Fenomena batu merah delima dari dalam gunung di Tasikmalaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Taman Jasper (Perimhagi.Blogspot.com)

Kabupaten Tasikmalaya memiliki taman bumi dengan formasi batuan yang unik dan khas di kawasan Sungai Cimedang, Kecamatan Pancatengah. Batu-batu tersebut memiliki warna yang mencolok mata hasil jejak terobosan magma gunung api purba.

Kawasan Pancatengah dulunya merupakan kompleks gunung api bawah laut yang aktif sekitar 25 juta-30 juta tahun lalu. Saat itu, kompleks gunung api tersebut aktif membuat kawasan terasa hangat.

Lalu apa saja kekayaan yang dikandung taman wisata tersebut? Dan bagaimana proses terbentuknya? Berikut uraiannya:

1. Taman dari letusan gunung

Taman Jasper (Indopermatamulia.blogspot.com)

Kabupaten Tasikmalaya memiliki taman bumi dengan formasi batuan yang unik dan khas di kawasan Sungai Cimedang, Kecamatan Pancatengah. Batu-batu tersebut memiliki warna yang mencolok mata hasil jejak terobosan magma gunung api purba.

Dalam buku Merahnya Batu Merah: Taman Jasper Tasikmalaya yang ditulis oleh Andri Slamet Subandrio dari Institut Teknologi Bandung mengatakan Kawasan Pancatengah dulunya adalah kompleks gunung api bawah laut yang aktif sekitar 25 juta-30 juta tahun lalu.

“Saat itu kompleks gunung api tersebut aktif membuat kawasan terasa hangat. Berbagai terumbu karang dan hewan laut bercangkang keras, seperti kerang, hidup nyaman,” tulisnya yang dimuat Kompas.

Dikatakannya proses pemanasan dan semburan material gunung api juga berperan memperindah kawasan tersebut. Proses ini, dikatakannya mengeluarkan mineral logam, timah hitam, seng, tembaga, hingga sulfat, dan barium dari perut bumi.

  Soe Hok-gie dan Mapala sebagai perjalanan mencintai alam dan rakyat

“Hasilnya terendapkan dan terpanaskan selama jutaan tahun, lalu mengeras menghasilkan ornamen batuan merah, kuning, dan coklat,” paparnya.

Bahkan beberapa di antaranya dihiasi urat kuarsa mengisi retaknya. Batuan itulah yang kini dikenal dengan nama jasper. Ciri fisik jasper lainnya sangat keras dengan indeks 7 skala Mohs atau dua tingkat di bawah permata.

Disebut oleh Andri, tekstur batuan ini cenderung halus dan mengilap. Di beberapa batuan juga terlihat cangkang kerang sebagai bukti bahwa dulu pernah ada hewan laut yang tinggal di sekitar wilayah tersebut.

2. Keindahan batuan

Taman Jasper (Feni Kertikasyari/Facebook)

Cornelius Helmy dalam Menikmati Taman Jasper Tasikmalaya yang dimuat Kompas menyatakan kini batuan jasper itu menyeruak di antara aliran Sungai Cimedang sepanjang 70 kilometer yang berhulu di Gunung Bongkok hingga pesisir pantai Kalapagenep.

Dikatakannya salah satu titik terindah ada di Kampung Pasirgintung, Desa Cibuniasih. Cornelius menyebut tempat ini adalah titik pandang terbaik karena pengunjung bisa melihat hamparan batu jasper yang berserakan di lahan sekitar 5 hektare.

“Para ahli menyebutnya sebagai taman jasper raksasa,” ucapnya.

  Tata ruang Situs Gunung Padang yang dikelilingi mitos dan spiritual

Di taman jasper ini, ucapnya, tersebar batu berwarna merah, kuning, dan coklat berbagai ukuran. Salah satu yang mencolok adalah batu jasper haseupan karena bentuknya mirip dengan kukus nasi masyarakat Sunda.

Suhro, warga Kampung Pasirgintung, Desa Buniasih, Kecamatan Pancatengah menyarankan pengunjung datang saat musim kemarau selama Juni-Agustus. Karena saat itu, pengunjung bisa menikmati keindahan jasper yang berada di balik jernihnya air sungai.

Selain itu, jelasnya, pada saat yang sama pengunjung juga bisa melihat migrasi kepiting air payau, hingga menikmati tangkapan ikan air tawar warga setempat. Karena jika beruntung, ucapnya para pengunjung bisa menikmati hasil tangkapan ikan bersama warga.

“Bila belum puas melihat di sekitar sungai, pengunjung bisa menikmati keindahan jasper di pekarangan rumah, kebun, dan sawah warga. Warna padi yang hijau akan memberikan alternatif keindahan lain pada mata pengunjung,” paparnya.

3. Tidak hanya batuan

Taman Jasper (Perimhagi.Blogspot.com)

Budi Brahmantyo yang merupakan pegiat wisata minat geologi menyatakan keindahan Cimedang tidak hanya pemandangan batu jasper. Tetapi saat air surut, pengunjung bisa berenang menikmati sejuknya air Cimedang.

Selain itu para penggemar arung jeram pun bisa menuntaskan hasratnya. Wisatawan bisa menggunakan perahu karet untuk menyusuri sungai mulai dari daerah sekitar hulu di Rantobatang hingga Pasir Gintung sepanjang 9 km.

  Wisata Gunung Tangkuban Perahu, layaknya bertamu ke rumah para dewa

Tetapi, jelas Budi, bila ingin menambah perjalanan bisa dilanjutkan dari Pasir Gintung ke sekitar Jembatan Cicantang, sepanjang sembilan kilometer. Pengunjung akan disuguhi rute yang lebih menantang dengan melalui wilayah batuan gamping.

“Bahkan bila memiliki waktu lebih banyak, pesisir Pantai Kalapagenep layak dikunjungi menggunakan jalur darat. Di tempat ini ada susunan lava gunung api yang unik. Lavanya membentuk kolom bulat atau persegi yang memanjang ke atas mirip the Giant Causeway di Irlandia,” kata geolog dari Institut Teknologi Bandung tersebut.

Akan tetapi, seperti mayoritas tempat eksotis lainnya di selatan Jawa Barat, Taman Jasper Cimedang terkendala infrastruktur. Karena itu, pegiat wisata geografi T Bachtiar berharap adanya dukungan dari pemerintah.

Selain itu sinergitas dengan kawasan wisata andalan lainnya juga harus dilakukan, seperti Pantai Pameungpeuk di Garut atau Pantai Pangandaran dan Cukang Taneuh (Green Canyon) di Ciamis.

“Selain bisa memberikan pendapatan ekonomi bagi daerah, kawasan wisata ampuh melindungi kelestarian kawasan ini. Sebelumnya, kawasan ini pernah digerus penambangan dan ekspor jasper ke luar negeri. Puluhan ton jasper diminati kolektor batu mulia asal Jepang,” ujarnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya