Gembili bagi orang Papua: tanpa tanaman ini, acara adat bisa batal digelar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Umbi Gembili I Flickr.com
Umbi Gembili I Flickr.com

Gembili merupakan tanaman umbi-umbian. Perannya sangat penting dalam adat dan budaya masyarakat di Kabupaten Merauke dan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Bahkan pada beberapa suku di Papua, gembili merupakan bagian penting dalam sebuah ritual

Misalnya pada Kanume di Kampung Yanggandur, tanpa gembili, ritual adat pernikahan tidak dapat dilaksanakan. Gembili memiliki nilai budaya yang lebih tinggi daripada nilai uang. Setiap kegiatan yang berhubungan dengan adat, umbi tanaman ini merupakan syarat mutlak yang harus digunakan.

Lalu bagaimana gembili bisa menjadi sebuah tradisi? Dan bagaimana masyarakat mempertahankan kuliner ini? Berikut uraiannya:

1. Gembili bagi tradisi

Gembili (Nelindah/Flickr)

Gembili bagi masyarakat umum merupakan tanaman yang bermanfaat sebagai sumber karbohidrat. Namun bagi masyarakat di Papua, gembili memiliki arti spesial dan nilai-nilai kultural yang sangat tinggi. Daerah yang memperlakukan istimewa gembili dapat ditemui di Merauke dan Sentani.

Di kampung Yanggandur, Kabupaten Merauke, gembili lebih dari sekadar makanan pokok. Perlakukan yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Kemtuk Gresi di Namblong, Sentani, Kabupaten Jayapura. Gembili memiliki peran strategis dalam adat dan budaya mereka.

  Pohon jabon, tanaman dengan segudang manfaat yang ratusan tahun dibudidayakan

Mariana Ondikeleuw dan Afrizal dalam jurnal berjudul Kajian Etnobotani Budaya Gembili di Papua menyebut pada etnis Kanume di Kampung Yanggandur menyatakan tanpa gembili maka ritual adat pernikahan tidak dapat dilaksanakan,

“Gembili memiliki nilai budaya yang lebih tinggi daripada uang,” tulis mereka yang dimuat Mongabay Indonesia.

Setiap kegiatan yang berhubungan dengan adat, tanaman ini syarat mutlak yang harus digunakan, seperti pada upacara bunuh babi, tusuk telinga, dan sebagai mas kawin. Bahkan pada masyarakat Sentani dalam hubungan kekerabatan, gembili dan ubi kelapa digunakan untuk mengantar anak perempuan ke kaum kerabat laki-laki.

2. Memiliki nilai spiritual

Gembili (Indra Riawan/Flickr)

Bagi etnis Kanume, selain memiliki nilai kultural, gembili juga mempunyai nilai spiritual. Hal ini dijelaskan dalam jurnal tersebut bahwa dalam mitosnya orang Kanume, gembili adalah ciptaan sang kuasa untuk memenuhi kehidupan orang Kanume.

Dikisahkan bahwa ada empat jenis tanaman utama yang diciptakan yakni: kelapa, sagu, wati, dan nai lalu pelengkap lainnya kegiatan meramu, berburu, berkebun atau bertani  dan mencari ikan di sungai. Mata pencaharian pokok Suku Kanume adalah berkebun secara tradisional dengan bergantung pada alam dan berpindah.

  Umbi Gembili, makanan alternatif untuk masa depan dari Indonesia

“Sampai saat ini gembili menjadi pangan andalan mereka,” papar keduanya.

Hal yang menarik, ternyata gembili juga memiliki jenis kelamin bagi orang Kanume. Bagi orang Kanume gembili diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, yaitu Yekel Nai (jantan) dan Sara Nai (betina). Gembuli jantan misalnya gembili aksei nsorung, nsowar perket, sedangkan betina adalah ntroke, nsall, thai dan lain-lain.

“Selain gembili lokal ada juga gembili yang diintroduksi dari luar papua, yakni dari Papua New Guinea dan sudah dibudidayakan seperti jenis Pint-pint, Sant dan NN,” paparnya.

3. Dijadikan taman nasional

Umbi Gembili I Flickr.com
Umbi Gembili I Flickr.com

Kampung Yangganur yang dihuni Suku Kanume, berada di Taman Nasional Wasur telah mendapat perhatian dari Balai Taman Nasional Wasur. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya Kampung Yanggandur sebagai masyarakat dampingan Taman Nasional dan diberikan bantuan seperti alat pertanian.

Balai Taman Nasional Wasur juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan serta Dinas Pemerintah Kampung dalam melaksanakan kegiatan ini. Kepala Kantor Balai Taman Nasional Wasur, Yarman menyebut di Kanume cocok tanam gembili ini selain sagu dan merupakan tanaman sejak leluhur mereka.

  Kisah buah kelapa yang dapat dijadikan mahar perkawinan

“Gembili, bisa panen setahun sekali. Saat panen, sudah tradisi warga menyisihkan gembili sebagai bibit cadangan musim depan. Makan gembili dalam pesta adat wajib,” jelasnya.

Sementara itu, warga Kampung Yanggandur, Fitalis Ndiken mengatakan gembili tidak boleh diperjualbelikan sembarangan. Makanan ini jelasnya sangat dihormati pemiliknya secara adat. Biasanya tersaji sebagai makanan dalam acara adat Suku Kanume.

“Mereka memiliki pesta adat dan kerabat, yang berasal dari kampung lain turut menyumbang gembili, sagu, kelapa, bunga anggin, wati (sejenis minuman adat), tebu, maupun babi lokal. Namun tanpa gembili, acara adat hambar karena menghadirkan roh leluhur Kanume,” paparnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya