Kisah gemilang salak pondoh yang kini namanya meredup

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Salak pondoh (Agus Gep/Flickr)
Salak pondoh (Agus Gep/Flickr)

Salak pondoh dari Kabupaten Sleman, Yogkarta sudah sangat terkenal di beragam daerah. Rasa dan aromanya yang khas membuat salak pondoh asal Sleman ini mempunyai keunggulan tersendiri dari salak yang berada di daerah lainnya.

Sejak dekade 1990-an salak pondoh mampu mendominasi pasar buah nasional. Permintaan produk ini selalu meningkat di pasar domestik. Bahkan kedigdayaan buah ini mampu menembus pasar mancanegara. Tetapi setelah kian tahun, pamornya mulai meredup

Lalu bagaimana salak pondoh mulai ditanam di Sleman? Lalu apa potensinya sehingga bisa cukup terkenal di berbagai daerah, berikut uraiannya:

1. Salak Pondoh Sleman

Salak Pondoh (Wahyu Hidayatz/Flickr)
Salak Pondoh (Wahyu Hidayatz/Flickr)

Dalam sejarah wisata Sleman, salak pondoh (Salacca zalacca Gaertner Voss) merupakan buah khas dari daerah ini. Di wilayah Slemen utara seperti, di Kecamatan Pakem, Cangkirangan, Turi, dan sebagian Tempel, hamparan kebun salak akan begitu memanjakan mata.

Disadur dari situs resmi Kabupaten Slemen, budidaya tanaman salak pondoh bermula pada tahun 1917, ketika Partodiredjo, seorang jagabaya (perangkat keamanan desa) di Tempel mendapat oleh-oleh 4 biji salak dari seorang warga Belanda.

  Teratai raksasa terbesar di dunia ditemukan, bisa tahan bobot anak kecil

Biji salak ini dirinya tanam dan dibudidayakan. Ternyata menghasilkan buah salak yang manis dan tak kesat. Kemudian pada tahun 1948, budidaya buah salak ini kemudian diteruskan oleh putranya. Sementara itu di Kecamatan Turi, buah salak mulai ramai sekitar tahun 1979.

“Waktu itu orang-orang di sini sudah mulai menanam salak tetapi masih sering gagal karena tidak ada air (irigasi),” ungkap Waginem warga Turi yang dikutip dari Mojok.

Masyarakat kemudian mulai masif menanam salak setelah ada program ABRI Masuk Desa (AMD) pada tahun 1981. Ketika itu, para tentara membuatkan saluran irigasi sehingga lahan-lahan bisa mendapatkan perairan secara lebih baik. Sehingga, warga mulai berbondong-bondong menaman komoditas salak.

2. Salak pernah berjaya

Salak pondoh (Mikaku/Flickr)
Salak pondoh (Mikaku/Flickr)

 

Musrin, Kelompok Tani Duri Kencana, Kecamatan Tempel mengenang masa kejayaan salak pondoh. Menurutnya salak pondoh pernah meningkatkan ekonomi anggota taninya yang berjumlah 80 orang. 

“Berkat salak pondoh, rumah warga yang dulunya masih terbuat bambu dan berlantai tanah, sekarang sudah jauh lebih dengan berdinding semen dan berlantai keramik,” ucapnya yang dilansir Media Indonesia

  Simba, bayi kambing unik dengan telinga panjang

Sedangkan sejak 1998, usaha mengekspor salak pondoh telah dilakukan. Namun hingga sekarang jumlahnya masih jauh di bawah 30 persen dan hanya menjamah beberapa negara di ASEAN, Tiongkok, serta Hong Kong. 

Upaya untuk bisa menembus pasar Eropa telah dilakukan dengan memenuhi berbagai persyaratan yang diminta.  Namun, salak pondoh juga mendapat tantangan dengan harganya yang jatuh di pasaran. 

“Menjual salak sekarang sulit, paling hanya 2-4 kilogram per hari,” ucap Mbah Jono, penjual salak di Kecamatan Turi, Sleman. 

3. Meredupnya salak pondoh

Salak pondoh (mmtc jogja/Flickr)
Salak pondoh (mmtc jogja/Flickr)

Memasuki tahun 2000 an, keadaan mulai berubah. Ini terjadi karena diam-diam benih salak pondoh ditanam di luar Sleman. Lama kelamaan harga salak pondoh langsung anjlok. 

Waginem mengenang ketika salak bisa mencapai harga Rp10.000 per kg. Namun kini kondisinya tiba-tiba berubah, nilai ekonomi salak pondoh tidak seperti tahun 1990 an. 

Harganya sekarang hanya berkisar antara Rp2.000 sampai Rp3.000 per kg. Paling rendah, salaknya pernah dihargai Rp800 per kg. Walau begitu dirinya enggan berpindah dari komoditas yang pernah menghidupi dirinya dan keluarga. 

  Arab Saudi dan China berebut beras Indonesia, kenapa pemerintah menolak?

Menurut dosen Fakultas Pertanian UGM, Agus Dwight Nugroho, fenomena meredupnya salak pondoh sebenarnya hal yang normal dalam siklus hidup produk. Baginya salak pondoh sedang dalam tahap kematangan dan bisa saja akan memasuki tahap penurunan. 

“Tahap penurunan ditandai dengan berkurangnya omzet karena kalah bersaing dengan produk sejenis,” tulisnya yang dimuat dari detik

Pemerintah Daerah (Pemda) Sleman sebenarnya telah berupaya mempertahankan keberadaan salak pondoh dengan berbagai upaya, seperti sertifikasi Prima 3 maupun Indikasi Geografis. Hal ini sebagai upaya mendorong harga salak pondoh yang layak bagi petani. 

SK Bupati juga dikeluarkan oleh Pemda yang menjadikan salak pondoh sebagai komoditas unggulan daerah. Peraturan ini akan mengoptimalkan segala sumber daya yang ada di Sleman untuk pengembangan salak pondoh. 

“Namun kenyataannya berbagai langkah tersebut tetap saja belum optimal dalam pengembangan komoditas ini,” tuturnya. 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya