Ancaman longsor mengintai 10 titik kecamatan di Jakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Longsor Jakarta (Dok. BPBD Jakarta)

Bencana alam layaknya longsor tidak hanya terjadi pada daerah lereng dan tebing pegunungan di kawasan perbukitan atau dataran tinggi. Nyatanya, di kawasan dengan dataran rendah sekalipun layaknya Ibu Kota Jakarta, ancaman tersebut tetap ada.

Seperti yang disampaikan baru-baru ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mengumumkan potensi longsor yang bisa terjadi pada bulan April. Secara keseluruhan, tercatat jika ada 10 wilayah kecamatan yang diintai oleh aktivitas tanah bergerak.

Di mana saja wilayah kecamatan yang dimaksud?

1. Mayoritas Jakarta Selatan

Longsor di kawasan Ciganjur (Dok. Damkar Jakarta Selatan via ANTARA)

Menurut data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, titik yang berpotensi terjadi longsor berada di 10 wilayah Jakarta. 10 wilayah tersebut terdiri dari 8 kecamatan di Jakarta Selatan (Jaksel), dan 2 kecamatan di Jakarta Timur (Jaktim).

Lebih detail, 8 kecamatan di Jaksel terdiri dari Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Mampang Prapatan, Pancoran, Pasar Minggu, dan Pesanggrahan. Sementara itu untuk wilayah Jaktim terdiri dari kecamatan Kramat Jati dan Pasar Rebo.

Sebenarnya, setiap bulan BPBD memang kerap merilis potensi wilayah yang berpotensi mengalami fenomena tanah longsor dan bergerak. Namun pengumuman di bulan ini diimbau untuk diperhatikan lebih serius dan sigap, demi menghindari hal yang tak diinginkan di momen Ramadan.

  3 negara ini ‘langganan’ mengalami gempa, apa penyebabnya?

”Informasi yang dirilis setiap bulannya bukan berarti seluruh wilayah kecamatan tersebut masuk ke dalam kategori rawan. Namun hanya pada wilayah tertentu yang berada pada kawasan lereng di tepi kali atau sungai saja. Hal ini perlu dipahami agar masyarakat tidak panik, namun tetap waspada,” jelas Isnawa Adji, selaku Kepala BPBD DKI Jakarta,

2. Riwayat longsor yang merenggut nyawa

Wilayah sungai yang berpotensi longsor (chris’ 1st account/Flickr)

Bukan tanpa alasan jika pihak terkait atau BPBD meminta pengumuman ini ditanggapi dengan seksama. Pasalnya di tahun-tahun sebelumnya, bencana serupa yang terjadi di kawasan Jakarta telah menelan korban jiwa yang tak sedikit.

“Sepanjang tahun 2017 hingga 2021 terdapat total sebanyak 57 kejadian tanah longsor yang tersebar di berbagai lokasi di Jakarta,” tambah Isnawa.

Lebih lanjut, dirinya mengungkap jika mayoritas kejadian tanah longsor terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi pada lokasi yang berada di sekitar kali/sungai. Untuk itu, warga yang tinggal di sekitar sungai diminta untuk selalu waspada.

Jika melakukan kilas balik, tercatat jika sejak tahun 2017-2021 ada sebanyak 57 peristiwa tanah longsor yang terjadi di Jakarta. Kejadian tersebut tersebar di wilayah Jaksel (34 kejadian) dan Jaktim (21 kejadian). Sementara itu untuk detail wilayah kelurahan yang paling banyak terjadi, terdiri dari Srengseng Sawah (6 kejadian) dan Ciganjur (4 kejadian).

  Potensi tsunami 20 meter ancam Jakarta, bagaimana langkah mitigasinya?

3. Mengenal tanda dan antisipasi longsor

Turap kali, salah satu upaya mencegah longsor (Dok. Pemprov Jakarta)

Gerakan tanah atau lebih dikenal longsor merupakan peristiwa perpindahan bahan pembentuk lereng (berupa tanah, batuan, bahan timbunan atau campuran diantaranya) yang bergerak ke bawah atau keluar lereng.

Tanah longsor bisa terjadi karena berbagai macam pemicu seperti curah hujan, gempa bumi, erosi, hingga aktivitas manusia. Karena itu, sangat penting untuk memahami tanda atau ciri longsor bagi semua pihak terutama mereka yang tinggal di wilayah dekat sungai.

Secara umum, masyarakat dapat mengetahui ciri-ciri tanah longsor di sekitar berupa adanya lapisan tanah/batuan yang miring ke arah luar. Selain itu, tanah atau dataran yang kemungkinan akan mengalami longsor juga ditandai dengan ciri berikut:

  • Muncul retakan tanah yang membentuk tapal kuda.
  • Ada rembesan air pada lereng atau bidang tanah yang miring.
  • Nampak pohon dengan batang yang terlihat melengkung.
  • Perubahan kemiringan lahan yang sebelumnya landai menjadi curam.

 

Ada beberapa upaya mitigasi yang bisa dilakukan untuk menghadapi bencana satu ini, terutama dalam bentuk pencegahan. Pertama, masyarakat diharapkan untuk tidak membangun rumah di atas/bawah/bibir tebing atau lereng, dan tidak mendirikan bangunan di sekitar sungai.

  Cara orang Jawa membaca pertanda bencana alam

Selain itu, semua pihak juga diharapkan tidak menebang pohon, dan menghindari untuk membuat kolam di atas lereng. Untuk wilayah Jakarta, salah satu upaya antisipasi yang saat ini banyak dilakukan adalah dengan melakukan turap. Yakni pembuatan dinding untuk menahan pergeseran tanah.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya