Lele Mutiara, sebagai generasi terbaru ikan populer di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ikan lele (sandy makruf/Flickr)

Ikan lele sudah menjadi komoditas populer yang digemari di kalangan masyarakat Indonesia. Dengan harga yang terjangkau, daging bertekstur lezat, dan gizi yang sangat tinggi, lele selalu menjadi pilihan menu makanan dalam setiap rumah.

Bagi masyarakat Indonesia, fakta tersebut menjadi momen yang tepat untuk mengembangkan produksi perikanan saat ini. Terlebih produksi lele dalam beberapa tahun terakhir sudah mengadopsi teknologi bioflok yang diketahui juga memiliki keunggulan dan ramah terhadap lingkungan.

Lalu bagaimana komoditas lele ini di Indonesia? Dan apa juga upaya pelestarian untuk mempertahankan populasi ikan ini? Berikut uraiannya:

1. Ikan lele

Ikan lele (Hakon/Flickr)

Popularitas lele sebagai komoditas perikanan andalan bagi masyarakat Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Rasanya yang lezat dengan tekstur daging yang gurih, namun mudah untuk dicerna. Membuat komoditas makanan ini sebagai salah satu ikan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat.

Fakta tersebut diharapkan menjadi peluang bagi pemerintah Indonesia untuk mengembangkan komoditas tersebut lebih baik lagi. Pengembangan tersebut, akan menjadi hasil riset luar biasa, akan mengingat budi daya lele juga sudah mengadopsi teknologi Bioflok.

  Peristiwa pawang tewas diterkam harimau, mengapa bisa terjadi?

Melihat gambaran tersebut, Badan Riset Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP KKP) melakukan serangkaian riset untuk mengembangkan lele varian baru yang kemudian diberi nama Mutiara alias Bermutu Tiada Tara.

“Olahan lele menjadi salah satu favorit kuliner bagi masyarakat Indonesia dan itu terjadi sejak lama. Bahkan, lele bisa menjadi ikon kuliner yang bisa dinikmati dari pinggir jalan hingga ke restoran/hotel berbintang,” ujar Kepala BRSDM KP KKP Sjarief Widjaja yang dimuat Mongabay Indonesia, Minggu (26/6/2022).

Menurut, Sjarief pengembangan Lele Mutiara menjadi harapan baru bagi industri perikanan budi daya di masa yang akan datang. Hal itu, karena lele sudah diterima oleh masyarakat sebagai salah satu ikan konsumsi utama. Lele ini pun diharapkan mendukung pemerintah untuk meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

2. Keunggulan

Ikan lele (Bernard DUPONT/Flickr)

Kepala BRPI Sukamandi Joni Haryadi menjelaskan bahwa Lele Mutiara bisa menjadi unggulan karena bisa tumbuh 20-70 persen lebih cepat dibandingkan lele yang biasa. Kemudian, budi daya Lele Mutiara juga ternyata jauh lebih hemat dalam penggunaan pakan dibandingkan dengan lele biasa.

  Kisah gemilang salak pondoh yang kini namanya meredup

“Sehingga dapat menekan biaya pengeluaran (produksi),” tuturnya.

Selain keunggulan itu, spesies ini juga memiliki angka rasio konversi pakan (feed convertion ratio/FCR) hanya kisaran 0,6 hingga 1 saja. Angka tersebut menjelaskan bahwa perbandingan antara berat pakan dengan berat total (biomass) ikan dalam satu siklus periode budi daya lebih rendah.

Lele Mutiara juga memiliki keunggulan lain yakni ketahanan yang tinggi terhadap berbagai penyakit. Hal ini dibuktikan melalui serangkaian uji coba dengan cara menginfeksi benih Lele Mutiara dengan bakteri Aeromonas hydrophila selama 60 jam dengan tingkat mortalitas hanya 30 persen saja.

“Lele Mutiara juga memiliki tingkat keseragaman ukuran mencapai 70 hingga 80 persen,” ucapnya.

3. Meningkatkan populasi

Ikan lele (Bernard DUPONT/Flickr)

Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP menyebutkan salah satu teknologi yang sangat tepat untuk bisa mendorong peningkatan produksi lele secara nasional adalah bioflok. Teknologi tersebut disebutnya berhasil karena bisa meningkatkan produksi dengan jumlah yang banyak.

“Bioflok ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari,” jelasnya.

  Kuliner lempah kuning, simbol harmonisnya alam dan masyarakat Bangka Belitung

Tentang bioflok, saat ini popularitasnya semakin meningkat di kalangan masyarakat  dan juga pembudidaya ikan. Kondisi ini bisa terjadi karena teknologi tersebut bisa menggenjot produktivitas lele, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas, dan juga hemat sumber air.

Menurut Slamet, semua efek positif ini bisa didapat karena teknologi tersebut mengadopsi bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, dan secara langsung dapat nilai kecernaan pakan.

“Dengan menggunakan teknologi bioflok, produksi lele bisa mengalami peningkatan hingga tiga kali lipat dari produksi biasa. Ini yang disukai para pembudidaya, dan bermanfaat untuk menambah suplai ikan secara nasional,” ungkapnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya