Penemuan ular naga, hewan mitos penunggu Pulau Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ular naga (Greneers)
Foto ular naga | Greeners

Panji Petualang berhasil menemukan ular naga yang keberadaannya relatif langka. Penemuan ini dirinya dapat dalam sebuah ekspedisi ke Gunung Sunda, Jawa Barat (Jabar). Ketika itu Panji melihat ada seekor ular kecil di aliran air, dirinya kemudian mengambil dan ternyata itu ular naga.

Keberadaan ular naga selama ini dianggap mitos. Banyak yang percaya hewan ini kerap menampakkan diri di Gunung Sunda. Tetapi dengan adanya penemuan ini, membuat hewan langka tersebut tidak lagi menjadi mitos tetapi memang ada keberadannya.

Lalu bagaimana cerita keberhasilan Panji menemukan ular naga, juga terkait mitos dari hewan langka satu ini. Di mana juga keberadaan reptilia ini sehingga dianggap langka? berikut uraiannya:

1. Penemuan ular naga

Panji Petualang (Malang Times)

Ular naga yang memiliki nama spesies Xenodermus Javanicus ini tergolong ke dalam ordo Squamata dan genus Xenodermus. Dia merupakan satu-satunya anggota suku tersebut yang ahli temukan di dunia. Ular naga bukanlah jenis reptil yang berbahaya bagi manusia.

Ular naga biasanya memiliki kulit yang kasar dan di sepanjang punggungnya dipenuhi duri. Tetapi ular naga yang ditemukan oleh Panji tidak memiliki sayap dan tanduk, serta tidak bisa menyemburkan api seperti digambarkan dalam mitos-mitos di berbagai negara.

  7 hewan kanibal yang mampu memangsa sesama spesiesnya

“Nih ular naga yang menjadi mitos. Nih, beneran ada ular naga emang,” kata Panji melalui channel Youtube pribadinya.

Sesuai namanya, ular tersebut hanya ada di Pulau Jawa. Panji pun memperlihatkan ular tersebut kepada tiga temannya yang ikut ekspedisi ke Gunung Sunda.  Salah seorang temannya terkagum-kagum bisa melihat secara langsung penampakan ular naga tersebut.

2. Hewan yang sulit ditemukan

Ular naga (Nusantaranews)

Memang penemuan ini cukup mengejutkan karena reptil ini cukup sulit untuk ditemukan. Menurut Panji, hewan satu ini hanya ada di lokasi-lokasi tertentu saja.

“Pokoknya, dia ini adalah penguasa ketinggian, biasanya di daerah-daerah pegunungan, kebun teh yang dekat-dekat air. Dia ini semi akuatik.” ujarnya.

Bedasarkan keterangan, ular naga memang hidupnya di aliran-aliran air yang kecil dan di bawah tumpukan daun yang lembap. Ular naga merupakan predator hewan kecil seperti larva, kadal, katak, dan sebagainya.

Panjii juga menyatakan, ular ini merupakan ular naga asli yang hidup di pedalaman-pedalaman hutan yang masih belum terjamah oleh manusia, juga hidup di area yang dingin.

  Simba, bayi kambing unik dengan telinga panjang

“Ini spesies yang unik yang berasal dari area ketinggian di Pulau Jawa. Indonesia harus bangga punya hewan ini karena hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa,” ujar Pandji.

Dirinya sendiri juga tidak menyangka bisa menemukan ular naga itu di Gunung Sunda. Pasalnya menurut Panji biasanya ular naga ini ditemukan di lereng Gunung Slamet.

3. Mengenal ular naga

Ular Naga (Forestation UKT UGM)

Ular naga atau dragon snake memang cukup menarik karena satu-satunya ular dalam genusnya. Ular ini dianggap langka dan tidak banyak dipelihara, selain itu reptil ini dikatakan tidak akan bertahan di penangkaran.

Ular ini aktif di malam hari, dan memangsa hewan kecil. Ular ini memiliki tingkat produktivitas yang rendah, hanya memproduksi dua sampai empat butir telur setahun.

Hewan ini memiliki panjang maksimal sekitar 60 cm dan hidup pada habitat dataran rendah, rawa, dan sering berlindung di bawah dedaunan mati yang ada di lantai hutan atau batu-batuan di dekat sungai.

Di Indonesia, persebarannya ular ini ada di Pulau Jawa. Ular ini dapat kita jumpai pada ketinggian 500-1000 mdpl. Pada ekosistemnya, ular ini berfungsi mengontrol populasi katak.

  Pranata manga, sistem penanggalan musim tanam yang dekatkan petani dengan alam

Status konservasi ular ini bedasarkan IUCN yaitu Least Consern (LC) atau berisiko rendah, namun pada kenyataannya ular ini tergolong jarang ditemukan di alam liar. Hewan ini sempat marak diiperjual belikan secara online beberapa tahun lalu, namun pada akhir tahun 2017  sudah tidak ditemukan lagi.

Foto: 

  • Greneers
  • Malang Times
  • Nusantaranews
  • Forestation UKT UGM

Artikel Terkait

Artikel Lainnya