Hutan Gunung Rinjani terbakar, ancaman laten yang terjadi pada musim kemarau?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kebakaran hutan (Greenpeace/Flickr)

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) seluas 10,34 hektare terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Kebakaran hutan terjadi di sekitar lokasi Gunung Mentar yang berada di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Setiap musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan selalu rawan terjadi di TNGR. Kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu ancaman TNGR. Balai TNGR telah menyiapkan sejumlah antisipasi, mulai dari pembentukan tim sampai penjagaan hingga akhir tahun. 

Lalu bagaiman kebakaran ini kerap terjadi? Dan apa langkah pemerintah setempat? Berikut uraiannya:

1. Kebakaran di Rinjani

Kebakaran hutan (Ya saya inBali timur/Flickr)

Karhutla seluas 10,34 hektare terjadi di kawasan TNGR. Dilansir dari rilis laman Instagram resmi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (4/8/2022), setelah tim melakukan pengecekan lokasi hotspot (titik api) ternyata hutan terbakar di Gunung Rinjani tepatnya di wilayah Seksi pengelolaan Taman Nasional (SPTN).

Kemudian Tim Pengendali Kebakaran Hutan (Dalkarhut) dengan personil gabungan dari Balai TNGR, KPH Rinjani Timur dan Koramil Sembalun, serta mahasiswa PKL Uram segera melakukan pemadaman di lokasi di sekitar Pal TN 305 pukul 12.30 WITA.

  4 sungai di dunia yang bersumber dari 'mata air surga'

“Karhutla yang terjadi merupakan jenis kebakaran permukaan dengan vegetasi yang terbakar antara lain rumput, alang-alang, perdu dan dedaunan kering,” tulis TNGR.

Ada beberapa kendala yang dihadapi tim gabungan saat melakukan pemadaman Karhutla, seperti topografi areal yang terbakar cenderung terjal dan curam, kecepatan angin yang relatif tinggi yang menyebabkan kebakaran cepat menjalar dan meluas, vegetasi yang mudah terbakar serta kurangnya ketersediaan air di lokasi.

Namun, kendala kemudian bisa di atasi sekitar pukul 16.30 WITA, dan api dapat dinyatakan padam pada pukul 17.00 WITA. TNGR pun menghimbau masyarakat agar menjaga kelestarian alam, terutama bijak ketika menggunakan api di dalam hutan.

2. Sering terjadi

Gunung Rinjani (cameroonjb/Flickr)

Ancaman karhutla selalu mengintai kawasan TNGR, pada musim kemarau, kobaran api bisa tiba-tiba muncul menghanguskan sabana dan pepohonan di pegunungan yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

Hampir setiap tahun, api menghanguskan sebagian kawasan sabana dan pepohonan besar di atas gunung tertinggi kedua di Indonesia, dengan ketinggian 3,805 mdpl ini. Meskipun demikian, karhutla di Provinsi NTB, termasuk di kawasan Gunung Rinjani, tidak separah di provinsi lainnya.

  Gempa terjadi lagi di Garut, tapi tak sedahsyat gempa Cianjur

Dilansir dari Antaranews, data Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menyebutkan ratusan hektare sabana hangus terbakar. Api membakar kawasan yang didominasi rumput ilalang pada 19 September 2015. Kejadian sejak siang hari tersebut berlangsung hingga beberapa hari lamanya.

Peristiwa serupa terjadi pada 9 Oktober 2017. Api membakar rumput ilalang dan pohon cemara karena cuaca sangat panas. Api begitu cepat menjalar ke segala penjuru kawasan TNGR, Total kawasan yang terbakar mencapai puluhan hektare. 

Perjungan memadamkan api yang dilakukan petugas yang dibantu masyarakat dan TNI-Polri pun relatif sulit. Kepala BTNGR Sudiyono menyebut upaya memadamkan api di dalam kawasan Gunung Rinjani relatif sulit. Pasalnya lahan yang terbakar berada pada kemiringan yang sulit dijangkau oleh petugas.

3. Kebakaran permukaan

Gunung Rinjani (cameroonjb/Flickr)

Sudiyono menyebut kebakaran di TNGR masih tergolong kebakaran permukaan karena hanya membakar rerumputan kering. Hal ini berbeda dengan di Kalimantan dan Sumatra yang tergolong kebakaran bawah karena menghanguskan lahan gambut.

Kebakaran permukaan memang tidak begitu berdampak besar terhadap habitat satwa. Pasalnya, hewan-hewan berukuran besar memiliki insting menyelamatkan diri ke kawasan yang ditumbuhi pepohonan besar ketika terjadi kebakaran padang rumput.

  Surga yang nyaris hilang itu bernama Raimuti

Namun hal yang paling diantisipasi adalah kebakaran bawah menjadi kebakaran atas, yakni terbakarnya pepohonan hingga kobaran api menjulang tinggi. Hal itu bisa terjadi jika api yang membakar padang rumput dibiarkan menjalar ke dalam kawasan hutan yang ditumbuhi pepohonan.

“Apalagi bila hal itu tidak ditangani serius, kobaran api juga bisa merembet ke pemukiman padat penduduk yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani, khususnya desa-desa di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur,” paparnya.

Untuk mencegah terjadinya kebakaran hebat, BTNGR terus melakukan sosialisasi tentang bahaya pembakaran lahan masyarakat di 38 desa lingkar Gunung Rinjani. Sosialisasi ini dilakukan oleh petugas yang tersebar di beberapa desa.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya