Baru Imlek.

  Harimau sumatra yang baru dilepas sebulan ditemukan mati di TNKS

Mereka mengaku melihat si raja hutan terluka dan sangat kekurangan gizi. Singa kurus itu tinggal dalam kandang bersama seekor binatang yang juga dalam kondisi serupa. Pengunjung menuduh kebun binatang tersebut melakukan penganiyaan dan ketidaklayakan perawatan terhadap singa,

Sejauh ini pihak kebun binatang tak menanggapi tuduhan bahwa kedua singa tersebut kekurangan makanan dan gizi. Menurut pemberitaan di situs mikroblogging Twitter China, Sina Weibo, singa-singa tersebut digambarkan seperti tengah tertekan saat mereka mondar-mandir di sekitar kandang kecil mereka.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya