Mengenal 3 kucing hutan nan eksotis asli Sumatra

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kucing batu (rOjAmIn/Flickr)

Hingga kini Pulau Sumatra diketahui masih menjadi habitat bagi lima jenis kucing hutan. Tak jarang keberadaan kucing-kucing liar tersebut tertangkap kamera jebak yang dipasang para peneliti untuk mengetahui jumlah populasi seungguhnya hewan-hewan tersebut.

Lokasi yang lazim didapatkannya penampakkan kucing-kucing utan tersebut adalah di daerah yang menghubungkan dua kawasan konservasi, yakni Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Suaka Margasatwa Rimbang Baling.

Tiga jenis kucing Sumatra tersebut semakin membuktikan kekayaan jenis satwa di hutan Bukit Tigapuluh dan kawasan sekitarnya.

Mengacu hal itu, tentu dibutuhkan upaya yang cukup serius guna melindungi kawasan-kawasan tempat habitat kucing-kucing itu dari pembalakan dan penebangan hutan dalam skala besar, karena pastinya bakal merusak ekosistem kucing-kucing liar endemik Sumatra tersebut.

Pakar ekologi dari Virginia Tech dan WWF Indonesia pernah menjelaskan bahwa kucing hutan punya peranan penting dari sisi ekologis, utamanya sebagai hewan predator.

Sejatinya, kucing hutan memegang kendali bagi populasi dan perilaku satwa lain, terutama dalam mengendalikan jumlah populasi satwa mangsa mereka. Pada akhirnya ini akan berpengaruh pada vegetasi dan ekosistem secara keseluruhan.

  Kenali perkutut jawa, burung yang dekat dengan kehidupan manusia

Berikut 3 kucing hutan eksotis asli Sumatra yang saat ini dalam status terancam punah.

1. Kucing batu

Kucing batu (Scott Robinson/Flickr)

Kucing batu sangat mirip dengan kucing rumahan dengan motif serupa macan. Hewan dengan nama latin Pardofelis marmorata ini merupakan kucing liar kecil yang terkenal gesit saat berada di atas pohon. Ukuran tubuhnya memang hanya sekira 45-62 cm dengan bobot 2-5 kg.

Kucing batu cukup dikenal karena pola bulunya yang indah dan eksotis dengan dominasi warna cokelat, abu-abu, kuning, dan hitam, dengan motif totol-totol. Ekornya yang panjang dan berbulu tebal semakin menjadi daya tarik kucing batu. Kaenanya tak heran mereka kerap kali jadi sasaran perburuan untuk dijual kepada para kolektor.

Hewan dengan pola hidup nokturnal ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon untuk memangsa burung, reptil (cecak pohon, kadal, atau ular), tupai, dan tikus. Karena populasinya yang semakin menyusut, sejak 2002 kucing batu sudah berstatus konservasi rentan.

2. Kucing emas

Kucing emas Sumatra (Scott Robinson/Flickr)

Memiliki nama latin Catopuma temminick, kucing emas hidup di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Kucing hutan satu ini cukup mudah dikenali karena hampir seluruh tubuhnya berwarna cokelat keemasan. Meski begitu, sebagian dari mereka ada juga yang berwarna abu-abu atau cokelat gelap.

  Penuh misteri, 5 hewan ini bisa berkembang biak tanpa melalui perkawinan

Dengan rata-rata berat 8-12 kg untuk kucing emas dewasa dan panjang tubuh yang mencapai 1,2 meter, kucing ini terlihat lebih panjang ketimbang ukuran kucing lazimnya.

Kucing emas hidup pada ketinggian 1.110-3.378 mdpl dan menempati kawasan padang rumput atau kebun. Untuk bertahan hidup, mereka memangsa hewan-hewan kecil seperti tupai, reptil, burung, dan kelinci.

Beberapa dekade belakangan, kucing emas semakin sulit terlihat karena perburuan liar. Umumnya kucing in diburu untuk santapan karena dikatakan dagingnya yang lezat serta tulangnya sebagai bahan baku pengobatan tradisional.

Tak sedikit pula para oknum yang memperdagangkan kulit kucing emas yang memiliki nilai ekonomis tinggi, karenanya bukan mustahil di masa depan hewan ini kian terancam punah, selain karena habitatnya yang menjadi alih fungsi lahan.

3. Kucing kuwuk

Kucing congkok (Tim Melling/Flickr)

Kucing kuwuk atau kucing congkok juga bisa ditemukan keberadaannya di hutan-hutan Sumatra. Dengan ukuran mirip kucing pada umumnya, kucing kuwuk acapkali disangka sebagai anak macan oleh para penduduk dan masyarakat sekitar hutan.

  Miliki kesadaran konservasi, warga kembalikan 1 dari 11 spesies kucing hutan langka ke BKSDA

Meski demikian, secara fisik kucing kuwuk terlihat lebih ramping dengan kaki yang cukup panjang yang dibalut bulu-bulu bermotif totol. Sejatinya memang, kucing kuwuk dan macan berasal dari dua genus berbeda.

Kucing kuwuk saat ini berada di ambang kepunahan karean perburuan dan kerusakan habitat. Wajar saja, ekosistem kucing kuwuk yang tadinya berada di ketinggian 3.000 mdpl kian tergerus akibat penebangan hutan, hingga tak jarang hewan satu ini mampir ke desa atau kebun warga.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya