70 persen air minum Indonesia tercemar limbah tinja, apa langkah UNICEF dan pemerintah?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Air minum (Gitu Aja/Flickr)

Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengatakan bahwa studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (Kementerian Kesehatan) pada 2020 menemukan hampir 70 persen dari 20 ribu sumber air minum rumah tangga di Indonesia tercemar limbah tinja.

Kondisi tersebut turut menyebabkan penyebaran penyakit diare, yang merupakan penyebab utama kematian balita. UNICEF berkomitmen untuk membantu pemerintah Indonesia dalam mencapai penyediaan sanitasi aman bagi masyarakat.

Lalu bagaimana data mengenai kondisi air di Indonesia? Dan apa sikap dari pemerintah mengenai hal ini? Berikut uraiannya:

1. Air minum tercemar tinja

Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengatakan bahwa studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (Kementerian Kesehatan) pada 2020 menemukan hampir 70 persen dari 20 ribu sumber air minum rumah tangga di Indonesia tercemar limbah tinja.

Kondisi tersebut turut menyebabkan penyebaran penyakit diare, yang merupakan penyebab utama kematian balita. Pernyataan ini disampaikan oleh UNICEF bersamaan dengan peluncuran kampanye untuk sanitasi aman pada Februari silam.

Pada kampanye yang bertajuk #DihantuiTai ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga-keluarga Indonesia, mengenai sanitasi aman dan dampak pencemaran sumber air oleh tinja terhadap kesehatan masyarakat.

  Kenikmatan kopi Flores yang bawa kesejahteraan petani Manggarai

UNICEF melalui kampanye itu menyerukan kepada rumah tangga Indonesia untuk memasang, memeriksa, atau mengganti tangki septiknya serta rutin menguras tangki minimal satu kali setiap tiga hingga lima tahun.

“#DihantuiTai mengambil inspirasi dari film dan acara televisi yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Di dalam kampanye ini tim ‘pemberantas tinja’ memiliki misi menyelamatkan wilayah-wilayah yang dihantui tinja,” demikian keterangan UNICEF.

Sebagai bagian dari kampanye ini, UNICEF turut meluncurkan situs www.cekidot.org yang berisi kiat-kiat praktis bagi keluarga untuk memastikan keamanan tangki septik dan informasi kontak jasa pembersihan tangki.

2. Upaya sanitasi baik

Air minum (debbie irlando/Flickr)

Perwakilan Sementara UNICEF, Robert Gass menyebut sanitasi yang aman bisa mengubah kehidupan anak-anak dan membuka kesempatan untuk mewujudkan potensi dirinya. Tetapi di Indonesia hal ini cukup sulit terwujud.

“Sayangnya, ada begitu banyak anak yang tinggal di daerah-daerah terdampak sanitasi tidak aman dan hal ini mengancam setiap aspek pertumbuhan mereka,” katanya.

Menurut UNICEF, Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam meningkatkan mutu sanitasi dasar. Tetapi angka rumah tangga yang memiliki sambungan tangki septik yang tertutup dan dibersihkan satu kali dalam lima tahun kurang dari delapan persen.

  Kerja sama Indonesia dan Turki di bidang LHK, apa programnya?

Akibatnya limbah tinja tidak terkelola dengan baik sehingga mencemari lingkungan dan sumber air sekitar. Sementara itu salah satu tantangan utama adalah meningkatkan akses ke sanitasi aman adalah kesadaran masyarakat rendah.

Disebutkan masih banyak keluarga yang belum memahami pentingnya menghubungkan toilet dengan sistem sistem pembuangan dengan pipa atau bahwa tangki septik perlu dibersihkan secara berkala.

“Sanitasi yang tidak dikelola dengan baik bisa melemahkan daya tahan tubuh anak-anak sehingga menimbulkan dampak yang permanen, bahkan kematian. Melalui kampanye ini, kami harap akan makin banyak masyarakat Indonesia yang mau lebih berperan dalam mengelola sanitasi rumah tangga demi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak serta keluarga mereka,” ucapnya.

3. Peta jalan sanitasi aman

Air (John/Flickr)

Water Sanitation and Hygiene (WASH) Specialist UNICEF Indonesia, Maraita Listyasari menyebutkan meski air minum di Indonesia tercemar, dia mengatakan ada upaya selain perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah meminimalisir penyakit.

Langkah tersebut berupa rutin melakukan penyedotan septik sebanyak 3-5 kali setiap tahunnya. Kemudian memasang WC yang benar atau terhubung dengan sistem perpipaan di mana penyakit bisa menyebar melalui manusia, dengan adanya tanah yang tercemar.

  Pesona selimut mistis Danau Kelimutu yang dijaga kicau burung arwah

“Virus bakteri bisa lewat mana saja, kalau sanitasi tidak dikelola dengan baik, maka pencemaran bisa terjadi di mana pun. WHO menunjukkan alur penyakit ini bisa masuk ke tubuh manusia, dari jari, lalat yang hinggap di makanan, lahan atau tanah, cairan dan makanan,” jelasnya.

Di sisi lain pemerintah Indonesia dalam menghadapi kondisi ini dilaporkan sedang menyusun peta jalan percepatan akses ke sanitasi yang dikelola secara aman dengan dukungan dari UNICEF dan beberapa mitra lain.

Dalam roadmap sanitation tersebut, UNICEF sudah merumuskan target akses universal sanitasi untuk memandu keseriusan daerah membenahi persoalan sanitasi seperti sampah dan juga air bersih.

“Kita juga akan mengupayakan untuk memperkuat kolaborasi dari berbagai pihak. Termasuk kolaborasi dengan pihak swasta, dengan anak-anak muda, karena semua harus saling kontribusi,” papar Chief of WASH UNICEF Indonesia Kannan Nadar.

Kannan juga mengatakan UNICEF akan meningkatkan upaya monitoring ke daerah untuk memastikan target capaian sanitasi aman bagi masyarakat secara nasional bisa tercapai. Termasuk mengembangkan inovasi atau perkembangan terkait pengelolaan air.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya