Sanggup makan 200 kg ubur-ubur tiap hari, ini 5 fakta soal penyu belimbing

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Penyu belimbing | @Roger Le Guen (flickr)

Perairan Indonesia lazim dikenal sebagai rumah bagi banyak spesies penyu. Sejatinya, keberadaan penyu penting untuk menjaga ekosistem laut yang sehat dan akan menjadi habitat bagi hewan laut lainnya.

Penyu juga dianggap sebagai rumah bagi beberapa spesies. Organisme air kecil yang disebut epidermis sering menempel pada permukaan yang keras seperti cangkang kura-kura. Penyu juga membantu membangun habitat laut dengan menyebarkan eksofit.

Lain itu, penyu juga santapan bagi burung dan ikan di laut lepas, karenanya beberapa kilometer dari pantai penyu acapkali mencari makan dan bersembunyi dari pemangsa.

Salah satu penyu yang kerap melintasi peraian Indonesia adalah penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Penyu ini merupakan satu-satunya penyu dalam famili Dermochelydae, dan bagi sebagian penduduk pesisir, menyebutnya sebagai kura-kura raksasa, katong, mabo.

Berikut fakta menarik tentang hewan laut penjelajah samudra ini.

1. Penyu terbesar

Dikenal sebagai penyu terbesar di dunia, penyu belimbing memiliki dampak besar pada ekosistem laut. Namun, kehidupan reptil laut ini juga tidak dapat dipisahkan dari berbagai ancaman terhadap populasinya, sehingga diperlukan upaya konservasi yang serius untuk menyelamatkan keberadaannya.

  Mengenal erabu, ular amfibi di perairan Indonesia

Secara fisik, penyu belimbing lebih besar dari jenis penyu lainnya, seperti penyu hijau, penyu sisik, dan penyu tempayan. Panjang tubuhnya mencapai 2,7 meter dan beratnya bisa mencapai 500 kg.

Ciri fisik lainnya adalah cangkang berwarna gelap dengan bintik-bintik putih. Karapasnya juga lembut, dan sirip depannya lebih panjang dari sirip belakangnya.

2. Penyelam tangguh

Soal menyelam, penyu ini bisa menyelam sedalam ikan paus yang menyelam sedalam-dalamnya. Mereka bisa menyelam hingga kedalaman 1.200 meter untuk menemukan mangsa, yakni ubur-ubur sambil menghindari predator.

Penyu belimbing juga merupakan reptil laut tercepat dan mencapai kecepatan hingga 35 kilometer per jam. Dengan kemampuannya itu, tak sulit bagi mereka untuk melakukan perjalanan ribuan kilometer, bahkan melintasi berbagai benua.

Daya jelajah penyu ini pun sangat luas, hingga bisa ditemukan di Newfoundland utara, Kanada, dan Amerika Selatan. Memiliki sistem pendingin dan penghangat tubuh, hewan ini mampu beradaptasi diperiran yang hangat, bahkan dingin sekalipun.

3. Sanggup makan 200 kg ubur-ubur dalam sehari

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, penyu belimbing lazimnya menyantap moluska, seperti ubur-ubur. Sambil menjelajah lautan, setiap harinya, penyu ini bisa makan hingga 200 kg, setara dengan berat singa Afrika. 

  Muhammad Yusri, penjaga kelestarian penyu di Pantai Mampie

Selain ubur-ubur, penyu belimbing juga terkadang memakan rumput laut, ikan, krustasea, dan invertebrata laut lainnya.

4. Bertelur hingga 5 kali per musim

Penyu belimbing betina dapat bertelur 4-5 kali per musim. Satu kali peneluran, sekira bakal keluar 60-120 telur yang mereka kubur dalam pasir pantai. 

Kemunculan penyu belimbing pun boleh jadi sangat jarang, bahkan di pesisir pantai di indonesi sekalipun. Wajar saja, mereka umum meletakkan telurnya di sepanjang benua bumi ini.

5. Status konservasi dan sebaran

Berdasarkan sebarannya, penyu belimbing umum ditemukan perairan Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, Samudra Pasifik, di wilayah Kepala Burung Papua, dan di lautan Marc.

Dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES), penyu belimbing sudah menerima status Appendix I yang berarti memiliki status dilarang untuk diperdagangkan secara internasional.

Sementara dalam IUCN, penyu belimbing masuk kategori Critically Endangered (CR) atau terancam punah. Salah satu isu kematian penyu belimbing belakangan adalah mengonsumsi sampah plastik yang ada di laut. Boleh jadi, hewan ini menganggap sampah plastik adalah ubur-ubur.

  5 mamalia yang sebabkan ratusan kematian per tahun

Penyebab kematian lainnya dari penyu raksasa ini adalah tertabrak kapal, kena bom ikan, pencemaran laut, dan tentunya karena perubahan iklim.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya