Ada 3 pulau yang terancam tenggelam di Provinsi Riau

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Abrasi di Pulau Bengkalis (Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia)

Bukan hanya Pulau Derawan, nyatanya ada sebanyak 115 pulau di Indonesia yang terancam tenggelam akibat kondisi krisis iklim. Mengutip Liputan6.com, pulau-pulau tersebut terdiri dari pulau sedang dan pulau kecil.

Lebih detail, selain ujung Jakarta dan wilayah Pantai Utara, sejumlah pulau yang dimaksud tersebar di kawasan Bali, Nias, dan sepanjang Pantai Barat Sumatra. Bisa diduga, penyebab detailnya adalah karena naiknya permukaan air laut.

Dari sekian banyak pulau terancam tenggelam yang dimaksud, ada tiga pulau yang prediksi tenggelamnya tak kalah mencuri perhatian. Tiga pulau yang dimaksud berada di kawasan terluar Provinsi Riau, yang terdiri dari Pulau Rupat, Pulau Bengkalis, dan Pulau Rangsang. Lebih detail, ketiganya adalah kawasan lahan atau pulau bergambut.

Seperti apa sebenarnya wujud pulau dan detail ancaman tenggelam yang dialami ketiga pulau tersebut?

1. Penambangan pasir laut di pulau Rupat

Pengehntian izin ambang Pasir di Pulau Rupat (Dok. Walhi Riau via Mongabay Indonesia)

Memiliki luas sekitar 1.500 kilometer persegi, saat ini pulau Rupat dihuni oleh sekitar 55 ribu jiwa penduduk. Selain abrasi dan krisis iklim, hal lain yang membuat pulau satu ini terancam tenggelam adalah adanya aktivitas penambangan pasir laut.

  72 persen tanah pertanian Indonesia sedang sakit, bagaimana solusinya?

Mengutip salah satu sumber, penambangan yang dimaksud dilakukan oleh perusahaan bernama PT Logo Mas Utama. Selain menimbulkan ancaman tenggelam, aktivitas tersebut juga memengaruhi hasil tangkapan nelayan sekaligus dampak rusak menuju hilangnya ekosistem laut di pulau tersebut.

Said Amir Hamzah, selaku Aliansi Tokoh Masyarakat Riau Peduli Pulau Rupat (ATMRPPR), menjabarkan bagaimana dampak aktivitas penambangan yang terjadi. Masih menurut sumber yang sama, pihaknya mengaku menyaksikan sendiri bagaimana pepohonan di tepi pantai Pulau Rupat terlihat bertumbangan.

“Daratan semakin tergerus, tak lama lagi pulau-pulau di sekitar hanya tinggal kenangan,” ujar Said.

2. Abrasi ombak selat Malaka di Pulau Bengkalis

Pohon bakau yang bertahan di tengah ancaman abrasi Pulau Bengkalis (Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia)

Tak jauh dari Rupat, ada satu pulau dengan luas lebih kecil yang juga menghadapi ancaman sama, yakni Bengkalis. Dengan luas sekitar 911 kilometer persegi, ancaman abrasi yang dialami pulau ini muncul akibat ombak dari Selat Malaka.

Mengutip Mongabay Indonesia, menurut keterangan warga tanah perkebunan/pertanian di tepi pulau itu bisa hilang mencapai 10-15 meter setiap tahunnya, karena tergerus ombak.

  Gempa terjadi lagi di Garut, tapi tak sedahsyat gempa Cianjur

Lebih lanjut, diketahui jika wilayah utara Pulau Bengkalis merupakan bagian yang mengalami abrasi terparah. Rata-rata laju abrasi yang terjadi dalam kurun waktu 26 tahun terakhir sudah mencapai sebesar 59 hektare/tahun. Ditambah lagi, laju abrasinya mencapai 32,5 meter/tahun.

Sebenarnya, warga setempat sudah berupaya melakukan pencegahan dengan menanam mangrove. Namun menurut keterangan salah satu warga yakni Arbangi, hal tersebut tidak mampu menjadi solusi dari permasalahan abrasi yang ada.

“Jangankan anakan mangrove yang baru ditancapkan, tanaman kelapa yang sudah berbuah saja bisa ditumbangkan ombak,” terangnya.

3. Pulau Rangsang

Abrasi Pulau Rangsang di Kabupaten Kepulauan Meranti (Dok. Gatra)

Satu lagi pulau yang juga mengalami ancaman abrasi paling besar, adalah Rangsang yang padahal hanya memiliki luas sekitar 867,86 kilometer persegi. Ancaman tenggelam yang dihadapi juga terjadi karena pembukaan lahan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) pada tahun 2009.

Sementara itu mengutip penjelasan WALHI, Rangsang memiliki tingkat abrasi yang lebih parah dibandingkan dengan Pulau Bengkalis. Disebutkan bahwa pengurangan daratan Pulau Rangsang sejak 1990-2014 mencapai luas 854 hektare atau 36,08 hektare rata-rata per tahun.

  Hari Habitat Sedunia, mengetahui deretan kota terbaik dan terburuk untuk ditinggali

Hingga saat ini, perlu dilakukan berbagai upaya kolaborasi untuk membuat ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil yang dimaksud bisa teratasi. Menurut BRIN, upaya yang dimaksud dapat berupa mitigasi abrasi dan adaptasi dari situasi yang saat ini sudah terjadi, dan pengetatan izin lahan pertambangan pasir atau industri perkebunan dan konsesi hutan tanaman industri.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya