Dikenal tahan banting, ratusan ikan sapu-sapu mati mengambang di sungai Jakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi ikan sapu-sapu yang mati (Dennis Derby/Flickr)

Membahas mengenai pencemaran sungai memang tidak akan ada habisnya. Apalagi kalau menyorot sungai di Ibu Kota Jakarta yang sebagian besar sudah tercemar oleh sampah dan limbah industri hingga rumah tangga.

Suci Tanjung, Direktur Eksektif WALHI Jakarta pernah mengungkap tingkat pencemaran sungai di Jakarta yang ia ketahui pada Selasa (12/4/2022).

“Kalau kita mau lihat kondisi sungai di Jakarta, memang data terakhir dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta yang melalukan uji coba 120 titik sungai di Jakarta itu keseluruhannya ada di fase pencemaran sedang dan berat.” ujar Suci, mengutip Liputan6.com.

Terbaru, bukti pencemaran sungai di Jakarta kembali mencuri perhatian setelah tersorot sebuah fenomena yang mengejutkan beberapa hari lalu. Yakni mengenai ratusan bahkan ribuan ikan sapu-sapu yang ditemukan mati mengambang.

1. Apa penyebabnya?

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Jakarta Informasi (@jakartainformasi)

Kejadian ini pertama kali terungkap pada hari Senin (11/7), ketika beredar sebuah video yang memperlihatkan ikan sapu-sapu mati dan mengambang di salah satu aliran sungai Ibu Kota. Setelah ditelusuri, rupanya kejadian tersebut berlokasi di sepanjang sungai Kali Baru yang juga melewati Jalan Raya Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur.

  5 gunung tertinggi di dunia, siapakah penakluk pertamanya?

Lain itu bangkai ikan juga banyak ditemukan menumpuk di pinggir kali Pintu Air Cililitan. Menanggapi kejadian ini, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta disebut sudah mengambil sampel air untuk dianalisis. Untuk sementara muncul dugaan jika ikan sapu-sapu mati akibat limbah jeroan kurban, meski penyebab tersebut masih belum bisa dipastikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Yogi Ikhwan, selaku Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

“Jadi sampai saat ini kita belum bisa pastikan itu (kematian) disebabkan oleh (limah) jeroan hewan kurban dan lain sebagainya.” ujar Yogi, mengutip Narasi Newsroom.

2. Pertanda sungai Jakarta tidak baik-baik saja

Ikan sapu-sapu yang mati (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Kejadian matinya ratusan bahkan ribuan ikan sapu-sapu ini dinilai menjadi pertanda bahwa pencemaran sungai Jakarta sudah semakin parah. Pasalnya, ikan sapu-sapu sendiri selama ini dikenal sebagai satu-satunya ikan yang ‘tahan banting’ untuk hidup di sungai yang sudah tercemar.

Sekadar informasi, ikan sapu-sapu sendiri merupakan spesies ikan invasif yang aslinya berasal dari perairan Amazon bagian negara Brasil. Di habitat aslinya, ikan bernama latin Hypostomus Plecostomus ini biasa memakan lumut dan alga.

  Mengenal subak, warisan budaya dunia asal Bali yang dijadikan Doodle Google

Namun ketika sudah bersifat invasif, mereka akan memangsa ikan-ikan di habitat asli suatu sungai. Ikan sapu-sapu juga dikenal sebagai spesies yang mampu hidup di perairan yang sudah tercemar karena limbah dan zat berbahaya.

Mereka mampu hidup di air yang memiliki kadar oksigen rendah. Karena itu pula, ikan sapu-sapu kerap dijadikan parameter kualitas air di sungai tempat mereka hidup. Sehingga ketika ratusan ikan sapu-sapu ditemukan mati, maka bisa dipastikan jika pencemaran yang terjadi sudah melewati batas.

“Ketika ikan sapu-sapu mati, bisa dipastikan kadar oksigen itu sangat rendah sekali. Sehingga memang bisa kita pastikan terjadi pencemaran.” tambah Yogi.

3. Tingkat pencemaran sungai Jakarta

Sungai di Jakarta (Bambang Dwi Atmoko/Flickr)

Kembali menyorot data Dinas Lingkungan Hidup Jakarta yang diungkap oleh WALHI, kondisi sungai Jakarta memunculkan pertanyaan mengenai kondisi kesehatan masyarakat yang bermukim di bantaran sungai.

Pasalnya, WALHI menemukan temuan sampah mikroplastik yang berasal dari berbagai sumber. Lebih tepatnya, sebesar 72,7 persen pencemaran berasal dari limbah domestik atau yang berasal dari pemukiman. Kemudian 17,3 persen dari limbah perkantoran, dan 9,9 persen berasal dari limbah industri.

  5 sungai yang semakin mengering akibat perubahan iklim dan penggunaan berlebihan

WALHI juga menyorot kenyataan bahwa ikan sapu-sapu kerap dijadikan sumber pangan dan dikonsumsi oleh masyarakat pinggiran Jakarta.

“Ditemukan E. coli tinja dan logam berat yang mengontaminasi ikan-ikan di Jakarta. Apalagi kalau kita lihat konsumsi ikan sapu-sapu cukup tinggi bahkan masuk industri pangan kecil. Akhirnya kondisi kesehatan manusia juga patut kita curiga terganggu,” jelas Suci.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya