Mengenal Narwhal, paus bertanduk sang ‘unicorn laut’

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Narwhal (Our Breathing Planet/Flickr)

Jika mendengar kata unicorn, gambaran yang akan terlintas di pikiran adalah makhluk mitologi berupa kuda dengan tanduk di bagian ujung kepalanya. Saat ini keberadaan unicorn sendiri memang masih menjadi misteri. Tapi di luar cerita mitologi, rupanya ada makhluk yang kerap disebut sebagai unicorn di dunia nyata, yakni Narwhal.

Bukan di darat, unicorn yang dimaksud berhabitat di air laut. Dan semakin menarik karena wujudnya sudah pasti bukan kuda, melainkan satwa laut yakni paus. Karena fisik berupa tanduk itu pula, tak jarang narwhal dijuluki sebagai paus bertanduk.

Tapi jika membahas lebih detail, mengapa jenis paus satu ini bisa memiliki tanduk dan apa guna dari tanduk tersebut? Berikut penjelasannya.

1. Mengenal Narwhal

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Paul Nicklen (@paulnicklen)

Mengutip Mongabay Indonesia, hewan dengan nama latin Monodon monoceros ini dipandang sebagai jenis paus yang paling tidak diketahui manusia. Penamaan “narwhal” sendiri berasal dari bahasa Norse (Nordik/Skandinavia) kuno yg berarti “paus mayat”.

  5 spesies hewan ini diberi nama jajaran tokoh Indonesia

Bukan tanpa alasan, nama itu diberikan karena hewan ini memiliki kebiasaan berenang tak bergerak di permukaan laut, dengan posisi perut menghadap ke atas. Lain itu, warna tubuh mereka juga bertotol-totol kelabu seperti pelaut yg tenggelam.

Paus narwhal memiliki morfologi berbentuk lonjong yang memanjang silindris. Kemudian membulat pada bagian tengahnya dan semakin mengecil hingga bagian ekor.

Bicara mengenai habitat, narwhal hanya hidup di seluruh perairan Kutub Utara, tepatnya di Samudra Arktik. Termasuk karnivora, mereka biasa memangsa hewan laut yang berukuran lebih kecil seperti ikan, udang, atau cumi-cumi.

Termasuk jenis paus langka, narwhal punya ciri berupa panjang tubuh mencapai 4-4,5 meter. Sedangkan panjang tanduknya bisa mencapai 2,4-3 meter dengan berat mencapai 10 kilogram.

2. Tanduk dari gigi

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Discover Whales (@discover_whales)

Pada beberapa tahun di masa lampau, tanduk ikonik yang dimiliki narwhal nyatanya sempat menimbulkan perdebatan bagi para peneliti mengena fungsinya. Namun terbaru, fungsi dan dari mana tanduk tersebut berasal akhirnya berhasil teridentifikasi.

  Misteri ratusan paus terdampar dan mati di Australia

Diketahui kalau tanduk yang ada ternyata tumbuh dan berkembang dari gigi mereka. Mengenai fungsinya, tanduk tersebut dilengkapi dengan sistem sensor yang sangat kuat sehingga mampu digunakan untuk berbagai hal.

Adapun beberapa kegunaan dari tanduk tersebut di antaranya adalah untuk mencari makan, mendeteksi arus lautan, mengetahui kualitas air, dan mendeteksi narwhal lain.

Konon, tanduk narwhal yang panjang sering diberikan kepada bangsawan sebagai hadiah tak ternilai. Namun sebuah tanduk gading narwhal bernilai 10.000 euro atau setara Rp153 juta pernah diberikan kepada Ratu Elizabeth.

Yang mengagumkan, paus bertanduk satu ini punya kemampuan menyelam di laut gelap. Biasa bepergian dalam kelompok yang terdiri dari 15-20 individu, mereka disebut bisa hidup hingga usia 50 tahun.

3. Perubahan iklim adalah musuh utama

narwhal (..page│zhang./Flickr)

Mengutip Kompas.com, secara spesifik disebutkan bahwa narwhal berhabitat di perairan negara dekat dengan wilayah Kutub Utara, seperti Greenland, Kanada, dan Svalbard di Norwegia. Namun seperti yang kita tahu, aktivitas manusia saat ini termasuk di negara terdekat mereka telah menyebakan perubahan iklim. Hal tersebut secara langsung juga memengaruhi habitat hidup narwhal.

  Mengerikan, 5 hewan ini punya kebiasaan menyimpang dan tak biasa

Tingginya aktivitas manusia yang dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran air laut rupanya membuat hewan tersebut stress. Hal itu lantaran mereka biasa mendeteksi lingkungan hidup atau air laut yang tenang dengan tanduknya. Namun kini, lingkungan yang harus mereka deteksi untuk bertahan hidup sudah tercemar dengan kebisingan suara dan sejenisnya.

Jika disimpulkan, segala sesuatu dalam kehidupan hewan satu ini memang didasarkan pada suara. Namun karena sudah banyaknya pencemaran suara di habitat mereka, hal tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan narwhal dalam bertahan hidup terutama saat memburu mangsa. Tentu, dalam jangka waktu panjang hal tersebut juga dapat berpengaruh bagi kesehatan mereka.

Di saat bersamaan, narwhal juga dikenal memiliki loyalitas tinggi terhadap habitat aslinya. Sehingga sangat tidak memungkinkan bagi mereka untuk bertransmigrasi atau pindah ke habitat baru.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya