Hanjeli, tananan alternatif pengganti beras yang dorong ketahanan pangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Hanjeli (Lauren Gutierrez)
Hanjeli (Lauren Gutierrez)

Hanjeli (Coix Lacrymajobi L) salah satu tanaman serealia yang berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi bahan pangan. Tanaman biji-bijian ini berasal dari ordo Glumifora dan famili Poaceae. Di Indonesia tanaman ini juga dikenal dengan nama jali atau jali-jali. 

Walau tidak terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia saat ini, bukan berarti jali tidak bermanfaat sebagai tanaman pangan. Bahkan di Sukabumi telah membudidayakannya sebagai tanaman pangan. 

Lalu apa sih hanjeli ini? Bagaimana manfaatnya sebagai salah satu makanan alternatif? Berikut uraiannya:

1. Tanaman hanjeli

Hanjeli (Lauren Gutierrez/Flickr)
Hanjeli (Lauren Gutierrez/Flickr)

Tanaman hanjeli berbentuk rumput setahun yang berbatang tegak dan besar. Tinggi batang bisa mencapai 1-3 meter. Akar tanaman bersifat kasar dan sulit dicabut. Letak daunnya berseling dengan helaian berbentuk pita dan ukuran 1-5 cm. 

Ujung daun henjeli berbentuk runcing, pangkalnya memeluk batang, dan tepinya rata. Daun dan ujung percabangan. Bunga tersebut berbentuk bulir. Buahnya seperti buah batu dan berbentuk bulat lonjong. Warna buahnya putih atau biru-ungu dan berkulit keras saat sudah tua. 

  Tumbuh subur, ini 5 lokasi pohon kurma yang ada di Indonesia

Hanjeli tersebar di beberapa negara, seperti daerah Asia Timur dan Malaysia, termasuk Indonesia. Sampai India Timur lalu menyebar ke China, Mesir, Jerman, Haiti, Hawai, Jepang, Panama, Filipina. 

Di Indonesia, hanjeli dapat ditemukan di daerah Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa. Budidaya tanaman hanjeli banyak dilakukan di daerah Jawa Barat (Jabar) . Di wilayah Jabar, masyarakat di wilayah terbiasa membudidayakannya sebagai tanaman selingan secara sporadis.

Verietas ini memang masih jarang dibudidayakan walau memiliki beragam manfaatnya. Beberapa petani misalnya membudidayakannya untuk pembuatan kerajinan. Bji-biji keras dari varietas ini biasanya digunakan untuk manik-manik pada kalung.

Sementara itu, beberapa petani membudidayakan tanaman ini sebagai bahan pangan, jenis ini berasal dari varietas Mayuen. Biji varietas Mayuen mengandung gizi setara beras.

2. Membudidayakan hanjeli

Tanaman hanjeli (Lauren Gutierrez/Flickr)
Tanaman hanjeli (Lauren Gutierrez/Flickr)

Hanjeli memiliki tekstur yang kenyal tetapi tidak lengket, berbeda dengan beras ketan. Oleh karena itu, hanjeli berpotensi diolah menjadi makanan alternatif yang enak. Di Jawa Barat masyarakat biasa mengkonsumsinya sebagai bubur, tape, dodol, dan sebagainya.

  Kesumba keling si pewarna alami dengan sejumlah manfaat

Asep Hidayat Mustopa, mantan pekerja migran di Arab Saudi berhasil mempopulerkan kembali tanaman ini yang makin terlupakan. Pria yang pulang kampung sejak tahun 2010 ini bahkan berhasil menjadikan hanjeli sebagai daya tarik utama desa wisata yang dikembangkannya bersama warga.

Asep yang tinggal di Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi ini memang memilh membudidayakan hanjeli.  Ternyata usaha budidaya hanjeli menghasilkan keuntungan yang lumayan. Namun, hingga sekian lama, hanya Asep sendiri yang menjalankan usaha itu di desanya.

Asep lantas berusaha menggerakan warga desa agar bersedia menanam hanjeli. Dia akan membeli hasil panennya. Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram. Harga yang dirinya tawarkan lebih bagus dibandingkan gabah padi yang paling tinggi harganya Rp3,5 ribu per kilogram.

Lambat laun, warga mulai menanam hanjeli hingga 50 persen dari luasan lahan milikinya, mendampingi padi. Bulir hanjeli itu sebagian dia pasarkan dalam kemasan ke berbagai daerah sehingga harga jualnya semakin berlipat, sebagian lagi dia olah jadi makanan.

  Ragam keunggulan sukun sebagai alternatif pangan potensial di masa depan

3. Ketahanan pangan

Pernak-pernik (Egle K/Flickr)
Pernak-pernik (Egle K/Flickr)

Hanjeli tak hanya dapat diolah menyerupai nasi sebagai makanan pokok sehari-hari. Tetapi bisa dikembangkan menjadi beragam jenis panganan. Bisa difermentasikan menjadi tapai, rengginang, dan keripik. Tepungnya menjadi bubur hanjeli dan dodol. Bahkan sudah ada yang dijadikan obat di Tiongkok.

Melihat potensi ini, Asep tidak hanya menggerakan warga untuk menanam hanjeli. Dirinya juga memperkenalkan program Pirus singkatan dari pipar imah diurus. Maksudnya lahan-lahan yang menganggur di sekitar rumah perlu dimanfaatkan, sehingga melengkapi budidaya hanjeli.

Pirus lantas dikembangkan menjadi program Budidaya ikan dan sayuran dalam ember (Budiksamber). Dengan begitu, konsep katahanan pangan bagi warga Mandiri menjadi semakin kokoh. Karena ada bahan makanan pokok dan berbagai produk dan turunnanya.

Gerakan ketahanan pangan ini digagas oleh Asep dan berhasil mengubah kondisi desanya menjadi lebih sejahera , ekonomi warga lebih mandiri, terutama dalam ketahanan pangan, dan tentu saja akan lebih hijau. Ladang-ladag ditumbuhi hanjeli, perkarangan dan rumah di gang sempit ditanam sayuran dan budidya ikan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya