Cemara sumatra, tanaman langka yang potensial sebagai obat kanker

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Taxus sumatrana (Cerlin Ng/Flickr)

Cemara sumatra (Taxus sumatrana) merupakan tumbuhan dari genus Taxus di Asia yang ditemukan di daerah tropis. Tumbuhan berdaun jarum ini termasuk jenis yang lambat tumbuh dan sulit ditemukan. Tanaman ini memiliki banyak khasiat untuk kesehatan.

Genus Taxus menjadi fenomenal, karena diidentifikasi sebagai tanaman yang mengandung senyawa unik taxenedari golongan diterpenoid. Senyawa aktif tersebut berkhasiat sebagai anti kanker yang terbukti mampu membunuh sel kanker secara efektif dan efisien, serta memiliki efek samping yang rendah.

Lalu bagaimana tanaman berkhasiat ini tumbuh? Dan apa saja khasiatnya? Berikut uraiannya:

1. Cemara sumatra

Taxus sumatrana (翁明毅/Flickr)

Cemara sumatra merupakan tumbuhan dari genus Taxus yang bisa ditemukan di daerah tropis. Tumbuhan berdaun jarum ini termasuk jenis yang lambat tumbuh dan sulit ditemukan. Namun berdasarkan penelitian Henti Hendalastuti dan R Atok Subaktio, tanaman ini berkhasiat menyembuhkan penyakit.

Dimuat dalam Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam tahun 2010 diketahui bahwa tumbuhan ini penghasil taxane, yaitu zat aktif yang berkhasiat melawan penyakit kanker. Namun untuk memaksimalkannya sebagai obat kanker terkendala pada jumlah populasinya.

  Melihat ayam yang lebih dari sekadar hewan ternak di Bali

“Sulit mendapatkan benihnya. Alternatif potensial untuk perbanyakan bibit melalui teknik stek,” jelas peneliti yang dimuat di Mongabay Indonesia.

2. Gunung Kerinci dan Dempo

Taxus sumatrana (JJ-Merry/Flickr)

Pada tahun 2020, Tim Peneliti Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok, Riau menjelaskan populasi cemara sumatra berada di Gunung Singgalang. Tim ini menemukan empat pohon yang jarak dari satu pohon ke pohon berikutnya mulai 40 meter hingga 400 meter, serta satu anakan setinggi 50 cm.

Taxus di Gunung Singgalang ditemukan mulai pada ketinggian 1.791 meter di atas permukaan laut,” tulis peneliti dari Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok.

Dari survei tim BP2TSTH Kuok, cemara sumatra alami hanya ditemukan di hutan hujan tropis di pegunungan, pada ketinggian di atas 1.700 mdpl. Data tahun 2003 menunjukkan, cemara sumatra pernah terpantau di Gunung Kerinci, Gunung Tujuh, Gunung Sibuaton, dan Gunung Dempo.

Hal ini juga dikuatkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli yang menyebutkan bahwa cemara sumatra bisa menjadi bahan dasar pengobatan kanker. Ekstrak tanaman ini yaitu paclitaxel bisa dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan kanker.

  Dibanding hewan modern, mengapa dinosaurus memiliki ukuran tubuh yang lebih besar?

“…Khususnya kanker ovarium dan kanker payudara, dan juga telah dicobakan untuk pengobatan beberapa jenis kanker. Taxus juga mempunyai potensi anticonsulvant dan antipyretic serta analgesic.”

Di Asia, genus Taxus hanya ada Taxus cuspidata di Jepang, Taxus chinensis di China, dan Taxus sumatrana di Indonesia, Taiwan, Vietnam, Nepal, dan Tibet, namun kini populasinya terancam punah, apalagi pertumbuhannya pun tidak menyebar luas.

3. Regenerasi tanaman

Taxus sumatrana (Cerlin Ng/Flickr)

Penelitian dari Hamdu Afandi Ramde dari Universitas Sumatra Utara menunjukkan bahwa regenerasi cemara sumatra bisa dimaksimalkan dengan metode stek pucuk. Baginya penyediaan bibit berkualitas dapat digunakan guna mendorong keberlanjutan pengembangan pembudidayaan maupun pelestarian.

Metode stek pucuk sangat dipengaruhi media tanam yang nantinya berdampak terhadap parameter jumlah akar primer. Hasil stek menunjukkan, persentase stek hidup 50-65 persen, persentase stek berakar 10-30 persen, jumlah akar primer menghasilkan 2-10 buah, dan panjang akar primer berkisar 0,85-0,25 cm.

Adapun media tanam stek pucuk adalah kombinasi tanah dan sekam, dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) guna menghasilkan persentase berakar tertinggi. Badan Konservasi Dunia (IUCN) menetapkan cemara sumatra dalam status Endangered atau Genting.

  Ancaman serangga penggerek yang diprediksi bunuh 1,4 juta pohon pada 2050

“Indikator yang menjadikannya berstatus konservasi terancam punah karena terjadinya penurunan populasi dan masih berlangsung hingga saat ini.”

Artikel Terkait

Artikel Lainnya