Ratusan monyet turun ke permukiman warga di Sukabumi, kenapa bisa terjadi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi monyet (Agus Fadjar/Flickr)

Ratusan monyet ekor panjang turun ke permukiman warga di Kampung Pamoyanan Kaler, Desa Sukamekar, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Gerombolan monyet itu masuk permukiman warga diperkirakan karena kelebihan populasi di habitatnya.

Kelebihan populasi disebut menjadi alasan konflik kelompok monyet ekor panjang. Mereka biasanya akan turun untuk sekadar mencari makan atau mencari tempat baru bersama kawanannya. Tapi disebutkan monyet ini dalam waktu tidak lama akan kembali pergi.

Lalu bagaimana cerita tentang monyet ekor panjang ini? Dan apa yang perlu dilakukan?

1. Ratusan monyet turun ke permukiman

Monyet (Ville Vehmaskangas/Flickr)

Ratusan monyet ekor panjang dikabarkan turun ke pemukiman warga di Kampung Pamoyanan Kaler, Desa Sukamekar, Sukaraja, Kabupatan Sukabumi dalam sepekan terakhir. Mereka merupakan spesies kera ekor panjang berwarna hitam dan abu-abu.

Nining (45) warga sekitar mengungkapkan kesaksian saat melihat monyet masuk ke pemukiman rumahnya. Pada Rabu (23/8) kemarin, gerombolan monyet bergelantungan di pohon dan berpindah ke atap rumah Nining.

“Dari situ (menunjuk pohon) kan di situ ada pisang, alpukat, nangka. Saya sempat lihat gerombolan banyak, biasanya pagi sampai sore,” kata Nining yang dimuat Detik.

Dia juga menunjukkan atap dan genting rumahnya pecah. Meski monyet itu mendekati pemukiman warga, tapi Nining bilang tak sampai melukai masyarakat. Dirinya mengaku resah saat monyet sering turun ke pemukiman, karena itu sudah melaporkan kejadian ini ke pihak desa.

  Mengenal Narwhal, paus bertanduk sang 'unicorn laut'

2. Menyerang perkebunan

Monyet ekor panjang (Sergey Yeliseev/Flickr)

Gerombolan monyet yang jumlahnya mencapai ratusan ekor itu kerap kali turun ke area perkebunan dan permukiman warga sekitar. Bahkan beberapa petani mengeluh hasil kebunnya seringkali dijarah kawanan monyet hingga merusak area lahan perkebunan.

Salah seorang petani, Jejen (56) mengatakan setiap harinya diperkirakan ada ratusan ekor monyet turun ke kebun garapannya, merusak area kebun, kemudian memakan buah-buahan, sayuran, hingga umbi-umbian.

Bahkan ada sepetak lahan ubi jalar tak jadi dipanen gegara keburu diserang kawanan monyet. Jejen melihat monyet dengan ekor panjang itu turun secara bergerombol. Beberapa ekor di antaranya ada yang berukuran besar dan cukup agresif.

Ada pula monyet ukuran besar lainnya yang turun sambil menggendong anaknya. Mau tak mau, Jejen kini harus berjaga di kebun seharian penuh agar kebun yang tersisa tak dirusak. Pasalnya serangan monyet ini langsung ke tanaman, seperti pisang, ubi jalar, jagung, nangka, kacang, sampai dau bawang.

“Saya jadi tak bisa menanam takut dirusak lagi. Datang bergerombol bisa pagi, siang, atau sore. Kalau buat petani mah jelas bikin resah, jadi tidak bisa menanam lagi. Jagung, ubi jalar, kacang tanah, dan lainnya tidak bisa ditanam dulu. Bisa habis lagi dimakan monyet,” kata Jejen yang diwartakan Pikiran Rakyat.

3. Over populasi

Ilustrasi monyet (Agus Fadjar/Flickr)

Fenomena ratusan monyet yang turun ke pemukiman ini disebut karena kelebihan populasi. Terlebih monyet merupakan spesies hewan yang hidup secara berkelompok. Beberapa monyet ini bahkan menyerang pemukiman sekitar.

  Mengenal pohon kenari yang jadi peneduh jalan di Bogor selama ratusan tahun

Kepala Resort Goalpara Sobirin Yuliawan menjelaskan, kawanan monyet itu bukan berasal dari kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kawanan penyangga Goalpara ada di Desa Cisarua, Langensari, Sukamaju dan Margaluyu. 

“Itu monyet sampai keluar dari kawanan gara-gara overpopulation. Habitatnya mereka kan hidup di tempat-tempat baik di hutan atau di perkebunan juga bisa, apalagi tempat yang banyak bambu dia senang sekali karena makan pucuknya,” kata Sobirin.

Lebih lanjut, karena kelebihan populasi maka terjadi konflik antar kelompok monyet ekor panjang. Mereka biasanya akan turun untuk sekadar mencari makan atau mencari tempat baru bersama kawanannya.

“Biasanya enggak lama sih, kalau yang begini karena ini menjelang musim kemarau mereka bergeser ke bawah. Tapi biasanya nanti dia setelaha da tempat lagi untuk wilayahnya dia, dia akan kembali lagi,” jelasnya.

Menurutnya sejauh ini, pihaknya belum menerima laporan terkait fenomena kawanan monyet yang turun ke pemukiman warga. Namun Sobirin menegaskan pihaknya akan menindaklanjuti bila ada laporan dari masyarakat.

  Demi bertemu pasangan, paus bungkuk mampu berkelana sejauh 6.000 kilometer

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya