Misterius, mengenal 3 spesies anggrek hantu yang ada di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Taeniophyllum obtusum (Terry Bottom/flickr)

Anggrek hantu (ghost orchid) merupakan salah satu jenis sub-spesies dari tanaman Anggrek yang dikenal memiliki bentuk bunga indah. Sesuai namanya, jenis anggrek satu ini misterius karena tumbuh secara tersembunyi.

Anggrek jenis ini biasanya tumbuh dengan menumpang pada sebuah pohon. Lain itu, mereka umumnya tumbuh tanpa daun, dan hanya memiliki batang, akar, serta bunga. Sehingga jika bunganya sedang tidak mekar, tak heran jenis anggrek ini tidak akan terlihat dan disebut sebagai anggrek hantu.

Bukan hanya satu, anggrek hantu pun juga memiliki banyak subspesies lagi. Mengutip National Geographic, bahkan disebutkan bahwa sebenarnya ada sebanyak 2.000 spesies anggrek hantu di dunia.

Menarik untuk dikenal, berikut contoh 5 dari 2000 spesies anggrek hantu yang dapat diketahui:

1. Taeniophyllum obtusum

Taeniophyllum obtusum (Terry Bottom/flickr)

Spesies anggrek hantu ini memiliki ciri bunga dengan perpaduan warna kuning dan putih pada hampir seluruh bagian bunganya, dan warna ungu pada bagian kepala sari. Karena bentuknya yang sangat kecil, anggrek Taeniophyllum obsutum sangat sulit ditermukan jika tidak diperhatikan secara seksama.

  Bunga kenanga, penebar wangi yang dapat mengusir nyamuk demam berdarah

Mereka bertahan hidup melalui proses fotosintesis dengan akarnya karena tidak memiliki daun. Mengenai penyebaran, anggrek hantu satu ini dapat ditemukan di hutan Cina Selatan-Tengah, Malaysia, Kamboja, dan Thailand.

Sementara itu di Indonesia, keberadaannya dapat ditemukan di hutan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Lebih detail, mereka tumbuh di hutan pegunungan primer rawa pada tanaman bakau dan kopi pada ketinggian 150 hingga 1.600 meter.

2. Taeniophyllum apiculatum

Anggrek hantu
Taeniophyllum apiculatum (bbksda-papuabarat.com)

Speises anggrek hantu satu ini memiliki sifat endemik asli Papua, dan masuk kategori yang sulit untuk ditemukan. Taeniophyllum apiculatum, sebenarnya pertama kali ditemukan dan diklasifikasikan pada tahun 1935, oleh Johannes Jacobus Smith.

Saat itu disebutkan bahwa titik penemuan awalnya berasal dari sekitar Sungai Mamberamo, Provinsi Papua. Namun, berdasarkan eksplorasi lain keberadaan satu individu juga ditemukan di Taman Wisata Alam Sorong, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.

Karakter yang paling disorot dari jenis anggrek ini adalah masa berbunganya yang membutuhkan waktu sangat lama. Lain itu, ukuran bunganya sangat kecil namun dalam satu periode berbunga dapat memekarkan jumlah yang banyak.

  Kisah buah kelapa yang dapat dijadikan mahar perkawinan

Spesies anggrek satu ini secara alami tumbuh di habitat yang teduh di hutan hujan tropis Papua, dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut.

3. Anggrek hantu Gastrodia bambu

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Komunitas Bahadur (@komunitas_bahadur)

Spesies satu ini juga secara alami menyandang gelar endemik dari Indonesia. Gastrodia bambu tumbuh secara alami di wilayah Jawa Barat dan Yogyakarta. Sesuai namanya, penamaan bambu sendiri ditujukan karena mereka tumbuh dengan menempel pada pohon bambu.

Bunga Gastrodia bambu berbentuk seperti lonceng dengan warna cokelat gelap, berukuran panjang ukuran panjang 1,7-2sentimeter dan lebar 1,4-1,6 sentimeter. Sementara itu pada bagian bibir bunganya, anggrek ini berbentuk mata tombak berwarna jingga.

Gastrodia bambu umumnya hanya muncul pada satu periode pendek yakitu sekitar 2-4 minggu) dalam satu tahun. Pola perbungaannya secara tiba-tiba akan muncul dari permukaan tanah/seresah, kemudian setelah 1-2 minggu perbungaan akan nampak layu busuk dan lenyap.

  Namanya jeruk bali, tapi bukan berasal dari Bali

Meski endemik Indonesia, jenis anggrek hantu satu ini juga ditemukan di beberapa titik lokasi hutan negara lain, salah satunya Vietnam.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya