3 fakta unik daun kentut, bau tapi banyak manfaat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Daun kentut (Paco Garin/Flickr)

Apa jenis tumbuhan, daun, atau bunga paling aneh bin unik yang pernah kalian dengar atau bahkan jumpai secara langsung? Kebanyakan orang mungkin akan menjawab bunga rafflesia atau bunga bangkai, tapi nyatanya selain itu ada jenis tumbuhan lain yang dikenal karena keunikannya, yakni daun kentut.

Iya, bukan hanya hewan sigung saja yang selama ini terkenal akan ciri khasnya dalam mengeluarkan kentut beraroma bau, dari kingdom plantae atau tumbuhan nyatanya juga ada spesies yang memiliki ciri khas serupa yakni berupa kemampuan mengeluarkan aroma kurang sedap seperti kentut.

Menariknya, ciri khas bau yang dimiliki daun kentut bukan berarti membuat jenis tumbuhan satu ini sama sekali tidak berarti. Kebalikannya, justru daun kentut punya banyak manfaat dan beberapa kondisi yang membuatnya banyak diminati.

Hal apa yang menarik dari daun kentut? Berikut faktanya.

1. Asal usul penamaan

Daun kentut atau simbukan (Nelindah/Flickr)

Penamaan daun kentut sendiri terjadi bukan tanpa alasan, hal tersebut karena daun dari tumbuhan satu ini mengeluarkan aroma busuk seperti belerang. Daun kentut sebenarnya berasal dari wilayah Asia tropis yang telah dinaturalisasi ke sejumlah wilayah lain seperti Melanesia, Polinesia, dan kepulauan Hawaii.

  Kanguru mantel emas, mamalia berkantung endemik dari tanah Papua

Karena sudah tersebar di berbagai negara, tak heran kalau tumbuhan satu ini punya julukan nama yang beragam, meski sebenarnya arti di setiap nama merujuk ke makna yang sama, yaitu baunya.

Disebut kalau tumbuhan satu ini mulai diperkenalkan sekitar tahun 1897 dan diberi nama latin Paederia foetida yang artinya kotoran berbau busuk. Sementara itu di Malaysia, daun kentut lebih dikenal dengan nama kesimbukan atau akar kentut, kantutai di Filipina, dan skunk vie di Inggris yang berarti anggur busuk.

Bagaimana dengan Indonesia?

Beda wilayah maka beda pula julukannya, masyarakat Sunda lebih mengenal daun ini dengan sebutan kahitutan, dalam bahasa Jawa disebut sembukan, dan dalam bahasa Madura disebut bintaos.

2. Jadi tanaman hias

Daun kentut (J. B. Friday /Flickr)

Memang, bau khas yang dimiliki daun kentut sangat menyengat terutama ketika daunnya diremas atau digosok. Tapi, aroma tersebut akan hilang saat sudah dimasak, meski saat dikonsumsi masih menyisakan rasa pahit.

Meski begitu daun kentut rupanya memiliki sederet manfaat dan beberapa kondisi yang membuatnya banyak diminati. Pertama, daun ini memiliki karakteristik unik sebagai tanaman yang tumbuh merambat serta menempel pada tumbuhan lain, dan bisa memanjang hingga ketinggian 1,5 meter sampai 7 meter.

  Ketika ikan raksasa asal Amazon berkeliaran di sungai-sungai Indonesia

Hal menarik lainnya dari tumbuhan ini adalah keberadaan bunga yang punya tampilan cantik, berupa kuncup putih dengan tampilan warna ungu di bagian dalamnya. Karena itu, tetap banyak orang yang menjadikan daun kentut sebagai tanaman hias di pekarangan rumah.

3. Olahan lauk dan sederet manfaat

Nasi Kentut (Sita_Wulandarii/Cookpad)

Di samping tampilan bunganya yang cantik, ternyata daun kentut memiliki segudang manfaat dan diyakini berkhasiat untuk menyembuhkan beberapa masalah kesehatan seperti asam usat, diare, dan wasir.

Daun kentut juga biasa dikonsumsi dengan tujuan untuk merawat kesehatan usus terutama sebagai pencegahan antidiare dan antidisentri.

Bukan tanpa alasan, sejumlah khasiat tersebut diperoleh karena daun kentut disebut mengandung antiinflamasi yang bermanfaat untuk mengurangi peradangan dalam tubuh.

Sementara itu pemanfaatan lain yang tak kalah unik juga dapat ditemukan di tengah masyarakat Medan, yang sudah tidak asing dengan salah satu olahan bernama nasi kentut.

Sesuai namanya, nasi kentut adalah pangan yang berasal dari olahan nasi yang dicampur oleh daun kentut, kemudian ditambah rempah-rempah dan dibungkus serta dimasak dengan daun pisang. Selain itu, daun kentut juga sering digunakan sebagai olahan botok.

  Banyak ditemukan di permukiman, benarkah ular pucuk tidak berbahaya?

Artikel Terkait

Artikel Lainnya