Harga muntahan paus bisa tembus miliaran rupiah, apa istimewanya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Paus bungkuk (Hogarthoriginals/Flickr)

Muntahan paus atau ambergis ternyata memiliki nilai yang fantastis. Benda yang berbau amis ini diyakini memiliki miliaran rupiah tergantung bobot ukurannya. Benda ini memang memiliki harga yang sangat mahal di pasaran

Walau berasal dari perut paus dan berbau amis. Tetapi ketika sudah berada di alam sekian lama, baunya akan menjadi manis dan berbau khas seperti tanah. Benda ini sering digunakan untuk pengikat aroma pada parfum. 

Lalu apa penjelasan mengenai mahalnya harga muntahan paus? Dan mengapa bisa digunakan untuk bahan parfum? Berikut uraiannya:

1. Muntahan paus

Paus (hdwallpapersaz/Flickr)
Paus (hdwallpapersaz/Flickr)

Baru-baru ini seorang perempuan di Thailand mengaku menemukan benda padat berwarna kekuningan saat berjalan-jalan di pantai. Benda yang berbau amis itu memiliki berat 6,8 kg. 

Saat dirinya mencoba membakar, salah satu bagiannya meleleh, namun saat suhu kembali turun, benda itu akan kembali mengeras. Dia menyakini bahwa benda sepanjang 12 inci atau 30 sentimeter itu merupakan muntahan paus atau ambergis. 

Bila benar benda yang dirinya temukan adalah ambergis, itu merupakan keberuntungan baginya karena bisa membuatnya mendapatkan banyak uang. Apalagi melihat ukurannya yang sangat besar. 

  Hanjeli, tananan alternatif pengganti beras yang dorong ketahanan pangan

Dengan besarnya ukuran yang ditemukan olehnya, muntahan paus ditaksir bisa mencapai 3,7 miliar. Hal itu mengingat harga per gram dari ambergris bisa mencapai ribuan dollar AS. 

2. Mengapa ambergis harganya mahal? 

Ilustrasi paus (Kerstin Meyer/Flickr)

Mengutip Business Today (10/6/2022) yang dimuat Kompas, benda yang memiliki sifat seperti lilin ini memang memiliki harga yang sangat mahal di pasaran, khususnya di negara-negara teluk. Salah satu faktornya adalah keberadannya yang sulit ditemukan. 

Ambergis terbentuk dari bagian hewan yang keras, seperti paruh cumi-cumi dan zat cairan empedu yang mengikatnya. Lama-kelamaan campuran itu terus terbentuk di dalam pencernaan paus selama bertahun-tahun sebelum dikeluarkan. 

Ambergis akan keluar dari perut paus dalam bentuk bongkahan besar dan kemudian mengapung di lautan. Kemudian saat mengapung di lautan dan terkena sinar matahari, ambergis yang mirip kotoran akan berubah mengeras menjadi seperti batu. 

Meskipun berbau amis atau menyerupai bau ikan saat pertama kali diproduksi, muntahan paus ini akan mengalami perubahan aroma seiring berjalannya waktu. Baunya akan menjadi manis dan berbau khas seperti tanah. 

  Pelawan, pohon unik yang bermakna bagi orang Bangka Belitung

Ambergis diketahui juga bisa ditemukan dari dalam usus paus sperma tersebut, sebelum akhirnya dimuntahkan. Meski benda ini laku dengan harga mahal, perburuan paus sperma untuk mengumpulkan ambergis bersifat ilegal. 

3. Digunakan untuk parfum

Muntahan paus biasa dijadikan sebagai pengikat aroma pada parfum dan wawangian langka seperti musk. Bau dari ambergis ini banyak diinginkan oleh para pakar parfum di dunia. 

Aroma yang sulit dideskripsikan ini berasal dari proses oksidasi dan penggabungan dari berbagai elemen, mulai dari matahari, pasir, udara, garam laut, mineral laut, dan air. 

Pemanfaatannya pada produk parfum juga didukung oleh sifat ambergis yang juga bisa larut dalam beberapa jenis cairan dan minyak tertentu, dengan kecepatan penguapan yang lambat. 

Keberadaan ambergis membuat aroma wangi pada parfum dapat bertahan lama. Para pembuat parfum kenamaan seperti Channel sangat menggemari menggunakan bahan dari ambergis. 

Selain untuk parfum, ambergis juga dibuat untuk obat serta campuran makanan dan minuman, Raja Charles II dari Inggris biasa menyantapnya bersama telur. Ambergis juga digunakan sebagai penyedap dalam kopi turki serta campuran cokelat panas di Eropa pada abad ke 18.

  Paus bungkuk dihapus dari daftar spesies terancam, kabar baikkah?

Orang Mesir Kuno membakar ambergis sebagai dupa, sedangkan di modern digunakan di untuk mengharumkan rokok. Selama Abad Pertengahan, orang Eropa menggunakan ambergis sebagai obat untuk sakit kepala, pilek, epilepsi, dan penyakit lainnya. 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya