Edelweis, keindahan bunga abadi yang tidak boleh dipetik sembarang

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bunga edelweis (muhammad Insan/Flickr)
Bunga edelweis (muhammad Insan/Flickr)

Bunga edelweis dijuluki sebagai bunga abadi. Hal ini karena dalam edelweis terkandung hormon etilen yang berfungsi agar bunganya tidak gugur. Karena inilah yang membuat edelweis dijuluki bungan abadi yang umurnya bisa mencapai lebih dari 100 tahun.

Sementara itu di beberapa tempat, pengambilan bunga edelweis hanya boleh dilakukan dalam upacara adat. Kearifan lokal inilah yang tetap menjaga bunga edelweis agar tetap lestari. Walau ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang memetik bunga ini.

Lalu bagaimana bentuk dari bunga edelweis ini? Apa yang membuatnya begitu berharga hingga dijaga kelestariannya? Berikut uraiannya:

1. Bunga edelweis dalam puisi

Bunga edelweis (abil_syahputra/Flickr)
Bunga edelweis (abil_syahputra/Flickr)

Malam itu ketika dingin dan kebisuan

Menyelimuti mandalawangi

Kau datang kembali

Dan berbicara padaku tentang kehampaan semua

Bait di atas merupakan penggalan puisi Mandalawangi-Pangrango sebuah karya fenomenal dari Soe Hok Gie. Tempat yang menjadi inspirasi puisi ini adalah habitat edelweis yang terdapat di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Para pendaki memang selalu terhibur dengan bunga cantik ini.

Edelweis dipercaya sebagai simbol cinta, kekuatan, keabadian, dan ketulusan. Karena itulah, bunga dari famili Asteraceae banyak diburu oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan oleh mereka yang mengaku sebagai pecinta alam sekalipun.

  Bunglon jambul hijau, si penipu ulung dengan kemampuan mengubah warna

Bunga ini memang menggoda untuk dimiliki, tidak mudah layu, rusak meski sudah dipetik dari tangkainya. Kecantikannya dan karakteristik edelweis sudah menginspirasi banyak penulis untuk menciptakan sebuah karya baik film, lagu hingga puisi.

Muhammad Fathoni Hamzah dalam penelitiannya berjudul Studi Morfologi dan Anatomi Daun Edelweis Jawa (Anaphalis javanica) pada Beberapa Ketinggian yang Berbeda di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru diketahui tumbuhan ini berbatang selinder, berdaun panjang, tipis, berbulu lebat, dan tersebar atau berhadapan.

“Bagian tengahnya terdapat buang berwarna oranye dan kepala bunga yang menyerupai bunga aster,” tulis laporan tersebut yang dimuat dari Mongabay Indonesia.

Edelweis merupakan tumbuhan perintis yang kuat dan mendiami lereng tandus akibat kebakaran, juga daerah terbuka seperti puncak dan kawah. Edelweis hidup di ketinggian antara 1.600 hingga 3.600 mdpl. bunga-bunganya akan muncul di bulan April dan Agustus yang sangat disukai serangga seperti kutu, kupu-kupu, lalat, hingga lebah.

Mengutip dari generasibiologi.com, persebaran edelweis terutama di Asia Tengah dan Selatan, total sebanyak 110 jenis. Sedangkan di Asia Tenggara termasuk New Guiena, hanya terdapat 6 jenis Anaphalis, yakni A Javanica, A longifolia, A maxima, A viscida, A helwigii, dan A arfakensis.

2. Penegakan hukum

Padang edelweis (rindu rahmiasih/Flickr)
Padang edelweis (rindu rahmiasih/Flickr)

 

  Hati-hati, 5 hewan ini ternyata pendendam pada manusia

Penelitian dari Saddam Husein Maarif yang berjudul Penegakan Hukum Terhadap Pelaku yang Mengambil Bunga Edelweis di Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango Dihubungkan Dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDAH dan Ekosistem menunjukan tumbuhan ini sering dipetik oleh para pendaki yang tidak bertanggung jawab.

Kondisi ini karena lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Padahal, undang-undang telah mengatur tegas perlindungan bunga ini. Sementara bagi siapapun yang melanggarnya, baik disengaja ataupun dikarenakan kelalaian, akan dijerat sanksi pidana yang berlaku.

“Namun dalam fakta yang terjadi, para pelanggar tidak diberikan sanksi yang sesuai ketentuan undang-undang. Bahkan hingga saat ini, para pelaku hanya diberikan sanksi moral dan belum ada pelanggar yang dikenakan sanksi pidana oleh aparat,” tulis laporan tahun 2017 itu.

Sementara dalam hukum yang berlaku seperti Pasal 40 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bisa dipenjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak 100 juta.

3. Kearifan lokal untuk menjaga edelweis

Bunga edelweis (Michel/Flickr)
Bunga edelweis (Michel/Flickr)

Amanu Budi Sutiyo Utomo dan Suwono Heddy dalam Jurnal Produksi Tanaman Vol 6 No 8 Agustus 2018 berjudul Etnobotasi Edelweiss (Anaphalis spp) di Desa Ngadas, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru diketahui masyarakat Ngadas sangat melestarikan adat istiadat leluhurnya.

  Gowok, buah endemik kaya manfaat yang semakin sulit ditemukan

Kearifan lokal ini sangat baik dalam upaya pelestarian habitat edelweis. Bahkan edelweis digunakan pemanfaatan dalam Upacara Adat Tengger Desa Ngadas di antaranya Kasada, Karo, Entas-Entas, dan Walogoro (pernikahan). Pengambilan bunga edelweis dalam upacara adat hanya dilakukan oleh perwakilan, biasanya kepala keluarga.

Selain itu, mereka juga memiliki peraturan adat. Apabila seseorang menebang lima batang pohon non-komersial di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, maka dia harus membayar dengan 50 karung semen dan 300 pohon pada bekas lokasi terbangun.

“Kearifan lainnya adalah ketika keberadaan edelweis semakin sedikit setelah kebakaran, maka pada upacara adat mereka mengurasi presentasi bunga tersebut dalam sesaji. Tindakan konservasi dari pihak taman nasional dan masyarakat lokal tentunya dapat menjaga kelestarian edelweis,” 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya