Menyesap manfaat delima yang katanya buah surga

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Buah delima | @Dmitrenko Ekaterina (shutterstock)

Delima (Punica Granatum) merupakan tanaman buah-buahan yang dapat tumbuh setinggi 5-8 meter. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Iran, namun telah lama dikembangbiakkan di daerah Mediterania.

Bangsa Moor memberi nama salah satu kota kuno di Spanyol, Granada, berdasarkan nama buah ini. Tanaman ini juga banyak ditanam di daerah China Selatan dan Asia Tenggara.

Delima bahkan muncul dalam kitab agama-agama di dunia, seperti dalam Alquran yang melukisan sebagai buah surga santapan bidadari.

Diceritakan di surga, pohon buah-buahan tumbuh rindang nan menghijau. Di dalamnya terdapat mata air bening yang memancar. Sementara penghuninya bidadari jelita yang bersandar pada bantal hijau dan permadani indah.

Mereka dapat memetik buah ini dari dekat karena pohon ini pendek. Yang istimewa dari beragam buah itu hanya kurma dan delima yang dibicarakan secara jelas.

Kedua pohon ini terlukis dalam Ar-Rahman ayat 68, ”Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma, delima.” Dalam surat itu, delima ditulis dengan sebutan rumman. Kata ini disebut dalam Alquran sebanyak tiga kali.

Paling populer ialah yang disebut di atas, dua yang lain terekam dalam surat Al-An’am ayat 99 dan ayat 141. Di kedua ayat terakhir itu delima bersanding dengan zaitun.

Bukan hanya di Alquran, umat Nasrani juga memercayai bahwa buah delima sebagai buah suci. Biji delima yang banyak dan indah itu kerap menjadi hiasan jubah para raja dan pemuka agama di era Mesir kuno.

Itu tercantum dalam Kitab Keluaran 28:33 Perjanjian Lama. ”Delima dengan bijinya yang terbuka juga menjadi hiasan tiang-tiang suci pada masa itu.

  5 mamalia yang sebabkan ratusan kematian per tahun

Delima yang memikat

ilustrasi kebun delima | @CherryTattka (shutterstock)

Morton dalam uraianyaFruits of Warm Climates, memaparkan bagaimana persebaran awal buah delima. Pada mulanya, pohon-pohon delima sebatas dikenal sebagai tanaman liar di Persia.

Akibat adanya proses migrasi penduduk setempat, budaya mengonsumsi delima juga turut menyebar. Dahulunya bentuk buah ini diketahui masih berkulit tebal dan serta arilsnya yang cenderung lebih kecil.

Pohon-pohon ini lalu dikembangkan dan dirawat dengan pertanian yang lebih metodis, sehingga membuat buah-buah yang dipanen pun lebih baik, membuat dagingnya menjadi tebal, dan kulitnya lebih segar.

Sejak 3.000 tahun sebelum masehi (SM), bangsa Persia telah membuat kebun-kebun delima. Karena hubungan erat antara orang Persia dan Romawi pun membuat pamor buah ini sampai ke sana.

Karena itu pada 800 tahun SM, seluruh wilayah emperium Romawi marak dengan kebun-kebun delima. Apalagi ketika itu Kerajaan Romawi terbagi menjadi dua, satu berpusat di Roma dan lainnya di Konstantinopel (kini Istanbul, Turki).

Posisi ini membuat delima menjadi komoditas unggulan. Morton menjelaskan, bahwa buah ini baru menyebar ke wilayah Nusantara sejak tahun 1400-an. Diduga pembawanya antara lain para saudagar Muslim yang berasal dari Asia Barat. Mereka juga akhirnya bermukim di wilayah ini sembari menyebarkan Agama Islam.

Pada era modern, buah delima tetap memikat bagi yang melihatnya. Jika berbelanja di gerai buah modern, tengoklah buah delima berkulit dan berdaging buah merah tua berukuran jumbo. Bobotnya bisa mencapai 400-500 gram per buah, daging buahnya manis dan bijinya lunak.

  Misteri ratusan paus terdampar dan mati di Australia

Delima biasanya ditanam di perkarangan rumah orang Indonesia dan belum mendapat pengembangan budidaya secara besar. Bahkan disebutkan keberadaannya kini mulai berkurang jumlahnya karena kalah dengan buah delima impor.

Dibutuhkan kesabaran tinggi saat menanam delima, sebab butuh waktu sekitar tiga tahun untuk tanaman delima bisa mulai berbuah. Selain itu, butuh waktu sekitar 5–7 bulan sejak terbentuknya buah hingga masak dan siap dipanen. Biasanya, buah delima dipanen pada bulan Oktober hingga Januari.

Dikabarkan Trubus dalam judul Delima: Buah Santapan Bidadari, pakar buah dari Bogor, Reza Tirtawinata, menyatakan hanya tiga delima varietas yang tumbuh di Nusantara. Yaitu delima putih, delima merah, dan delima hitam. Semuanya merujuk dari warna kulit buah tersebut. Ketiganya memiliki bobot rata-rata kurang dari 250 gram.

“Penanaman di perkarangan rumah. Itu yang banyak di tanam di Desa Cilegon, Provinsi Banten. Delima banyak ditanam di perkarangan masyarakat di kaki Gunung Muria di Jawa Tengah,” ucapnya.

Buah yang kaya manfaat

Bagian dalam buah delima | @George Dolgikh (shutterstock)

Di daerah San Joaquin Valley California, Amerika Serikat, delima cukup populer untuk dijadikan jus buah. Selain jus, olahannya juga bisa berupa teh, sirup delima, hingga ada pula yang disulap menjadi tablet.

Penelitian dari Universitas Mahidol, Thailand, menyatakan jus delima adalah jus terbaik karena kandungan antioksidannya tinggi. Riset menunjukkan, kandungan antioksidan dalam buah delima tiga kali lebih tinggi ketimbang anggur merah dan teh hijau.

  Misteri bunga rafflesia, tanaman yang dapat mekar sepanjang musim

Pada riset Kawaii S yang dipublikasikan pada jurnal Medical Food 2004, jus buah delima yang diencerkan 1.000 kali masih memiliki kandungan antioksidan yang setara dengan anggur dan blueberry.

Antioksidan ini sangat berperan untuk mengurangi kolesterol tinggi, aterosklerosis, dan darah kental, yang banyak dialami penderita stroke atau jantung koroner. Banyak penderita penyakit degeneratif mengaku lebih nyaman setelah minum jus delima.

Delima bahkan telah terkenal sebagai obat untuk kesehatan lambung. Hal ini begitu dipercaya oleh orang Islam, pasalnya sudah tertera dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Makanlah buah delima dan bagian dagingnya sekaligus, karena buah ini berfungsi membersihkan lambung.

Hal ini ternyata sejalan dengan riset yang dilakukan oleh Departement of Toxicology dan Pharmacology, Faculty of Pharmacy, Teheran University, Iran, yang dipublikasikan pada Desember 2011. Mereka menyebut seluruh bagian tanaman delima memang berpotensi sebagai obat lambung.

Bahkan Herbalis dari Kotamadya Bogor, Valentina Indrajati, menyatakan bubuk delima bisa digunakan sebagai herbal untuk mengatasi masalah radang rahim, keputihan, bahkan penyakit kelamin seperti sifilis.

Dia menyarankan agar pasien mengambil sebanyak 15 gram bubuk delima dan merebus dengan segelas air mendidih. Kemudian diendapkan dan didinginkan ampasnya. Lalu minum air rebusan itu tanpa ampas sehari 3 kali selama 2 pekan.

Di tanah air, delima putih lebih banyak digunakan sebagai herbal. Pada masa silam, nenek moyang kita sering menggunakannya untuk obat cacing atau desentri. Mereka lebih menggunakan kulit buah yang dikeringkan karena mudah diperoleh tanpa merusak pohon.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya