72 persen tanah pertanian Indonesia sedang sakit, bagaimana solusinya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kegiatan preservasi budaya pertanian tradisional Rojolele Delanggu (Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS)

Peneliti menyoroti¬† bahwa 72 persen dari tanah-tanah pertanian di Indonesia saat ini sedang “sakit” karena kekurangan bahan organik. Padahal pada era 1960 an, tanah di Indonesia masih bagus karena kadar organiknya masih sangat tinggi.

Melihatnya hal ini dikhawatirkan adanya bahaya dari degradasi tanah dan kepunahan tanah yang dianggap perlu perhatian utama dari pemerintah atau pemangku kepentingan. Apalagi ketahanan pangan sangat terikat dengan keberadaan tanah.

Lalu bagaimana kondisi sebenarnya tanah di Indonesia? Berikut uraiannya:

1. Tanah Indonesia sakit

Sawah (Arya Suryadi/Flickr)
Sawah (Arya Suryadi/Flickr)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti soal ketahanan pangan Indonesia. Dengan anggaran sekitar Rp92,3 triliun, Jokowi mempertanyakan hasil ketahanan pangan tersebut. Ketahanan pangan ini sangat terikat dengan keberadaan tanah di Indonesia yang bisa terancam kepunahannya.

Musababnya Guru Besar IPB University, Iswandi Anas Chaniago mengungkapkan bahwa 72 persen dari tanah-tanah pertanian di Indonesia saat ini sedang “sakit” karena kekurangan bahan organik. Menurutnya kondisi tersebut disebabkan oleh penggunaan pupuk kimia yang masih sangat tinggi.

Padahal pada era 1960 an, lanjutnya, tanah di Indonesia masih sangat bagus karena kadar organiknya masih sangat tinggi, sehingga dengan tambahan pupuk kimia pertumbuhan tanaman meloncat dua kali lipat. Hal inilah yang mengancam keberadaan tanah.

  5 gunung tertinggi di dunia, siapakah penakluk pertamanya?

“Tapi sifat manusia ingin mudahnya saja lebih memilih Urea atau SP saja daripada harus membawa pupuk organik begitu banyak, akhirnya pupuk organiknya ditinggalkan, sehingga lama kelamaan tanahnya rusak,” katanya yang dimuat dari Sariagri.

Melihat hal itu, Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Nuraini Darsa menilai urgensi dan bahaya dari degradasi tanah dan kepunahan tanah mesti menjadi perhatian utama pemerintah ataupun para pemangku kepentingan.

“Seperti halnya soal emisi karbon, banyak hasil penelitian telah menujukkan degradasi tanah dan resiko kepunahan tanah adalah bom waktu, dikaitkan dengan perubahan iklim yang dampaknya bisa mengguncang pasokan pangan dunia,” jelasnya.

2. Hanya bisa bertahan 60 tahun

Persawahan Desa Detusoko Barat, Kabupaten Ende, Flores, NTT yang menerapkan teknologi lampu perangkap hama. (Nando Watu/Pemdes Detusoko Barat)

Dirinya melanjutkan bahwa tanah adalah elemen yang hidup, di mana terdiri dari jutaan jasad renik yang hidup di setiap jengkalnya. Namun diperkirakan bahwa tanah di bumi hanya mampu bertahan hingga 60 tahun ke depan. Pasalnya penipisan tanah yang terjadi akan berpengaruh kepada nutrisi makanan yang dikonsumsi.

“Ini sudah terjadi di banyak negara. Apalagi kita tahu saat ini di Eropa sedang terjadi ketegangan antara Ukraina dan Rusia yang sedikit banyak telah mempengaruhi pasokannya harga gandum hingga ke Indonesia,” jelasnya lebih lanjut dimuat okezone.

Karena itu, lanjutnya, swasembada pangan sangat penting untuk diupayakan. Tetapi hal ini tidak akan terjadi bila produksi tanaman menjadi tidak maksimal akibat kondisi tanah di negara tersebut tidak subur. Apalagi Indonesia hingga saat ini belum masuk daftar negara yang mendukung Gerakan Selamatkan Tanah.

  Punya panorama indah, 5 negara ini ternyata tak memiliki gunung

Indonesia kini telah memiliki perangkat hukum terkait kelestarian alam dan lingkungan, apalagi isu Environment, Social, and Governance (ESG) sedang menjadi perhatian investor dan para pemangku kepentingan. Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 juga telah menganut prinsip pembangunan berwawasan lingkungan.

Namun, dalam pengamatannya terlepas dari peraturan yang ada di atas, dalam prakteknya alokasi anggaran maupun pemberian insentif bagi kegiatan pertanian atau petani pada umumnya belum bisa berjalan maksimal. Karena itu dirinya berharap komitmen ini perlu dipertajam.

3. Mendorong pupuk organik

Menanam padi (moonstar simanjuntak/Flickr)
Menanam padi (moonstar simanjuntak/Flickr)

Selain itu, Iswandi juga mendorong penggunaan pupuk organik, apalagi Indonesia mempunyai banyak sumber bahan pupuk organik, baik dari limbah peternakan, pertanian, perikanan, tempat pembuangan akhir (TPA), pabrik gula, dan hutan tanaman industri (HTI).

Menurutnya pemupukan yang berimbang antara pupuk organik dan pupuk kimia memiliki peran yang sangat penting untuk menjawab tantangan peningkatan produksi padi dan jagung secara berkelanjutan. Sehingga antara keduanya, jelasnya, tidak perlu dipertentangkan.

Selain mendorong penggunaan pupuk organik, Dewan Pakar Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Ina Sri juga menyarankan untuk mulai mengurangi takaran pupuk kimia. Menurutnya manfaat pupuk organik adalah memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah sebagai sumber hara.

  Krisis pangan mengancam, orang kaya Korut makan anjing hingga kelinci

Head of Promotion Uralkali, produsen pupuk potash (Kalium) asal Rusia, Maxim Bratchikov menjelaskan Rusia merupakan salah satu produsen KCI terbesar dunia dengan produksi mencapai 13,6 juta ton pada 2020. Sementara Uralkali menjadi produsen utama dan terbesar KCI di Rusia dengan produksi sekitar 12,3 juta ton di tahun 2021..

“Pupuk KCI berfungsi meningkatkan retensi tanaman terhadap kekeringan, racun, dan hama, serta meningkatkan kualitas buah. Pemakaian KCI pada padi meningkatkan produksi biji hingga 19 persen.”

Artikel Terkait

Artikel Lainnya